Bertahan. Satu Kata yang Cukup Sulit diLakukan

353 24 3
                                        

Teman-teman Ravian juga Davian bersama-sama menunggu di rumah sakit. Menunggu dokter yang sedang menangani Ravian dan Davian juga menunggu kedua orangtua Adik Kakak itu.

"DI MANA ANAKKU?"

Teriakkan itu membuat mereka menatap pada perempuan yang sedang berlari ke arah mereka. Itu Ibu Ravian, juga ada Ayah Davian yang berada di sebelah perempuan itu.

"Di mana anak Tante? Jawab!" Devi bertanya sambil mengguncangkan tubuh Haksa. "Jawab Haksa! Di mana anak tante?"

"Sayang, tenang dulu ya," ucap Tomas sambil merangkul pundak istrinya untuk menenangkan.

Haksa terdiam sejenak, dia melirik pintu ruangan di mana terdapat Ravian juga Davian yang berada di dalamnya. Sudah hampir satu jam, tapi dokter belum keluar sama sekali untuk memberikan kabar keadaan keduanya.

"Mereka lagi di tanganin sama dokter Om, Tante," ucap Jerio.

"Kalian, bisa jelaskan kenapa ini bisa terjadi?" tanya Tomas.

Azka menghela napas pelan, "tadi saya sama yang lain lagi kumpul sama temen kelas Om. Terus Davian tiba-tiba telepon saya, tapi suara dari Davian gak jelas sama sekali. Dan pas itu juga saya denger ada suara ribut, tapi saya gak tau apa bener atau enggak. Dan Davian juga gak ada bales panggilan saya. Jadi saya, Satya, Jarga sama Seno pergi ke tempat di mana Davian sama kak Ravian janjian--,"

"-Pas di tengah jalan saya malah liat Davian sama kak Ravian yang gak sadarin diri di tengah jalan. Dan gak lama saya dan yang lain ketemu sama kak Jefino dan yang lain. Juga ada beberapa polisi yang dateng sama kak Jefino," jelas Azka.

Jefino mengangguk, "cerita Jefino sendiri gak beda jauh sama Azka, Om. Saya tadi telepon Ravian. Tapi Ravian malah minta saya nyusul ke tempat dia sambil bawa polisi, karena dia liat ada yang di keroyok. Mungkin pas itu Ravian belum tau kalau Davian yang jadi korbannya."

Devi menangis sesegukan mendengarnya. Dia berkali-kali mengucapkan nama Ravian dengan lirih. Wajah perempuan itu bahkan sudah basah karena air mata.

Sedangkan Tomas hanya bisa mengelus pundak istrinya dan berdoa dalam hatinya untuk keselamatan kedua anaknya.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Tomas.

Haksa menggelengnya kepalanya. "Polisi masih nyelidikin tempat kejadiannya Om. Mereka lagi nyoba cari cctv di sekitar sana dan jejak-jejak yang ada di sana."

"Davian, Ravian, Ayah mohon kalian bertahan."

Beralih pada keadaan Ravian dan juga Ravian, mereka berdua sedang di tangani oleh dokter dengan sekuat tenaga. Keadaan Davian cukup stabil, para dokter hanya perlu menangani luka memar di sekujur tubuh Davian.

Berbeda dengan Ravian. Keadaan lelaki itu cukup parah, terutama pada luka tusuk di punggungnya. Dan saat dilakukan pemeriksaan lebih dalam, ternyata tempurung kepala belakang Ravian juga mengalami keretakan akibat pukulan yang dialaminya.

Saat sedang menangani Ravian, lelaki itu tiba-tiba saja meringis. Tak berselang lama, Ravian mengerjapkan matanya dan itu membuat dokter yang menanganinya terkejut.

"Nak, bertahan ya," ucap sang Dokter.

Ravian melirik ke arah samping, dan dia mendapati Davian yang masih tak sadarkan diri sedang ditangani oleh dokter.

"Dok, tolong selamatkan Adik saya," lirih Ravian.

Sang Dokter mengangguk. "Saya dan yang lain akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kalian berdua. Bertahan ya."

Ravian menggeleng pelan. "Kasih ginjal saya buat dia Dok."

"Tidak bisa. Kondisi kamu cukup parah Nak. Saya tidak--,"

DaviRaviCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang