Setelah sarapan dan sedikit beres-beres, mereka semua berkumpul di teras rumah Bude Ayyu. Duduk melingkar di atas tikar tipis, masing-masing memegang segelas teh dan gelas kopi sachet yang diseduh dari air panas termos. Uap kopi dan teh mengepul pelan, bercampur dengan udara pagi Jogja yang masih sejuk.
"Ini hari terakhir, guys," kata Cania pelan, sambil memainkan sendok plastik di dalam gelasnya, bunyinya berdenting kecil.
"Terus, ke mana nih kita di hari terakhir sebelum pulang besok?" timpal Milo, matanya menyapu satu per satu wajah teman-temannya.
"Gue sih usul kita pergi ke tempat yang bisa ninggalin kesan," kata Bima sambil membuka Google Maps di ponselnya, jarinya sudah siap menjelajah layar.
"Dari kemarin juga semua tempat yang kita kunjungin berkesan, beon," cibir Milo sebelum menyeruput kopi panasnya.
Revano yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. "Gimana kalau kita ke Hutan Pinus Mangunan? View-nya bagus."
"Bagus tuh. Otak lo lancar, No," kata Juani spontan sambil berdiri. "Ayo kita ke sana. Terakhir kalinya kita bisa seruangan di Jogja bareng."
Tanpa banyak debat, keputusan pun diambil.
Helm dipasang, jaket dikancingkan, dan satu per satu motor dinyalakan. Suara mesin kembali memenuhi halaman rumah. Kali ini ada semangat yang sedikit berbeda—lebih hangat, tapi juga berat—karena mereka tahu, ini perjalanan pamungkas sebelum pulang ke rutinitas masing-masing.
Perjalanan menuju Mangunan sebenarnya tak begitu jauh, tapi jalurnya cukup berkelok. Cukup untuk memancing tawa ketika Milo hampir saja nyasar ke kebun warga.
Tiga motor melaju beriringan, menembus jalan kecil yang mulai menanjak. Pepohonan di kiri-kanan semakin rapat, bayangan daunnya menari di atas aspal.
"Milooo, anjing! Beloknya bukan ke situ, woy! Itu jalan setapak, bukan jalan motor!" teriak Juani dari motor paling belakang.
Milo yang bertugas sebagai penunjuk jalan hampir saja masuk ke jalan kecil yang ternyata jalur menuju kebun warga. Ia buru-buru mengerem dan menahan motor agar tidak terlanjur jauh.
"Sialan! Gue kira itu jalan alternatif!" balas Milo dengan nada membela diri.
"Iya! Alternatif menuju dunia lain," celetuk Cania yang duduk diboncengan Juani.
Bima yang sejak tadi duduk di belakang Milo sudah tak bisa menahan tawa. "Mil, lu pilih jalan yang beneran napa, anjir."
Milo menoleh ke belakang dengan wajah sebal. "Nggak usah banyak omong, mending lo bantuin gue buka Maps."
Akhirnya Bima pun membuka Maps. Namun belum sampai lima belas menit, masalah baru muncul. Rute yang ditunjukkan justru berputar-putar, seolah membawa mereka kembali ke titik yang sama. Menyadari kejanggalan itu, Bima menepuk bahu Milo.
"Mil, Maps-nya ngaco."
Motor pun melipir ke pinggir jalan, diikuti oleh Juani dan Revano yang ikut berhenti.
Revano memajukan motornya hingga sejajar dengan Milo. "Kenapa lagi?"
Milo berbalik dan merebut ponsel dari tangan Bima, lalu mengecek Google Maps dengan wajah frustrasi. "Maps-nya muter-muter terus, cuy. Error!"
"Coba sini gue lihat," kata Revano.
Milo akhirnya menyerahkan ponsel itu. Dengan cekatan, Revano menekan layar—mereset ulang tujuan mereka, memperbesar peta, lalu menscroll sambil menghafal setiap belokan.
"Udah, ikutin gue aja," tukas Revano dengan percaya diri. Rute itu sudah tertanam rapi di kepalanya.
Tak heran, siswa pintar satu ini memang punya daya ingat yang luar biasa. Begitu Revano mengambil alih, risiko tersasar hampir tak perlu dikhawatirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
STOLEN GIRL
RomansaDi tengah hiruk pikuk kehidupan remaja SMA Patrisula, sekolah elit yang dipenuhi siswa dari kalangan atas. Revano Putra Ressel dikenal sebagai siswa sempurna, tampan, cerdas, populer, dan mantan ketua OSIS. Ia terbiasa menghadapi pujian guru, kekagu...
