5. Marah

3K 312 9
                                        

Draco hanya menghela nafas berat, ketika melihat Harry yang keluar dari mobilnya dengan bantingan di pintu, lalu me lenggang pergi begitu saja tanpa mengucapkan rasa terimakasih. Potter sialan! Tau begini, lebih baik dirinya tinggalkan saja tadi.

Dengan rasa kesal, dirinya meninggalkan Apartemen dimana Harry tinggal, setelah memastikan Harry memasuki lobi Apartemen dengan selamat.

Kakinya menginjak pedal gas dengan kuat, lalu menaikkan torsi lebih tinggi. Membelah jalanan, tak peduli jika dirinya melanggar peraturan dan mendapat peringatan klakson dari mobil orang-orang yang hampir terkena serempet. Toh Draco tak takut, lagipula jikapun polisi ingin mengejarnya, mobil pabrik butut murahan itu takkan mampu mengejar Sportcar Draco yang di jalankan dengan kecepatan tinggi.

Sore itu, mungkin sekitar pukul 3. Draco sampai di Basecamp, tempat dia dan juga satu gengnya berkumpul untuk melepas penat.

Di dalam sana, Draco melihat Theodore Nott yang sibuk memoles Nissan GTR ungu miliknya dengan teliti bersama Marcus Flint. Theodore mendapatkannya dari hasil pertarungan liar semalam, melawan ketua Black Swan dan Draco sebagai teman dan ketua Team sangat bangga akan prestasi itu, dia juga memberikan mobil Cameron miliknya sebagai tambahan hadiah.

"Oh, shit! Carilah tempat lain jika ingin bercinta Zabini!" Draco hampir iritasi ketika melihat Zabini berciuman dengan Pansy. "Atau tidak, sewalah hotel. Jangan seperti orang miskin."

"Tsk, penganggu."

Draco membanting tasnya ke atas sofa, sembari duduk dan menyadarkan tubuhnya yang terasa lelah.

"Kenapa?" Suaranya tampak seperti ejekan.

"Tidak ada."

"Pergilah Pansy, kami butuh ruang untuk berbicara." Blaise menyingkirkan Pansy dari atas pangkuannya.

Membuat gadis itu mendesis marah dan pergi dengan gerutuan kesal.

"Biar ku tebak, ini soal kucingmu bukan?"

"Hn."

"Dia memang sulit untuk di jinakkan." Blaise seolah mengerti dengan pikiran Draco.

Tidak mendapat jawaban, Blaise hanya melihat Draco yang menutup matanya dan terbaring di atas sofa dengan tenang.

"Tapi, itu justru tantangannya." Menepuk tangannya pelan, seolah mendapatkan ide. "Kau tau? Banyak orang yang menginginkanmu, kenapa tidak mencoba untuk membuat si Potter cemburu?"

"Berisik Zabini, aku tidak butuh ocehanmu."

"Terserah."

Lagipula, menurut Draco itu adalah ide yang sangat bodoh.
.
.
.
.

Tangannya menyemprotkan parfum pada jaket kulit hitamnya. Harry sudah merasa sempurna dengan penampilannya untuk malam ini. Jaket kulit hitam, kaus putih polos dan Jeans hitam serta sepatu canvas yang di pakainya.

"Sempurna." Dia merasa sangat manly hari ini.

Melirik kearah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 9.45 malam. Sebentar lagi Ron akan menjemputnya. Dia akan pergi ke klub malam untuk hari ini, tentu saja karena ingin bersenang-senang, memangnya apalagi tujuan pergi ke sana?

Segera memutuskan turun ke parkiran mobil, mungkin Ron bisa saja sudah datang dan dia tidak ingin membuat temannya menunggu.

Pada malam yang cerah, seharusnya di musim ini Harry mengikuti banyak balapan liar, tapis sayang Gryffin disita, bersama motornya yang lain dan Harry hampir frustasi akan hal itu.

Pergi ke klub malam, sedikit menghiburnya, apalagi Fred si kembar, memenangkan pertandingan. Meski banyak yang meminta Harry untuk kembali ke pertunjukan balapan. Tapi dia tidak bisa menerimanya, walaupun orang-orang berkata jika balapan menjadu tidak seru saat dirinya memutuskan vakum untuk sementara waktu sampai semua motornya kembali.

The DevilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang