3. Absurd

3.1K 370 6
                                        

Sepanjang jalan melangkah di koridor dengan tangan yang memutar tali gantungan kunci di tangannya, Harry tersenyum senang karena dirinya sedang bahagia. Kemarin malam, tak lama Viktor mengirimnya uang seperti yang sudah di janjikan dalam pertarungan. Itu menambah mood Harry pagi ini, ditambah juga Bill tidak marah dengan motornya dan berkata dia juga salah karena memberitahu Harry tentang rem yang belum sempat di ganti —Jadi dirinya hanya mengganti setengah dari kerugian.

Sisa uangnya masih banyak, dia bisa melakukan apapun setelah ini, badannya sekarang berbau uang, Harry merasa jadi Money boy untuk hari ini.

Hermione bisa melihat Harry yang datang, wajah temannya terlihat penuh keceriaan. Tapi bukan itu, dia ingin segera menyumpah serapah Harry karena telah membawa sepeda kesayangannya kemarin Sore.

"Fuck you Potter! Dimana sepeda ku, sialan?!"

Harry meringis, ketika saat memasuki kelas, langsung di sambut teriakan nyaring dari Hermione sahabatnya.

"Santai!" Wajahnya nampak kesal.

"Tidak! Aku mau sepedanya sekarang juga!" Kemarahan itu nampak menggebu-gebu.

"Ini!" Harry melempar kunci gembok sepeda milik Hermione.

"Dimana sepedanya?" Hermione tetap ketus.

"Atap sekolah." Harry memutar matanya malas. "Tentu saja parkiran khusus sepeda!"

"Sialan, sudah di beri pinjam masih tidak tau terimakasih!"

Dengan kesal, Harry membuka isi tasnya lalu mengeluarkan sekantung Snack untuk Hermione.

"Apa ini, Untukku?" Mengernyitkan dahinya tak suka. "Hanya segini? Kau bahkan meminjamnya seharian, bagaimana jika nanti aku menemukan kelecetan pada sepedaku? Apakah kau mau ganti rugi?!"

Menurut Harry, dia tak habis pikir kenapa bisa berteman dengan gadis itu. Hermione terlalu cerewet dan menyebalkan sebenarnya.

"Ini!" Dengan kesal, Harry menempelkan uang kertas 100 Poundsterling pada dahi Hermione.

Hermione mengambil uang di dahi, namun masih ada kerutan tak suka di wajahnya.

"Segini? Kau cuman memberiku segini? Pelit sekali..."

"Ini!" Harry kembali mengeluarkan 5 lembar pecahan 100 Poundsterling dari saku kemejanya dengan kesal. "Mata duitan!" Makinya kesal.

"Kau pasti menang balapan kan? Pelit sekali memberiku hanya 6 lembar saja." Bibirnya mengerucut.

Harry memutar bola matanya, semakin kesal dengan tingkah si centil itu.

"Mau atau tidak? Kalau tidak aku ambil kembali semuanya."

Hermione menutupi semua uang dan Snack dengan kedua tangannya, seolah tak terima jika semua pemberian itu di ambil kembali.

"Tidak, semuanya sudah jadi milikku!"

"Ya sudah..." Harry berjalan menuju bangkunya yang berada 2 jarak kursi belakang dari tempat Hermione.

"Senang berbisnis denganmu, baby Hawwy!"

"Sialan!" Harry menggerutu saat melihat tingkah si licik itu.
.
.
.
.

Mungkin pada saat jam pelajaran itu, Harry harusnya bisa fokus dengan pelajaran yang sedang di bahas. Namun panggilan dari ruangan pengeras suara dikelas ya memanggil.

'Kepada Harry Potter, kelas 12C silahkan menuju ruangan Prefek.'

Para murid melihatnya, mereka meliriknya dengan penasaran, karena memang jika sampai di panggil ke ruang Prefek rata-rata mereka adalah murid berandalan. Itu membuat Harry tak nyaman, jadi dia segera pergi meninggalkan kelas saat puluhan pasang mata itu, menatapnya penasaran.

The DevilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang