Hari ketiga ujian, Davian menjalankannya dengan sangat lancar. Walau kepalanya terus terpikirkan bagaimana keadaan sang Kakak. Davian benar-benar ingin segera menyelesaikan hari ujiannya agar dia dapat menjelaskan semua pada Ravian.
Dia ingin segera mengatakan pada sang Kakak bahwa semua sudah menjadi takdir Tuhan, dan Davian tidak akan masalah jika mimpinya harus dia kubur. Karena Davian yakin jika Tuhan sudah menuliskan takdir indah untuknya nanti.
Davian memandang ruang obrolan bersama Ravian, dia kembali mengingat jika Kakaknya itu selalu mengatakan akan menjemputnya. Bahkan Ravian terhitung sering menanyakan bagaimana dia ketika di sekolah. Davian sangat rindu semua itu, Davian rindu Kakaknya.
Tak jarang jika di rumah Davian selalu ingin berbicara dengan Ravian, tapi dia menahan sekuat tenaga keinginannya itu. Karena Davian ingat apa yang dikatakan Satya dan Azka, jika Kakaknya itu memerlukan banyak waktu untuk menenangkan diri. Juga untuk dirinya, Davian memerlukan waktu untuk menyusun penjelasan pada sang Kakak.
“Dav,” panggil Jarga yang memang kelas ujiannya sama dengan Davian.
Davian melirik ke arah Jarga dengan pandangan bingung. “Kenapa?”
“Lo dari tadi bengong, fokus dulu. 10 menit lagi istirahat selesai terus fisika. Kalau lo gak fokus bahaya,” ucap Jarga sambil menepuk bahu Davian lalu kembali ke tempat duduknya.
Davian menghela napas pelan dan kembali melihat ruang obrolannya dengan Ravian. “Kalau gue maksain ngobrol sama bang Ravi juga yang ada nanti gue gak ada waktu buat belajar. Karena pasti ngobrolnya gak sebentar,” gumamnya.
“Davian, kamu-- eh itu maksudnya lo belum ngumpulin hp. Nanti dimarahin pengawas,” ujar Tiara yang memang satu ruangan juga dengannya, dan kebetulan perempuan itu duduk di depannya.
Davian tersenyum lalu mengangguk. “Thanks. Ris Ris, nitip dong!" Pintanya pada temannya yang kebetulan akan mengumpulkan handphone juga.
"Oh iya Ra, ngomong-ngomong gue denger katanya uang kas udah ketutup?” tanya nya setelah memberikan handphonenya pada Haris.
Tiara tersentak pelan lalu mengangguk. “Iya, di bantu sama bu Siska juga.”
“Bagus deh. Emang niatnya mau diapain? Dibeliin hadiah buat bu Siska?”
“Itu-- anu—huft—kata Ilona sebagian buat ngasih hadiah ke bu Siska. Kalau sebagian lagi tergantung anak kelas. Mau di ambil lagi atau mau buat main.”
Davian mengangguk mengerti. Tapi tiba-tiba pikirannya teringat akan ucapan teman sekelasnya beberapa hari lalu.
Jika Davian pikirkan lebih jauh, memang Tiara jika berinteraksi dengannya selalu gugup. Tak sekali dua kali Davian menyadari itu sebenarnya, tapi Davian pikir karena Tiara memang sulit berinteraksi makannya perempuan itu selalu gugup.
Tapi bila Davian ingat lagi, Tiara itu tidak pernah gugup jika berinteraksi dengan yang lain. Hanya ketika berinteraksi dengannya perempuan itu selalu gugup.
“Ra, gue mau tanya deh,” ucap Davian membuat Tiara menegang dan perlahan mendongak menatap Davian yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah bangkunya.
“Ke—napa?”
“Gue nyeremin ya buat lo?”
“Temen gue temen gue,” gumam Jarga yang sejak tadi memang memperhatikan interaksi keduanya.
Tiara menggeleng ribut, “eh, enggak kok,” jawabnya panik.
“Loh? Tenang,” ucap Davian karena menyadari kepanikan Tiara. “Gue nanya doang, serius. Soalnya lo tiap kita interaksi selalu gugup. Gue pikir gue nyeremin buat lo. Atau gue pernah gak sadar buat salah sama lo ya? Kalau iya gue min--,”
KAMU SEDANG MEMBACA
DaviRavi
FanfictionDavian harus rela masa depan yang dia impikan hilang demi menyelamatkan nyawa ibu tirinya. Tapi sayang, ibu tirinya malah menganggapnya sampah. Walau begitu, Davian tidak pernah membenci ibu tirinya. Karena ibu tirinya lah yang sudah melahirkan Ravi...
