"Yuk, masuk," ucap gadis itu sambil menarik lengan kekar lelaki tersebut.
Setelah kegiatan belajar berakhir, dua remaja beda jenis kelamin itu dengan cepat melesat keluar dari area sekolah.
Tentu saja, mereka tidak langsung pulang bersama. Roseline menunggu Revano di halte bus yang harus ditempuh dengan berjalan kaki beberapa puluh meter dari sekolah.
Hari ini adalah hari bebas Roseline. Sang kekasih memberitahu bahwa ia tidak akan mampir ke apartemennya karena ada urusan, sehingga hari ini Roseline bisa mengajak teman barunya makan bersamanya.
Begitu pula dengan Revano, yang kini jarang berurusan langsung dengan Una. Hubungan mereka kini hanya sebatas chat dan di sekolah, Una biasanya mendatanginya duluan, tetapi selalu diabaikan oleh lelaki tampan itu.
"Ini lo mau traktir atau gimana?" tanya Revano sambil duduk di sofa empuk ruang TV apartemen Roseline.
"Aku masak," jawab Roseline sambil mengantarkan satu gelas air mineral.
"Emang lo bisa masak?"
"Jangan meremehkan aku, ya," jawab Roseline dengan nada sinis, yang dibalas Revano dengan tawa, "Haha, iya-iya."
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu," ucap Roseline sambil berjalan ke kamar.
Revano menatap sekeliling ruangan. Ada beberapa bingkai foto yang hampir semuanya menampilkan pertumbuhan gadis manis pemilik apartemen ini, mulai dari bayi hingga remaja seperti sekarang, termasuk satu foto bersama kedua orang tuanya.
Dalam keheningan, Revano terus memperhatikan setiap sudut ruangan.
Apartemen Roseline memiliki dua kamar tidur, dua kamar mandi (satu di kamar utama), ruang tengah, dapur, ruang makan, serta ruang TV yang merangkap sebagai ruang tamu. Bisa dibilang, apartemen ini sangat luas untuk seorang gadis yang tinggal sendiri.
"Pasti sepi ya," gumam Revano, merasakan kesepian yang mungkin selama ini dialami Roseline. Kesendirian, kesepian, dan kehampaan.
Beberapa menit kemudian, Roseline kembali dengan kaos putih yang pas memperlihatkan lekuk tubuhnya, dipadukan dengan celana pendek polos hitam. Terlihat sederhana namun menyegarkan.
Revano tersadar dari lamunannya dan menatap Roseline dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis ini semakin cantik.
Tanpa basa-basi, Roseline segera menuju dapur, mengenakan celemek agar bajunya tidak kotor, dan mulai memasak.
Tidak butuh waktu lama, pasta yang ia masak matang, menyebarkan aroma yang membuat orang penasaran akan rasanya.
"Enak," ucap Revano setelah menyuap satu sendok pasta.
"Gak lagi jilat, kan?" goda Roseline.
"Ngapain gue bohong? Kalau gue bilang enak ya enak," kekeh Revano. Baginya, soal makanan tidak ada basa-basi enak ya enak, tidak ya tidak.
Mata Roseline berbinar mendengar jawaban Revano. "Aaah, syukur deh."
Revano terus menyuap pasta, lagi dan lagi. Bukan karena lapar, tetapi karena pasta yang dibuat Roseline memang enak.
Piring pasta mereka kini bersih tak bersisa.
Revano teringat sesuatu dan bertanya, "Eline, kok gue gak pernah liat lo ke kantin ya?"
"Oh, itu karena aku bawa bekal dari rumah. Terus juga, kantin rame, gak cocok kayanya buat aku," jawab Roseline. Jawaban pertama benar, jawaban kedua tidak sepenuhnya tepat.
Revano mengangguk. "Lo jarang keluar bareng teman ya?"
Di sekolah, Revano memang tidak pernah melihat Roseline bersama teman lain, seperti pergi ke kantin, minta ditemani ke toilet, atau sekadar mengobrol. Yang terlihat hanyalah gadis itu selalu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomanceDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
