Aksel Prov
Alan pergi sejak seminggu yg lalu, ayah, kakek Toni, kakek Dion dan juga nenek Tiwi sangat terpukul dan menyesali yg pernah terjadi tapi mereka juga tau itu tak merubah apapun. Aku menemukan kotak ini saat aku memasuki kamar Alan tiga hari sejak kepergiannya, isi kotak ini adalah gambar yg dibuat Alan sejak kecil dimana dia selalu menggambar ayah menggandengnya, dan kemudian saat ayah mulai memukulinya tulisan dibelakangnya yg membuat aku dan ayah menangis "ayah memukulku karena ayah sayang padaku dia ingin menunjukkan dengan cara yg beda". Hingga aku menemukan gambar yg terakhir dia buat saat hari ulangtahunnya, dia menggambar ayah memeluknya dan hanya dia beri judul 'kelak'.
Aku melihat sekeliling kamarnya, dia benar kamarnya tak lebih besar dari kmar mandi kmarku, lemari, tempat tidur sudah sangat usang terasa begitu sangat dingin karena tak ada alat penghangat di ruangan ini. Aku merasa malu pada Alan, dia yg notabenenya adalah putra disini tidak mendapatkan apa yg ku dapatkan. Aku berjalan menuju jendela saat kakiku tersentuh seseuatu dibawah meja, sebuah box kayu berukuran sedang membuatku membukanya. Airmataku kembali menetes saat melihat tulisan yg ditulis ala anak kecil menggunakan cat," HBD DAD" dan banyak bungkusan kado yg masih terbungkus rapi dengan jumlah yg sama dengan usia ayah.
Bramantyo Prov
Sejak kepergian Alan, aku lebih banyak diam dan mengunjungi makamnya yg bersebelahan dengan ibunya. Aku kembali melakukan salah, setelah membuat Laura melahirkan sebelum waktunya yg membuatku kehilangan orang yg aku cintai dan membenci Alan. Bahkan aku hanya sekali menyentuhnya seumur hidupnya, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku.
"Lan, hari ini Aksel memberiku sebuah boks kayu dia bilang menemukannya di kamarmu" kataku berbicara pada nisan Alan. "Kado-kadomu sungguh indah, bagaimana bisa kau memberiku hadiah disaat ulangtahunku sedangkan aku justru menyiksamu saat ultahmu, maafkan ayahmu nak" kataku sambil menangis. Kado terakhirnya hanya sebuah kertas bertuliskan
"I'm soryy Dad"
