Tuk... tuk... tuk...
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Revano menuruni anak tangga dari kamarnya satu per satu menuju ruang makan. Begitu tiba, ia melihat sang bunda tengah mengolesi roti dengan selai cokelat.
"Eh, anak bunda udah rapi aja. Sini, sarapan dulu," ujar sang bunda dengan senyum hangat.
Revano yang memang tak pernah melewatkan sarapan segera mendudukkan dirinya di kursi makan. Dua potong roti dengan selai cokelat disodorkan sang bunda untuk buah hati tercintanya.
Revano merupakan putra semata wayang dari pasangan Halim dan Sena—keluarga pengusaha kaya raya yang terpandang di Negara ini bahkan di mata dunia. Soal jumlah kekayaan, rasanya tak perlu dihitung lagi, cukup untuk membuat kaum mendang-mending menangis.
"Ayah kapan pulang, Bun?" tanya Revano sambil mengunyah rotinya.
"Katanya sih minggu depan. Kenapa? Mau kenalin mantu?" goda sang bunda.
"Hah?! Enggak!" Revano langsung menggelengkan kepala dengan cepat.
Revano memang tak pernah mengenalkan pacarnya kepada keluarga. Alasannya sederhana kalau bukan jodoh, bakal ribet ditanya-tanya. Itulah sebabnya keluarganya bahkan tak tahu kalau ia pernah punya pacar.
"Eno normal, kan?" tanya Bunda Sena sambil menjahili putranya.
"Ih, ya normal lah, Bun. Masa Eno belok, amit-amit," jawab Revano sambil mengetuk dua kali kepalanya, lalu meja makan, dengan tangan terkepal.
Kebiasaan yang dilakukan untuk menangkal hal-hal buruk yang disebutkan.
"Soalnya kamu gak pernah cerita apa-apa. Bunda kan juga pengin punya anak cewek, tahu," ujar sang bunda.
"Yaudah, kalau gitu bikin lagi aja," balas Revano enteng.
"Bunda sama ayah sibuk, jadi penginnya yang instan aja," sahut Bunda Sena santai.
"Hadeh, Bunda ini," Revano terkekeh kecil. "Yaudah, Eno berangkat dulu ya. Takut telat."
Setelah menyelesaikan sarapannya dan meneguk segelas susu, Revano berpamitan. Ia mencium pipi sang bunda sebagai tanda kasih sayang.
"Berangkat dulu ya, Bun. Love you."
"Love you too, sayang!" teriak sang bunda saat Revano melangkah pergi dengan tergesa.
Revano menuju basement, tempat koleksi mobil dan motor milik ayah dan dirinya beristirahat. Beberapa jenis kendaraan terparkir rapi di sana, mulai dari yang antik hingga keluaran terbaru.
Ia menyalakan sebuah motor besar berjenis cruiser. Hari ini ia tidak membawa motor sport yang biasa ia kendarai karena sedang diservis. Awalnya, Revano sempat berniat membawa mobil, tetapi mengingat macetnya Jakarta, ia akhirnya memilih motor cruiser yang biasanya hanya ia gunakan saat touring.
♡♡♡
Waktu menunjukkan pukul 06.30. Revano telah memarkirkan motornya di area parkir sekolah, lalu melangkah menuju kelas 12 IPA 2. Sepanjang perjalanan, suasana sekolah masih terbilang sunyi. Belum banyak murid yang datang pada jam segini.
Itulah alasan Revano lebih suka datang pagi-pagi. Tidak banyak pasang mata yang menoleh ke arahnya, tidak pula terdengar teriakan-teriakan yang memanggil namanya.
Setibanya di kelas, ia mendapati Bima sudah lebih dulu datang dan asyik bermain gim di ponselnya.
"Pagi-pagi udah melotot aja tuh mata," sindir Revano.
"Suuttt... diem dulu, No. Bentaran lagi menang nih," jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Revano tak menanggapi lagi. Ia langsung duduk di kursinya. Posisi tempat duduk mereka memang depan-belakang, Revano duduk bersama Juani di bangku depan, sementara Milo duduk dengan Bima di belakang. Tentu saja, posisi itu sengaja diatur agar Milo dan Bima bisa dengan mudah menyontek.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomanceDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
