"Mama?" seru Roseline dengan nada terkejut begitu melihat sosok yang sudah lama ia rindukan berdiri di hadapannya.
Perempuan yang dirindukannya itu tersenyum hangat saat mendengar suara anak semata wayangnya—anak yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik dan anggun. Tanpa ragu sedikit pun, keduanya segera saling mendekap dalam pelukan erat, seolah ingin menebus waktu dan jarak yang selama ini memisahkan mereka. Rindu yang tertahan lama akhirnya luruh dalam keheningan.
"Kenapa Mama gak kasih tahu kalau mau pulang?" tanya Roseline setelah pelukan itu perlahan terlepas.
"Kejutan, sayang," jawab Cecilia ringan, disertai senyum ceria yang tak pernah berubah.
Kepulangan ini sebenarnya telah lama direncanakan oleh kedua orang tua Roseline. Namun, mereka sengaja merahasiakannya agar bisa menghadirkan kejutan manis untuk putri kesayangan mereka—kejutan yang diharapkan mampu menghapus rasa sepi yang sempat mengisi hari-hari Roseline.
Roseline yang masih diliputi perasaan campur aduk menghentakkan kakinya pelan, menyerupai anak kecil yang sedang mengambek. "Ihh, nyebelin!" gerutunya kesal, meski tak lama kemudian ia justru tertawa kecil dan kembali memeluk sang ibu dengan manja.
Tiba-tiba, terdengar suara batuk kecil dari arah belakang. "He-em, Papa dilupain, nih?"
"Papa!" seru Roseline sambil mengangkat kepalanya. Ia segera melepas pelukan dari Cecilia dan berlari menghampiri Tio, ayahnya. Tanpa banyak kata, mereka pun berpelukan hangat, saling melepas rindu yang selama ini terpendam.
Hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi Roseline. Setelah sekian lama terpisah oleh kesibukan dan jarak, akhirnya keluarga kecil mereka bisa kembali berkumpul dalam satu atap, berbagi tawa dan kehangatan yang selama ini dirindukan.
Di ruang keluarga, mereka duduk berdampingan di atas sofa. Tio menatap putrinya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu sekaligus perhatian. "Gimana sekolahmu, Seline?"
"Baik, Pah," jawab Roseline mantap.
"Beneran?" Tio kembali memastikan, ingin yakin bahwa tidak ada masalah yang luput dari perhatian mereka.
Roseline mengangguk cepat, meyakinkan ayahnya bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.
Tio pun tersenyum lega. Ia dan Cecilia sempat merasa khawatir harus meninggalkan Roseline sendirian demi pekerjaan. Namun, melihat putrinya kini tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan kuat, kekhawatiran itu perlahan mereda.
"Oh iya, besok kita ada acara pertemuan. Kamu dandan yang rapi, ya, sayang," ujar Cecilia, memotong percakapan mereka.
Roseline terkekeh kecil. "Emangnya aku kalau keluar gak pernah rapi?"
Cecilia menghela napas pelan. "Maksud Mama, lebih proper, ya."
"Ohh~," Roseline membentuk mulutnya menjadi huruf O. "Emangnya kita mau ke mana, Ma?"
"Rahasia. Tapi Mama yakin kamu bakal suka," jawab Cecilia, menyimpan kejutan yang sengaja tak ingin ia bocorkan lebih dulu.
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk berangkat. Roseline mengenakan gaun mini berwarna putih yang sederhana, namun memancarkan kesan elegan. Warna putih itu memberikan nuansa bersih dan tenang, sekaligus menonjolkan sisi anggun dirinya dengan cara yang lembut.
Roseline berjalan sedikit di belakang kedua orang tuanya menuju sebuah restoran. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat pandangannya menangkap sosok yang akhir-akhir ini berusaha ia hindari. Seorang pria muda duduk berhadapan dengan seorang lelaki paruh baya—sosok yang sangat ia kenali.
"Jeriko," gumam Roseline lirih.
Nama itu pernah mengisi hampir seluruh ruang di hari-harinya.
Pernah.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomanceDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
