3. Menarik

1.4K 159 9
                                        

Masih di hari yang sama, bel istirahat akhirnya berbunyi. Begitu suara itu terdengar, murid-murid langsung berhamburan keluar kelas ada yang menuju kantin, toilet, perpustakaan, atau sekadar berkumpul di sudut-sudut sekolah.

Tak terkecuali Revano, Juani, Bima, dan Milo yang juga tampak antusias menyambut waktu istirahat.

Saat mereka berjalan menuju kantin, Una tiba-tiba menghampiri Revano. Gadis itu meminta Revano untuk berbicara berdua.

Revano mengabulkan permintaan tersebut. Ia mengikuti Una yang melangkah lebih dulu menuju tempat sepi, halaman belakang Gedung C.

"Kenapa kamu gak chat aku?" tanya Una begitu mereka tiba.

"Lah, kan kamu sendiri yang bilang gak usah chat, Na," jawab Revano bingung. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap gadis itu, diminta untuk tidak menghubungi, tapi sekarang justru disalahkan.

"Iya, tapi kan harusnya kamu tetap chat, Revano," balas Una tanpa rasa bersalah sedikit pun. Begitulah Una, ucapannya sering kali tak sejalan dengan tindakannya.

"Terus, sekarang mau kamu apa?" tanya Revano langsung ke inti. Ia yakin Una mengajaknya ke sini bukan tanpa tujuan.

Dengan cepat Una menjawab, "Aku mau kita balikan."

Tebakan teman-temannya ternyata benar, Una memang ingin mengajaknya kembali. "Kalau aku nggak mau?" sahut Revano singkat.

Una terkejut. Ini bukan respons yang biasa ia dapatkan. Dulu, setiap kali ia meminta balikan, Revano selalu menjawab iya. Namun kali ini berbeda.

"Please... maafin aku. Aku salah. Aku nggak seharusnya ngambek-ngambek," pinta Una dengan suara melembut.

Revano terdiam sejenak, berpikir keras. Sebenarnya ia sudah lelah. Ia tahu, jika masalah kembali muncul, Una kemungkinan besar akan kembali pada sifat lamanya, egois dan keras kepala. Namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia menghela napas pelan.

"Yaudah," ucapnya, setengah terpaksa.

"Aku janji gak bakal ngambek-ngembek lagi," tambah Una cepat.

Baiklah. Revano memutuskan memberi Una satu kesempatan lagi untuk memperbaiki sikapnya. Sejujurnya, ia sadar perasaannya pada Una tak lagi sama. Rasa sayang itu perlahan memudar, tergantikan oleh rasa iba. Dan itulah alasan mengapa ia menerima ajakan Una untuk kembali.

Revano mengangguk pelan. Una memahami isyarat itu, tanda bahwa ia diterima kembali. Gadis itu pun memeluk tubuh Revano dengan erat.

"Makasih, Revano. Aku sayang kamu."

Namun Revano tak membalas pelukan itu, begitu pula ucapannya. Tubuhnya tetap kaku, pikirannya melayang jauh ke arah yang bahkan tak berani ia sebutkan.

♡♡♡

Waktu terus berjalan. Hari demi hari terlewati, hingga kini tiba hari Sabtu yang berarti malam ini adalah malam Minggu. Waktu yang biasanya dimanfaatkan Revano untuk pergi keluar. Tak terasa, sudah tiga hari berlalu sejak ia kembali menjalin hubungan dengan Una.

Awalnya, Revano berniat mengajak Una untuk menghabiskan malam bersama. Namun gadis itu mengabarkan bahwa ia tidak bisa pergi karena harus membantu ibunya. Alhasil, malam ini Revano berada di sebuah kafe terkenal di Jakarta yang selalu ramai pengunjung, ditemani teman-teman seperjuangannya.

Siapa lagi kalau bukan Juani, Milo, dan Bima.

Mereka sedang nongkrong bersama, menikmati live music, menyeruput kopi, dan mengobrol tentang banyak hal, mulai dari kehidupan, ekonomi, hingga gosip-gosip receh yang seperti biasa dipimpin oleh Bima dan Milo.

STOLEN GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang