Harry sedikitnya kecewa dengan kemenangan Draco, seharusnya dia senang bukan? Tetapi tidak. Jauh dalam hatinya, dia lebih memilih Avery yang memenangkan pertandingannya. Soal harga diri, dia ingin melihat Draco yang jatuh terinjak-injak dan berakhir dalam kekalahan yang memalukan.
Ini bukan soal dendam, tapi bahkan dia tidak sudi untuk berada dalam satu udara bersama tunangannya. Suasana dalam mobil terasa berat, meski keheningan mereka terisi dengan suara gerungan mesin dari luar, tetap saja dirinya tak ingin membuka suara untuk sekedar berbincang atau basa-basi, Harry terlalu muak dan benci.
"Andaikan kamu tau, bahwa Avery tidaklah sebaik itu." Draco berucap—memecah keheningan.
Lirikan netra hijaunya, terlihat sinis saat melihat Draco, meski tak sudi untuk sekedar meliriknya. "Memangnya... Seberapa baik dirimu, sehingga mampu untuk menilai keburukan orang lain?"
Perkataannya pedas dan penuh sindiran, namun tak tampak wajah tersinggung dari raut Draco. Pria itu tetap terlihat tenang, seolah berusaha untuk tidak terbakar api ketika bensin disiramkan pada wajahnya.
"Lebih buruk dari yang kamu kira, dia bahkan sangat berbahaya."
Dengusan terdengar, Harry masih meremehkan ucapan Draco. "Seberapa berbahaya? Aku bahkan pernah hampir mati karena sekelompok orang asing dari Italy."
"Kamu masih senang bermain dengan nyawa?" Masih tetap fokus mengemudi, namun sesekali pandangannya teralih. "Jauhi semua tentang hal yang membahayakan nyawamu!"
Harry mencebikkan bibirnya, lalu berkata dengan tenang—seolah ejekan pedas dilemparkan kembali pada wajah Draco bagaikan kotoran. "Yah... Beberapa bulan lalu aku sibuk dalam pencarian, sementara mungkin kau sedang sibuk bercinta."
"Aku tau aku salah, kamu boleh membenciku dan mencaciku, Harry." Draco mulai menurunkan tekanan mesin, saat mobil miliknya berbelok pada parkiran bawah apartemen dimana Harry tinggal. Lampunya menyorot pada tiang bangunan dan dia masih tetap mengendalikan diri, meski olokan Harry untuknya, tepat mengenai sasaran di dada. "Tapi tolong jauhi Avery, dia mungkin lebih berbahaya."
Harry terdiam, seolah membayangkan sesuatu. Ketika mesin mobil Draco berhenti dan mereka terdiam di areal parkiran, sementara lingkup yang sunyi dan dingin terasa berat baginya untuk bersuara.
Draco membuka sabuk pengamannya, dia beralih menatap Harry secara intens dan tangannya menggenggam lengan Harry yang lembut namun terasa dingin. Tunangannya bahkan tidak melihatnya sedikitpun, sehingga Draco dengan lembut memegang salah satu sisi pipi Harry secara lembut untuk menatapnya.
"Sayangku, kumohon untuk kali ini percayalah padaku..."
"Apa yang harus ku percaya darimu?" bahkan Tatapannya masih enggan untuk beradu pandang dan tetap menghindar untuk melihat sisi lain, tidak ingin melihat Draco.
Draco mengecup lengan Harry, bahkan menciumi secara lembut tunangannya. Berharap dia bisa mendapatkan kepercayaan kembali, meski Harry enggan untuk melihat—masih beruntung Harry tidak melayangkan tinju pada wajahnya.
"Avery bukanlah orang biasa, dia bahkan bergelut dalam dunia gelap. Semuanya adalah rahasia umum bagi kami para pencinta balapan mobil, tapi setelah kasus 2 tahun lalu, sejak terbongkar rahasia besar miliknya. Avery kabur dari Inggris dengan mudah, mengingat dia kebal hukum. Lalu dia tiba-tiba saja datang kembali dan menemui mu."
"Rahasia besar?" Itu setidaknya menarik perhatian Harry dan pemuda cantik itu menatap Draco dengan serius.
"Dia terkena skandal pembunuhan berantai Harry, orang tau bahwa Avery adalah psikopat dan bahkan keluarganya sanggup membayar mahal agar berita buruk tentangnya tidak muncul ke publik."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil
RawakKeduanya menyimpan rahasia masing-masing secara rapat dari dunia luar. Yang mereka tau hanyalah Harry dan Draco yang menjadi Rival abadi. Harry sibuk dengan balapan motornya, sementara Draco si King Driftyang selalu mengawasi Harry dari belakang. H...
