16- Pathetique

2.7K 132 14
                                        

Apa kalian udah baca cerita dek Nana ?

Ini adalah akhir dari cerita ini sekaligus Dek Nana
Selamat membaca 🥰
Jangan lupa voment ya juseyo ❤️
———————————————————————-

Ini adalah akhir dari cerita ini sekaligus Dek Nana Selamat membaca 🥰Jangan lupa voment ya juseyo ❤️———————————————————————-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



A lovely morning at Seoul,

Sebuah helaan nafas berat terdengar dari seorang pemuda tampan. Ia berdiri, memandang sebuah lukisan seorang raja yang diketahui memimpin kerajaan dinasti Joseon pada tahun 1427. Di sampingnya terlihat seorang pemuda yang sedikit lebih pendek, berbalut kemeja putih rapi yang dimasukkan ke dalam celana kain warna coklat muda.


"Kenapa ceritanya menyedihkan.." lirih pemuda tampan itu yang seolah protes. Niatnya untuk mencari spot foto di museum ini, malah berubah menjadi sendu setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh salah satu staff balai konservasi cagar budaya, Huang Renjun.



Renjun tersenyum. "Maaf ya. Tapi karena wajahmu semirip itu dengan si raja, aku jadi merasa harus ceritain kisah ini ke kamu"


"Terus, pengawal ratu gimana ?"


"Menjalani hidup yang memang sudah harus tetap berjalan."


"Sendirian ?"


"Bersama ratu yang selalu di hatinya."


Senyum di wajah Renjun semakin manis. Namun itu tak cukup membuat pemuda bernama Jeno ini merasa lega. Hatinya masih tetap bersedih merasakan apa yang menimpa raja dan ratu tersebut. Terutama si pengawal yang paling malang nasibnya selama cerita ini didengar.


"Kalau aku jadi si pengawal ratu, sudah pasti memilih ikut mati dibandingkan harus hidup sendirian."


"Berarti kalau aku besok mati, kamu juga ikut mati ?"


Jeno tak menjawab pertanyaan sang kekasih. Ia diam sejenak sebelum kemudian berjalan mendekati Renjun. Ia bawa pemuda itu ke dalam dekapannya. Tetap dengan wajah sendu, tangan Jeno bergerak mengusap surai hitam milik Renjun yang begitu lembut disentuhnya.



"Tentu. Mana bisa aku hidup tanpa kamu."


Renjun tersenyum sambil membalas pelukan kekasihnya. "Sejujurnya, aku juga."



***

Kalau Tuhan memberikan satu kesempatan untuk mengabulkan keinginannya, terdapat satu mimpi sederhana yang dimiliki oleh Mark. Yaitu pulang bekerja, memasuki rumah dengan disambut aroma masakan sedap menggugah nafsu makannya. Namun bukan masakan yang penting. Melainkan siapa yang memasak dan siapa yang tersenyum menyambut kepulangannya.


Begitu kakinya melangkah menginjak lantai kayu rumah, Mark berjalan menuju dapur. Senyumannya merekah melihat seseorang sedang sibuk memasak disana.


Your Majesty : MarkminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang