Mereka saling berjabat tangan dengan sportif, menandai dimulainya pertandingan. Saat Revano bersalaman dengan Jeriko, ia merasakan genggaman Jeriko yang kuat. Tatapan tajam Jeriko, penuh ketegangan, membuat Revano menyadari adanya permusuhan terselubung di antara mereka.
Dan akhirnya, pertandingan dimulai.
Pertandingan basket biasanya terdiri dari empat babak, masing-masing berdurasi sepuluh menit, dengan jeda singkat antara babak pertama dan kedua, serta antara babak ketiga dan keempat. Pada babak pertama, Tim 12 IPS 4 berhasil memimpin dengan perolehan skor 20 : 15, menunjukkan keunggulan mereka di awal permainan.
Babak kedua berlangsung sengit. Tim 12 IPA 2 berhasil memangkas jarak skor dengan sangat tipis, menjadi 20 : 19. Momentum ini terus berlanjut hingga babak ketiga, di mana Tim 12 IPA 2 kembali unggul sedikit, tetap dengan selisih yang sangat tipis. Meski begitu, secara keseluruhan, Tim 12 IPA 2 masih tertinggal dari Tim 12 IPS 4.
Saat babak ketiga berakhir, skor menunjukkan Tim 12 IPS 4 mengumpulkan 58 poin, berarti mereka hanya memerlukan 17 poin lagi untuk memenangkan pertandingan. Sementara itu, Tim 12 IPA 2 masih membutuhkan 20 poin tambahan agar bisa mengejar kemenangan.
Saat jeda antara babak ketiga dan keempat, Tim 12 IPA 2 melakukan pergantian pemain. Yogi masuk menggantikan Dimas yang sedikit mengalami cedera pada kakinya. Meskipun strategi yang diterapkan tetap sama, fokus utama pada babak terakhir adalah memperkuat pertahanan karena Tim 12 IPS 4 diprediksi akan gencar menyerang.
"Lempar, Yog!" teriak Juani saat tim lawan mencoba merebut bola.
Yogi mengikuti perintahnya, melempar bola basket tepat ke tangan Juani. Dengan sigap, Juani menggiring bola menuju ring lawan. Saat hampir mendekati ring, seorang penyerang atau shooting guard dari sayap kanan memanfaatkan posisi kosong.
"Kasih gue, Juani!" teriak Revano sebagai kapten sekaligus shooting guard Tim 12 IPA 2.
"SHOOT!!" balas Juani sambil melepaskan tembakan.
Revano segera mengontrol bola setelah lemparan Juani, melompat cepat, dan melepaskan tembakan tiga poin yang berhasil masuk. Sorak sorai terdengar memekakkan telinga, membakar semangat tim dan penonton. Setelah mencetak poin, Revano segera berlari ke belakang untuk mempertahankan timnya dari serangan balik lawan.
Suasana arena dipenuhi teriakan bergemuruh. Ketegangan, kegembiraan, dan adrenalin bercampur, menciptakan hiburan yang tak terlupakan bagi seluruh siswa SMA Patrisula.
Selain permainan yang seru, daya tarik fisik para pemain menambah sensasi tersendiri. Saat mereka berlari, meloncat, menyingkirkan rambut, dan mengeluarkan keringat, hal itu menimbulkan daya tarik yang membuat penonton perempuan tak bisa menahan decak kagum.
Babak keempat dimulai, Tim 12 IPA 2 memulai dengan baik dan berhasil unggul. Namun Tim 12 IPS 4 mulai tertekan. Untuk memecah konsentrasi lawan, mereka mencoba menggunakan taktik licik.
"Miloo!" jerit Juani, mengarahkan bola ke Milo. Milo menerima, menggerakkan bola ke arah ring lawan, namun Tim 12 IPS 4 berhasil merebutnya, mengakhiri upaya Milo. Bola pun dibawa kembali ke arah ring 12 IPA 2.
Saat akan melemparkan bola, upaya lawan terhenti. Revano berhasil merebut bola dengan cepat, bagaikan kilat menyambar. Ia berlari membawa bola ke area lawan, namun tiba-tiba...
"BUUGHH!"
Revano terjatuh setelah bertabrakan dengan Jeriko. Meskipun tampak seperti kecelakaan, sebenarnya Jeriko sengaja melakukannya. Selain memancing emosi Tim 12 IPA 2, Jeriko juga ingin membalas dendam pribadi kepada Revano karena sebelumnya ia terlihat berbicara dengan Roseline.
"Sorry, gak sengaja," kata Jeriko dengan nada datar, tanpa menampakkan rasa bersalah saat melihat Revano kesakitan.
Roseline yang menyaksikan dari tribun merasa sangat cemas. Revano memegangi pinggangnya, wajahnya menunjukkan rasa sakit, sementara Jeriko tampak acuh tak acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomanceDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
