18. Yaelah Bocor

287 32 0
                                        

Matahari belum sepenuhnya naik ketika mereka kembali berkemas. Udara pagi masih menyisakan dingin tipis, bercampur semangat dan kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Rencana hari ini sudah jelas: Magelang, dengan tujuan utama Candi Borobudur.

"Gue udah siap lahir dan batin buat keringetan seharian," kata Cania sambil memasukkan sunblock ke dalam tas setelah memakainya dengan teliti.

Cania memang seorang model yang biasanya selalu dikelilingi kemewahan. Liburan dengan gaya backpacker seperti ini jelas terasa jauh berbeda dari kesehariannya. Meski begitu, dia tetap mempersiapkan semua perlengkapan penting agar terlindung dari terik matahari—mulai dari sunscreen, topi lebar, hingga kacamata hitam. Sebagai model, menjaga penampilan dan kesehatan kulit adalah prioritas, sehingga setiap detail tak luput dari perhatiannya.

Walau belum terbiasa dengan liburan berkonsep minim budget, Cania menyadari pentingnya menghargai kesepakatan yang telah mereka buat bersama. Dalam hatinya, ia berpikir mungkin perjalanan ini bisa menjadi pengalaman baru yang membuka mata—merasakan liburan dengan cara yang lebih sederhana, tanpa fasilitas berlebih, namun penuh cerita.

Bisa jadi, perjalanan ini akan mengajarinya banyak hal. Tentang kenyamanan yang tak selalu bergantung pada kemewahan, dan tentang serunya menjalani petualangan dengan segala keterbatasan yang justru membuat momen-momennya terasa lebih berarti.

Perjalanan pun dimulai. Tiga motor kembali meluncur di jalanan Jogja menuju Magelang. Jalanan semakin padat, cuaca kian terik, dan seperti yang sudah bisa ditebak, Milo mulai mengeluh setiap sepuluh menit sekali.

"Jam berapa sih sekarang, Bim?" tanya Milo dari atas motor, berteriak ke arah Bima yang sedang menyetir.

"KAN YANG BISA NGELIHAT JAM LO, MILO! KENAPA MALAH NANYA GUE?" jawab Bima, tak kalah keras.

Milo pun akhirnya melirik layar ponselnya. Ternyata masih menunjukkan pukul sebelas.
"Yah elah... gue kira udah jam dua. Ini perut gue udah demo dari tadi."

"Sabar dikit kenapa sih, Mil!" celetuk Bima.

"Gak bisa, Bim. Kalau urusan perut mah serius. Bisa mati pelan-pelan gue," rengek Milo dramatis, membuat yang lain hanya bisa menggelengkan kepala.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan cukup jauh di bawah terik matahari, Revano dan teman-temannya memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung bakso sederhana di pinggir jalan.

Warung itu tersembunyi di balik rindangnya pepohonan, menciptakan suasana teduh yang menyegarkan. Udara di bawah naungan dedaunan terasa jauh lebih sejuk, memberikan kelegaan setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan.

"Nah, ini penyelamat gue " kata Milo sambil turun dari motor dengan gerakan cepat, lalu langsung duduk seolah takut kehabisan tenaga.

Suasana sekitar tampak hidup namun tetap tenang. Dari kejauhan terdengar suara klakson truk yang sesekali melintas, tapi tidak mengganggu keteduhan warung itu. Beberapa pelanggan lain duduk santai menikmati bakso mereka, sementara si abang bakso dengan cekatan melayani pesanan.

Revano memilih duduk di bangku paling teduh, bersebelahan dengan seseorang yang sejak tadi tak lepas dari perhatiannya. "Mau yang urat atau halus sayang?," tanyanya dengan nada ringan, namun penuh perhatian.

"Mau yang halus, tapi jangan pakai mi kuning ya. Bihun sama sayur aja," jawab Roseline sambil tersenyum kecil.

Revano mengangguk mantap. "Oke, kamu tinggal duduk manis. Aku yang urus."

Dengan langkah ringan, ia menuju gerobak bakso, meninggalkan Bima dan Milo yang duduk berseberangan sambil menatap kosong.

Bima menyilangkan tangan, mendesis pelan. "Cuma pesenin bakso doang, gayanya kayak daftar jadi suami siap siaga."

STOLEN GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang