Tak ada cerita tentang perang di kerajaan Joseon. Raja dan Ratu mereka amat dicintai oleh rakyatnya. Tetapi semua berubah saat Jaemin harus turun tahta dari posisinya sebagai Ratu. Huang Renjun menggantikan Jaemin dan bersanding bersama Jeno yang sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Renjun sudah mendengar semua cerita Mark. Tak ada kata apapun yang dapat ia ucapkan setelah tahu semuanya. Renjun hanya diam sambil memandangi sang ratu. Jaemin masih tampak tertidur lelap di sela demamnya.
Renjun menarik nafas dalam. Menyesal ? Jangan ditanya lagi. Sungguh teramat besar penyesalan yang membebani hatinya. Ia benar-benar tak mengerti mengapa Jaemin masih bersikap baik dan peduli. Padahal sang ratu juga tidak bodoh untuk menyadari betapa Renjun membencinya.
Jaemin ternyata tidak berubah. Anak itu masih naif pada dunia. Terlalu baik dan peduli.
Sejujurnya, Renjun tidak membenci Jaemin tanpa alasan. Mereka telah lama tumbuh bersama di istana sebagai calon ratu dan selir raja. Renjun saat itu memiliki hubungan dengan Jeno yang masih menjadi pangeran mahkota. Jaemin juga tahu. Ia justru yang selalu membantu Renjun untuk bertemu dengan Jeno disela-sela waktu luang.
Namun tiba-tiba penobatan berubah. Jaemin diangkat menjadi ratu sedangkan Renjun hanyalah selir. Padahal Renjun sudah terpilih menjadi ratu atas permintaan Jeno. Tetapi semua berubah di hari penobatan raja dan ratu. Renjun harus menahan sakit hati melihat Jeno bersanding dengan Jaemin. Ditambah setelah Jaemin menjadi ratu, hubungan Jeno dan Renjun merenggang. Jeno bersikap dingin. Terutama saat Jaemin jatuh sakit karena racun nerium.
Seluruh istana menunjuk ke arah Renjun sebagai pelaku yang meracuni ratu. Meskipun tidak ditemukan bukti apapun yang mengarah padanya, tetapi seluruh istana percaya akan hal tersebut. Renjunlah yang paling memungkinkan meracuni ratu dengan alasan sakit hati.
Helaan nafas berat keluar dari Renjun. Sang selir berdiri. "Dayang Kim, beritahu aku jika Nana sudah bangun."
Dayang Kim membungkuk. "Baik."
Renjun melangkah pergi meninggalkan kamar Jaemin. Berlama-lama disana berhasil membuat Renjun mengingat semua kenangan lama yang kembali melukainya. Perlu waktu baginya untuk menerima segala perasaan bercampur aduk dalam hatinya.
***
Mark mengunjungi paviliun Jaemin lagi pagi ini. Ia datang sendirian dan menyamar sebagai pelayan yang diutus oleh tabib. Ia membawa beberapa obat yang harus Jaemin minum. Senyum di wajahnya merekah kala disambut oleh Jaemin yang sudah lebih baik. Sang Ratu duduk di atas matras sambil tersenyum menyapa Mark yang berdiri di ambang pintu.