Cania berdiri membeku, matanya menatap sosok Juani yang tiba-tiba muncul dari belakang Roseline. Dalam hatinya, gadis itu berpikir keras: "Jadi gadis yang dulu aku tolong ini namanya 'Seline'? Kok bisa ada di rumah Juani? Apa hubungannya dengan mereka?"
"Sel-. Juani, dia pacar lo?" tanya Cania dengan hati-hati, suaranya sedikit bergetar karena penasaran sekaligus cemas.
Juani dan Roseline saling berpandangan begitu mendengar pertanyaan itu, kemudian tersenyum kecil sambil menahan tawa. Mereka berdua tahu bahwa Cania salah paham—tanpa fakta yang jelas, gadis itu langsung membuat kesimpulan sendiri.
Tidak ingin ikut campur, Roseline memutuskan untuk masuk lebih dulu.
"Aku masuk duluan yaa," ucapnya pada Juani dan Cania sambil tersenyum manis, lalu melangkah masuk ke rumah.
Dengan sifat keras kepala dan kecenderungan berpikir negatif, Cania sudah membuat kesimpulan sendiri sebelum tahu kenyataan yang sebenarnya. Saat menyadari bahwa Juani ternyata belum memiliki pacar, hatinya sedikit lega, meski masih diselimuti rasa penasaran dan bingung. Ia bertanya-tanya, mengapa selama ini mereka begitu dekat jika ternyata Juani tidak berkomitmen.
Tidak ingin mengganggu Juani, Cania berkata cepat, "Aduh, sorry, gue gak bermaksud ganggu waktu lo berdua. Gue kesini cuma pengen ngembaliin jaket yang waktu itu lo pinjemin ke gue."
Karena kesibukannya sebagai model dengan jadwal padat, Cania baru bisa mengembalikan jaket Juani sekarang. Jaket itu dulunya dipinjamkan Juani agar Cania tidak kehujanan ketika pulang dari sekolah.
"Nih, makasih ya. Gue cabut dulu," ujar Cania sambil menyerahkan paperbag berisi jaket Juani yang sudah dicucinya, lalu berjalan menjauhi pintu rumah.
"Cania!" panggil Juani, mengejar gadis itu.
Ia berlari kecil, meraih tangan Cania, dan menatapnya serius. "Cania, dengerin dulu. Lo tuh kebiasaan ya main nyimpulin sendiri seenaknya."
Cania yang keras kepala berusaha melepaskan tangannya, tapi Juani menatapnya dengan tegas.
"Masuk dulu kalau mau tahu."
Melihat ketegasan Juani, Cania akhirnya menurut. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan Cania tak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Loh... rame," gumamnya saat pandangannya menangkap pemandangan ruang tamu.
Di sana, orang-orang yang sudah dikenalnya sedang berkumpul, bermain game di ruang tamu. Revano duduk santai sambil bercanda di samping Roseline, sedangkan Bima dan Milo serius memusatkan perhatian pada permainan Jenga. Di bawah mereka, Jeena, adik Juani, duduk tekun menumpuk balok-balok kayu ke atas.
Semua menghentikan aktivitasnya begitu melihat Cania berdiri di belakang Juani.
"Loh, Cania??" kata Bima heran, tidak menyangka gadis itu datang.
Jeena hanya bisa menganga. Wajah Cania pun terlihat sama bingungnya seperti mereka.
Juani menoleh ke belakang dan menegur lembut, "Makanya jangan suka buruk sangka dulu." Kemudian ia berjalan menghampiri teman-teman dan adiknya.
Melihat Cania masih diam di tempatnya, Juani sedikit geregetan. "Gak usah bengong, sini buruan duduk," ucapnya dengan nada sinis tapi bercampur hangat.
Dengan ragu-ragu, Cania melangkah mendekat dan akhirnya duduk di samping Juani. Teman-teman Juani menatapnya penuh tanda tanya, seolah meminta penjelasan atas situasi yang mendadak ini.
"Hmm, jadi gini, gue baru mau bilang, sebenernya gue lagi deket sama Cania," kata Juani sambil menggaruk dagunya yang terasa gatal meski tanpa jenggot.
"Sejak kapan, anjirr?" reflek Milo membuka mata lebarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomanceDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
