6. Ayok Selingkuh

1.1K 149 18
                                        

Kejadian seminggu lalu, saat Roseline meminta Revano untuk menjauhinya, membuat pikiran lelaki itu semakin suram. Pasalnya, gadis itu enggan memberitahu alasan di balik permintaannya tersebut.

Roseline hanya mengatakan bahwa tidak pantas jika Revano terlalu dekat dengannya, terlebih mereka masih sama-sama memiliki pasangan. Walaupun hubungan Roseline dan Jeriko berjalan secara sembunyi-sembunyi, serta hubungan Revano dengan Una berada di ambang ketidakjelasan.

Roseline terlihat sangat tunduk pada Jeriko. Revano yakin, sebenarnya lelaki itulah yang menyuruh Roseline menjauhinya. Dulu, saat Jeriko belum mengetahui kedekatan mereka, Roseline dengan senang hati berteman dengan Revano. Bahkan, gadis itu terang-terangan menunjukkan kebahagiaannya ketika ada seseorang yang mau mendengarkan dan berbagi cerita dengannya.

Namun kini, Roseline justru ingin menjauh.

Tok... tok... tok...' Suara ketukan pintu kamar terdengar.

"Eno, makan dulu yuk," ucap Sena dari balik pintu kamar Revano.

Tak ada jawaban. Sena pun membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Ia melihat putranya berbaring di kasur.

"Sayang, kamu belum makan dari siang. Ini sudah malam, Nak," ucap Sena lembut.

"Kamu gak lapar?" tanyanya heran. Tidak biasanya Revano menunda makan.

Sena menggeleng pelan, lalu mendekat dan duduk di tepi kasur sambil mengelus lengan Revano. "Sayang, makan dulu. Nanti kamu sakit."

"Gak, Bun. Duluan aja. Eno belum lapar," jawab Revano sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

"Lho, kok gitu?" Sena semakin bingung. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Revano paling tidak bisa menahan lapar. Jangan-jangan anaknya sedang punya masalah.

"Eno..." Sena mencoba menyingkirkan bantal dari wajah Revano.

Terlihat jelas, Revano sedang bersedih.

"Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama Bunda. Bunda janji gak bakal ngeledekin kamu atau cerita ke Ayah," ucap Sena tulus. Ia ingin menjadi tempat berlabuh bagi putranya.

Mungkin selama ini perhatian yang ia dan Halim berikan memang kurang. Kesibukan pekerjaan membuat mereka jarang benar-benar hadir untuk Revano. Sena merasa menyesal, setidaknya sekarang ia ingin memperbaiki itu.

Mendengar ucapan ibunya, Revano sedikit tergerak. "Tapi janji ya, Bun. Jangan bilang siapa-siapa, termasuk Ayah, dan jangan ledekin Eno."

Revano merasa canggung harus menceritakan masalah hati pada ibunya. Ia sudah remaja—terlalu kekanak-kanakan rasanya untuk mengadu soal perasaan.

"Iya, Bunda janji. Tapi makan dulu yuk," kata Sena tegas.

Akhirnya, mereka turun ke bawah dan makan malam bersama dengan tenang. Halim, ayah Revano, masih berada di luar negeri karena urusan pekerjaan, sehingga makan berdua sudah menjadi hal biasa bagi mereka.

"Jadi, kamu mau cerita apa?" tanya Sena setelah selesai makan.

"Hmm... jadi Eno suka sama satu cewek, Bun. Namanya Roseline," kata Revano langsung ke inti.

"Terus?"

"Tapi Eline udah punya pacar."

Mendengar itu, Sena sedikit tersedak minumannya.

"Eh, Bun, gak apa-apa?" panik Revano.

"Uhuk... uhuk... gak apa-apa. Lanjut," jawab Sena sambil menepuk dadanya.

Revano minum sebentar sebelum melanjutkan. "Awalnya baik-baik aja. Kami berteman, asyik ngobrol, cerita ini itu—pokoknya kayak orang PDKT. Eno juga sempat ungkapin perasaan, dan kami sepakat buat tetap berteman. Tapi seminggu lalu dia tiba-tiba menjauh dan minta Eno gak dekat lagi sama dia."

STOLEN GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang