Pada hari itu, Harry semakin disibukkan dengan pengejarannya pada segerombolan kelompok pembalap dari Italia. Berkali-kali membolos demi sebuah kelancaran misinya yang mungkin saja sangat berbahaya.
Draco sangat jarang bertemu tunangannya, mungkin beberapa kali Harry telah mengirim pesan dan tak jarang juga Harry tidak mengangkat panggilannya.
Di sebuah gedung apartemen kosong, atau terbengkalai sudut kota Verona itu, Harry berjalan dengan hati-hati, sementara lengannya yang tersampir di balik saku jaket, telah memegang sebuah pistol dengan erat untuk berjaga. Charlie kali ini ikut dalam misi dan juga ingin balas dendam atas kejadian yang lalu.
Marcus Belby, telah mengirimkan begitu banyak informasi tentang kelompok balap tersebut yang terhubung dengan kartel besar pada kota Barcelona dan kelompok tersebut telah di pimpin oleh seorang pria yang Harry ketahui sebagai Evan Rossier.
Nama yang asing, tapi selebihnya Harry tak perduli. Seorang anak buahnya telah mengirim pesan pada Harry untuk pertemuan rahasia, dia tidak bodoh jika saja mereka ingin melakukan sebuah jebakan. Maka dengan bantuan Marcus, pria itu telah meminjamkan beberapa anak buahnya untuk melakukan penjagaan.
Harry akan memanggil mereka jika dalam keadaan tersedak, semuanya menunggu diluar dan bersembunyi.
"Kau yakin, ini tempatnya?" Charlie menaikkan sebelah alis.
"Jika merujuk pada pesan, aku yakin jika ini benar." Harry masih menunjukkan raut tenangnya.
"Aku merasa di permainkan."
Keduanya berada pada lantai 1 basement, semua sudutnya tampak rapuh dan kotor. Sebagaimana gedung terbengkalai yang belum sempat selesai dan merasakan kejayaannya.
Suara tepuk tangan dari balik punggung mereka terdengar. Membuat Harry berbalik untuk melihat orang tersebut. Harry menaikkan sebelah alisnya, ketika dia menemukan seorang pria berumur 30'an, dengan tampang angkuh dan memakai kemeja hitam di badannya, sangat khas mafia.
"Aku akui jika kalian memiliki keberanian untuk menepati undanganku hari ini." Pria itu menyibak rambut spikenya kearah belakang.
"Siapa kau?" Charlie menilik dari atas kebawa penampilan pria tersebut.
Harry terlihat waspada, dari balik pilar-pilar penyangga tua, telah terlihat beberapa pria bertubuh kekar yang dirinya duga jika itu adalah bawahan dari pria sombong tersebut. Dia kemudian menekan tombol sebuah bel peringatan di tangan yang tersambung dengan anak buah Marcus di luar gedung. Berjaga-jaga jika suatu saat mereka akan menyerangnya.
"Turunkan kewaspadaan kalian, nak." Pria itu terkekeh pelan. "Kami tidak berbahaya selama kalian tidak memberontak."
"Jangan basa-basi." Harry muak dengan permainan kata pria itu. "Siapa kau sebenarnya? Dan apa hubungan dengan Evan Rossier?"
Charlie dan Harry kembali tersinggung, saat pria itu terus tertawa seolah perkataan mereka adalah hal yang sangat lucu.
"Aku adalah Quirino Matthias, salah satu kepercayaan Tuan Evan."
"Seingatku, kami tidak pernah menyenggol Bos-mu. Jadi apa masalahnya?"
"Kamu sungguh berani." Quirino berkata angkuh, saat melihat bocah paling muda di hadapannya terlalu kurang ajar. "Sangat tidak beruntung sekali kalian harus berhadapan dengan Tuan Evan."
Pria itu melangkah, sementara Harry sedikit mundur untuk siaga.
"Serahkan dirimu secara baik-baik pada Tuan Evans, maka temanmu akan aman."
"Kau bercanda?" Rahang Harry mengeras, tangannya mengepal.
"Ya, setidaknya temanmu akan aman jika kau mau menyerahkan diri." Pria itu mengendurkan bahunya tak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil
RandomKeduanya menyimpan rahasia masing-masing secara rapat dari dunia luar. Yang mereka tau hanyalah Harry dan Draco yang menjadi Rival abadi. Harry sibuk dengan balapan motornya, sementara Draco si King Driftyang selalu mengawasi Harry dari belakang. H...
