04

25 2 0
                                    

Happy Reading

***

Fisly yang baru saja selesai dengan kegiatan mandinya, kini  ia berniat untuk mengeringkan rambutnya. Saat ia hendak memgambil hairdryer,  tak sengaja tanganya menyenggol sebuah kotak berwarna cokelat, kotak itu terjatuh dan isinya berserakan dilantai. Tangan Fisly terulur mengambil salah satu lembaran foto masa kecilnya. Didalam foto itu terlihat dua anak kecil tersenyum manis mengekspresikan raut wajahnya ke arah kamera.

"Siapa? Bukanya ini-? Ah lupa gue, gataulah." Sungguh Fisly lemah dengan ingatan dory nya itu.

Sesampainya deringan posel Fisly memecahkan lamunan. Ternyata itu panggilan dari sahabatnya.

"Kenapa Jul?"

"Tolongin nyet, anterin pulang. Motor gue mati nih di mini market depan komplek lo." Jelas Juliya disebrang telepon.

"Oke bentar, otw nih."

"Cepetan! Nanti keburu diculik gue."

"Dih, gak ada yang mau sama lo Jujul, bukanya untung malah bangkrut mereka kalo nyulik lo, jajan lo banyak."

"Yee sialan. Buruan!"

Fisly hanya membalas deheman saja, lalu mematikan panggilan itu sepihak. Ia mengambil langkah keluar sembari menyambar jaket hitam yang tergantung disebelah pintu.

"Mau kemana, Fis?"

"Eh ibu, Fisly mau kedepan sebentar, motor Juliya katanya mati. Nggak bisa pulang."

"Ohh gitu, yaudah hati-hati Fis!" Ucapan Adira itu dibalas acungan jempol Fisly yang tengah berlari kecil keluar rumah.

Setelah beberapa menit Fisly menjalankan motornya, ia melihat Juliya sedang berdiri dipinggir jalan. Ia segera menghampiri sahabatnya itu.

Juliya bernapas lega. "Akhirnya sampai juga."

"Lama ya?"

"Engga. Lo secepat ninja Fis."

"Halah. Buruan naik, gue anterin pulang."

Juliya tersenyum, lalu menuruti ucapan Fisly. Mereka pun mulai melajukan motornya menuju rumah Juliya. Sepanjang jalan mereka hiasi dengan berbagi canda tawa, Fisly terlihat sangat bahagia saat bersama sahabatnya itu. Selang beberapa menit mereka sudah sampai didepan rumah Juliya.

"Main dulu lah Fis, sekali kali loh."

"Yaudah, boleh deh tapi sebentar aja ya nanti dimarahin bokap gue."

"Yess!" Pekik Juliya senang karena rayuanya berhasil membuat Fisly main dirumahnya.

Mereka melakukan berbagai aktivitas menyenangkan, mulai dari menonton, mendengarkan musik dan berujung deeptalk. Fisly melihat ponselnya yang sedari tadi tergletak dimeja begitu saja, ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Ayahnya. Tanpa Fisly sadari ternyata waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, ia panik dan segera beranjak pergi.

"Jul jul!"

Merasa namanya terpanggil, Julia yang sedang terfokus pada laptopnya pun menoleh. "Apa?"

What about me? Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang