Tak ada cerita tentang perang di kerajaan Joseon. Raja dan Ratu mereka amat dicintai oleh rakyatnya. Tetapi semua berubah saat Jaemin harus turun tahta dari posisinya sebagai Ratu. Huang Renjun menggantikan Jaemin dan bersanding bersama Jeno yang sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin bersemilir menyejukkan sore ini. Mentari masih terlihat namun tak setinggi siang tadi. Mark dan Jaemin duduk di sebuah pondok yang berada tak jauh dari tepian danau. Tiupan angin menemani keduanya yang duduk berhadapan.
"Sakit ?"
Yang ditanya menggeleng pelan. Jaemin tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya. Tangan kanannya yang lentik, mengusap luka sayat di wajah Mark dengan perlahan. Ia oleskan bubuk tanaman dari tabib agar luka Mark bisa segera sembuh.
"Jangan dengarkan Jeno. Walaupun kamu kalah hari ini, kamu tetap yang paling bisa menjagaku selama ini." Ujar sang ratu.
Hati Mark meluruh mendengar ucapan ratunya. Ia tak bisa menyembunyikan seulas senyum bahagia. Tanpa sang ratu tahu, Mark memandang Jaemin cukup lama tanpa pernah berhenti tersenyum. Hatinya meletup bahagia.
Jaemin mengalihkan mata. Tatapannya bertemu dengan milik Mark. Hati Mark mencolos. Senyum di wajahnya langsung hilang tersembunyi di balik raut kaku. Tetapi matanya terkunci pada manik mata coklat bening indah itu.
***
"Arghhh!!!"
Brak!!!
Tangan Jeno menyapu semua barang di atas mejanya. Suara benda terjatuh terdengar bwgitu keras menggema di kamar. Kasim Kim meringsut ngeri merasakan amarah Jeno membuncah tinggi. Kini sang raja duduk dengan wajah geram dan nafas memburu.
"Berani-beraninya dia !"
Kasim Kim membungkuk. "Yang mulia... tolong tenanglah yang mulia..."
"Bagaimana bisa aku tenang !?" Bentak Jeno. "Jaemin membantah dan mempermalukanku ! Kerasukan apa anak itu hah !?"
Kasim Kim tak menjawab. Terlalu takut untuk sekedar bicara. Jeno yang marah bisa saja memenggal kepalanya hidup-hidup. Kasim Kim masih ingin mempertahankan nyawanya.
"Aku harus memberinya pelajaran." Geram Jeno sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
***
Wushh!
Angin berhembus kuat melewati jendela. Satu-satunya lentera lilin yang menyala, otomatis mati dan membuat seluruh kamar Jaemin menjadi gelap. Sang ratu langsung bangun dan duduk. Jaemin benci gelap.