Tak ada cerita tentang perang di kerajaan Joseon. Raja dan Ratu mereka amat dicintai oleh rakyatnya. Tetapi semua berubah saat Jaemin harus turun tahta dari posisinya sebagai Ratu. Huang Renjun menggantikan Jaemin dan bersanding bersama Jeno yang sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sang ratu tampak berjongkok di tepi sungai memandangi kupu-kupu di atas daun teratai. Tangannya perlahan bergerak meraih hewan tersebut. Namun kupu-kupu itu malah terbang dan meninggalkan Jaemin yang merengut kesal. Ia pun berdiri dibantu oleh Mark.
"Padahal aku sudah menunggunya sejak lama..." guman Jaemin.
Mark hanya tersenyum sambil memandang wajah cemberut Jaemin yang menggemaskan. Ingin ia mencubit pipi putih tersebut layaknya bakpau. Tapi niatnya hanya dapat terucap dalam hati sambil memandang kagum pada sang ratu.
"Bisakah kau carikan aku satu kupu kupu ?"
Mark mengangguk. Jangankan satu kupu-kupu, sebuah gunung pun akan dibuat bila Jaemin yang meminta. Mark siap memberikan segalanya asalkan Jaemin bahagia.
Sang ratu tersenyum dengan perasaan bangga pada Mark. Tentu, pengawal setianya ini pasti tak akan mengecewakan ratunya.
Pembicaraan keduanya berhenti disaat Mark dan Jaemin mendengar suara langkah mendekat. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Terlihat gerombolan dayang dan permaisuri Renjun berjalan ke arah mereka.
"Yang mulia ratu." Sapa Permaisuri sambil menundukkan kepala memberi hormat pada Jaemin begitu sampai.
"Bagaimana kabarmu Renjun-ah ?"
Berbeda dengan Jaemin yang menunjukkan wajah ramah, Renjun malah hanya memberikan eskpresi datar. "Bukankah aku yang harusnya berkata demikian ? Yang mulia ratu apa sudah dengar bahwa keputusan turun tahtamu sudah ditetapkan oleh yang mulia raja barusan di aula ?."
"Sudah ditetapkan ?"
"Sudah. Acara penobatannya dilakukan besok pagi."
Senyum di wajah Jaemin lenyap seketika berganti wajah bingung dan terkejut. Jeno ternyata sama sekali tidak melibatkannya pada pertemuan terkait penurunan tahtanya. Padahal Jaemin adalah ratu. Ia seharusnya diundang untuk datang. Jaemin merasa sedikit terluka menyadari hal tersebut.
Namun, tak butuh waktu lama Jaemin mengulum senyum kembali menutupi lukanya. "Selamat kalau begitu untuk acara penobatanmu besok."
Renjun mengerutkan keningnya. Reaksi Jaemin benar-benar diluar dugaan. Ia merasa bahwa senyuman Jaemin tidak seharusnya muncul disaat seperti ini.
"Kenapa kau tersenyum ?"
"Renjun-ah, bukankah impianmu dulu memang menjadi ratu ? Aku ingat saat kecil, kau selalu menggunakan mahkota bunga yang kubuat. Aku senang impianmu menjadi nyata."