Happy Reading 👋
***
Saat waktu menunjukan pukul lima sore, Fisly baru saja tiba dirumah usai menyelesaikan kewajibanya sebagai pelajar. Langkah Fisly terhenti saat mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya. Gerakannya untuk membuka pintu terhenti diudara. Suara bernada tinggi yang dibarengi dengan pecahan barang, sungguh menyesakkan batin Fisly meskipun itu sudah biasa Ia dengar.
Kedua mata Fisly terpejam bersamaan dengan air mata yang mengalir ketika mendengar suara tamparan. "Apalagi yang ayah lakuin ke ibu?" Menghapus air matanya dengan kasar. Fisly kembali membawa kakinya mendekati keributan yang didengarnya.
Sesaat tubuh Fisly mematung. Hal pertama yang ia lihat adalah ibunya yang terkulai lemas diatas dinginya lantai. "Ibu!." Fisly berteriak kencang, membuat Fery langsung menghentikan perbuatanya dan menoleh kearah sang putri.
Fisly menatap sang Ayah. "Apalagi salah Ibu ke Ayah?! Kenapa Ayah sakitin Ibunya Fisly?!"
Kilat amarah masih terpancar dimata Fery. Tanpa mengingat Fisly adalah darah dagingnya, Fery mendorong tubuh putrinya hingga terjatuh disisih Adira. "Kamu nggak usah ikut campur! Awas kamu! Ibumu itu harus diberi pelajaran!." Fisly yang terdorong pun jatuh menghantam dinginya lantai disisih Ibunya.
"Ayah! Stop-" Hantaman keras itu mengenai punggung sempit Fisly karena melindungi Adira.
Adira langsung menatap putrinya, menangis karena lagi-lagi Fisly harus melihat kekerasan yang dilakukan Fery. "Fisly! Kamu gapapa sayang? Mana yang sakit? Maafin ibu, maaf. "
"Nggak. Fisly gapapa, harusnya Fisly yang tanya sama Ibu, Ibu gapapa?" Fisly tersenyum. Menutupi rasa panas dan sakit yang mulai menjalar dipunggungnya.
Fisly berdiri dengan bantuan Adira, mereka ingin segera pergi dari hadapan Fery. Langkah Fisly terhenti ketika netranya bertabrakan dengan Fery. Fery terdiam. Dengan jelas Fery menangkap tatapan penuh kecewa dan benci dari putrinya.
Tangan Fisly terangkat memegang pipi Adira. "Pipi Ibu sakit lagi gara-gara Ayah."
"Gapapa, ini gak sakit." Adira tersenyum kecil diakhir kalimat.
Fisly menatap atap rumah, menahan agar air matanya tidak menetes. "Maafin Fisly bu.. Gara-gara Fisly pulangnya telat Ibu jadi banyak lukanya lagi karna Ayah."
"Ih! kenapa jadi Fisly yang minta maaf? Anak Ibu nggak pernah salah. Ibu selalu bilang sama Fisly, selagi Ibu sama Fisly, Ibu akan baik-baik saja." Adira membawa putrinya itu kepeluk hangatnya.
"Sabar ya, Bu? Fisly yakin sebentar lagi Tuhan kasih kebahagiaan buat kita."
Menjawil hijung putrinya. "Kebahagiaan Ibu kan udah disini. Kebahagiaan Ibu ada sama putri Ibu yang paling cantik, namanya Fisly." Adira tertawa setelahnya.
Fisly harap Ibu selalu ada disini, karna dunia Fisly itu Ibu.
°°°
"Bangun, Fis bangun," Adira sedikit mengguncang tubuh Fisly yang masih memejamkan kedua matanya. "Fisly."
Fisly yang mulai terusik pun membuka kedua matanya perlahan. Semalam, Fisly tidak bisa tertidur sampai jam tiga malam karna rasa sakit yang ia rasakan dipunggungnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
What about me?
Teen FictionFisly yang hidup bersama dengan rasa sakit yang pernah ayahnya berikan.