Hal paling baik yang pernah terjadi dalam hidup Senayla Hazel adalah menjalin kasih dengan Satya Wardhana, teman kantor Papanya.
Diantara sekian juta pria di dunia, Satya satu-satunya pria sempurna bagi Senayla. Tak hanya membuatnya merasa lebih ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kakak bener nggak apa kan?" tanya Mama sesaat sebelum meninggalkanku. Aku mengangguk saja seraya mencoba tersenyum tipis untuk menenangkan Mama meski tetap nggak berniat mengeluarkan sepatah kata.
Kendati begitu aku yakin banget Mama sebenarnya tahu betapa aku sedang merasa sangat jengkel saat ini. Tapi Mama selanjutnya mengatakan, "Baik-baik di rumah ya. Mama dan Papa nggak bakal lama kok."
Aku mengangguk sekali lagi. Gak lama setelah itu Mama benar-benar meninggalkanku. Pintu kemudian aku kunci terlebih dahulu sebelum langkahku bergerak mencapai kamar dengan cepat.
Ingin sekali kulampiaskan kejengkelanku hari ini dengan menjerit. Tapi aku tahu itu cuma akan membuang tenagaku saja. Dunia kenapa terasa nggak adil banget bagiku?
Tadi Papa dan Mama berangkat untuk menghadiri acara undangan makan malam dari teman Papa, Om Adolf. Kemarin Papa sudah berjanji akan membawaku ikut serta juga karena anak kedua Om Adolf ini adalah sahabatku, Kak Anna. Sebab itulah aku bersemangat banget sejak kemarin. Aku bahkan sengaja mengerjakan tugasku lebih awal supaya bisa main hingga sedikit lebih larut atau mungkin menginap seperti biasa.
Tapi semua itu gagal total. Aku disuruh Papa untuk tetap tinggal menjaga rumah karena Sabrina dan Sabitha nggak mau ikut. Mereka kompak membujuk Papa untuk membiarkan mereka tetap tinggal sampai pada akhirnya Papa nggak tega lalu menuruti mereka—namun dengan juga menumbalkanku karena aku anak sulung sehingga suka nggak suka harus bertanggung jawab menjaga mereka berdua.
Padahal itu adalah kesempatan terakhirku bertemu dengan Kak Anna untuk tahun ini sebelum ia kembali ke Tasikmalaya. Kak Anna cuma bisa kembali ke Jayapura disaat-saat tertentu seperti libur Ramadhan atau libur Idul Fitri. Sementara untuk libur Idul Adha, belum tentu Kak Anna bisa karena terlalu sebentar.
Kuhempaskan tubuh ke ranjang sembarangan. Memandangi langit-langit kamarku dengan tatapan nanar. Gak bisa kubendungkan lagi tatkala airmata menetes dari sudut mata.
Ini mungkin terdengar sepelea tau bahkan memberi kesan betapa egois aku sebagai anak sulung. Tapi masalahnya aku sudah tinggal berangkat saja. Akan lebih baik jika Papa melarangku untuk ikut dari awal supaya aku nggak terlihat bodoh dalam balutan gaun jingga ini.
Dari sekian banyak saudaraku, kenapa harus aku yang menjadi anak sulung? Selama ini aku selalu mengalah dan berusaha banget untuk nggak bertingkah egois. Akan tetapi kenapa disaat aku benar-benar ingin menjadi egois untuk sesaat, dunia menjadi begitu kejam dengan nggak membiarkan itu terjadi?
Menyebalkan banget.
Apa karena niatku bertemu Kak Anna juga sekalian ingin bertemu Adam? Sebab seingatku, aku memang selalu berakhir apes jika hendak berusaha menemui Adam.
Adam Kaindra itu adiknya Kak Anna sekaligus mantanku. Ya, tentu saja skenario mengenai cinta tumbuh diantara kedua teman masa kecil itu sudah bukan hal asing lagi bagi hukum alam dunia ini, kan? Tapi bagaimana Adam bisa menjalin hubungan denganku hingga hubungan tersebut kemudian berakhir belum ingin kubahas untuk saat ini.