Pada pukul 1 dini hari, segera setelah dia melihat semua foto menjijikan oleh nomor tak dikenal. Harry segera memakai kembali bajunya dan menatap Draco yang masih terbaring. Dia mendecih marah, seharusnya Harry tidak terlalu memberikan banyak kepercayaan pada si bajingan itu. Dengan kasar dia beranjak pergi dan menarik jaket hitam miliknya pada gantungan baju, lalu keluar dari apartemen Draco dalam perasaan yang berkecamuk.
Kakinya melangkah cepat pada jalan lorong, dan menaiki lift secara tergesa. Menekan angka 1, dia menunggu lift untuk turun, diam-diam Harry mengepalkan tangannya secara erat di dalam sana. Saat bunyi 'Ting' tiba, Harry segera keluar dan muncul dari arah Lobby.
Tidak memperdulikan jika hari masih malam, jarangnya kendaraan umum, atau maraknya kejahatan di malam hari, dia tidak takut sama sekali, mengingat malam adalah salah satu bagian dari dalam dirinya dan dia muak jika harus menunggu sampai esok hari, lalu berada dalam satu udara bersama si Ferret.
Dia masih tidak sadar dalam terbalutnya amarah yang menggebu, Harry sudah menapaki pertengahan jalan raya tanpa melihat sisi kanan kiri untuk pergi menuju Halte bus di seberangnya. Suara klakson mobil terdengar saat melintas, dan Harry baru tersadar saat lampu mobil menyoroti pada wajahnya. Dia menerapkan matanya erat dan terkejut, tidak sempat untuk menghindar.
Saat mobil itu mendekat kearah tubuhnya, kaki mulai terasa seperti jelly, lalu berakhir terjatuh ke tanah, tidak peduli mungkin dengan kejadian buruk yang akan datang setelahnya.
Di dalam mobil, seorang pria berambut pirang pucat dan bermata bronze memaki, saat mobilnya hampir saja menabrak seseorang dan untungnya dia berhasil menekan rem secara mendadak. Bibirnya terlihat menggerutu, lalu pria itu melepaskan seat belt miliknya dan keluar dari dalam sana untuk melihat keadaan orang yang hampir di tabraknya.
"Dasar bodoh! Siapa orang tolol yang berani berdiri di tengah jalan saat malam hari? Kau ingin bunuh diri, Huh?!" Makinya kasar, namun hinaan dan cacian yang ingin kembali dilontarkan tertahan seketika di kerongkongannya.
Saat orang yang terduduk di hadapan Ferrari hitam miliknya, mengangkat wajah dan terlihat syok.
"H-harry?" Ujarnya terlihat tak yakin. "Apa yang kamu lakukan disini sendirian?" Tanyanya sembari segera mengangkat tubuh kecil itu.
"Avery? Aku..." Ucapnya tak bisa melanjutkan kata-kata.
"Bukan saatnya bercerita, ayo segera masuk ke dalam mobilku." Avery membopong tubuh Harry dan membantunya untuk masuk mobil. Bagaimana bisa mantan kekasihnya muncul secara tiba-tiba di tengah jalan dan terlihat dalam keadaan yang menyedihkan.
"Kamu sudah pulang kembali?" Bisik Harry pelan, saat Avery memakaikannya seat belt.
Lalu dia bisa melihat Avery yang menatapnya dan tersenyum. "Aku telah menyelesaikan kuliahku di Harvard dan kembali pulang ke London." dan Avery memakai seat belt miliknya sendiri, lalu mulai menyalakan mesin. "Ayo pulang."
Dalam perjalanan suasana dibuat senyaman mungkin untuk menghilangkan kecanggungan, Avery memutar lagu Jazz dan diam-diam melirik Harry disisinya.
"Kenapa kamu secara tiba-tiba muncul di tengah jalan?" Tanyanya seacara hati-hati, dia tau dengan benar sifat Harry dan pemuda itu dirinya lihat sedang berada di dalam kemarahan.
Harry terdiam sejenak, lalu tersenyum seolah tidak ada yang terjadi dan melirik Avery disisinya yang terlihat penasaran. "Tidak ada."
Sementara Avery menghela nafas dan sia tau jika Harry sedang menyembunyikan sesuatu, namun dia tak bisa memaksa meski berada di atas rasa penasarannya. "Baiklah, lalu sekarang kamu mau diantar kemana?"
"Pulang, ke Apartemen lamaku saja."
"Baiklah Nona manis, kita pulang ke apartemen milikmu." Ujarnya jail.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil
AcakKeduanya menyimpan rahasia masing-masing secara rapat dari dunia luar. Yang mereka tau hanyalah Harry dan Draco yang menjadi Rival abadi. Harry sibuk dengan balapan motornya, sementara Draco si King Driftyang selalu mengawasi Harry dari belakang. H...
