Ruangan itu tampak berantakan, sebagaimana telah digunakan oleh pasangan asmara yang telah dimabuk kasih. Apartemen Harry terasa nampak panas, sementara suara desahan tak berhenti saling bersahutan. Permainan di ranjang semakin liar, dimana Harry dan Draco telah bercinta sejak tadi.
"Angh....stoph..." Tubuh mungil itu mengeliat liar.
Sementara pria yang jauh lebih besar merengkuhnya dengan erat seolah ingin mengungkungnya dalam kurungan nafsu. Draco semakin bergerak cepat, sebagian tubuhnya telah dibahasi oleh keringat, geraman seksi terus keluar dari bibirnya. Hasrat nafsu semakin naik, ketika puas melihat Harry yang nampak kacau dibawahnya. Mendesakkan namanya, meracau dan berkaca-kaca, menerima semua kenikmatan yang telah di berikannya.
Suara dering ponsel terus terdengar sejak tadi, sementara Harry berusaha menggapai ponselnya. Terlalu sulit, Draco seolah tak ingin melepaskannya dan menyetubuhi Harry tiada henti.
"Stophh...anghh... Drake." Matanya berair, diantara hujaman keras dibawa tubuhnya. "Akuhh...h-harus, me-me...ngangkat...hhhh...telepon-nya..." Harry terbata, suaranya nampak serak.
"Siapa, sayang?" Bisikan Draco nampak rendah dan dalam. "Hiraukan."
"Ughh..." Harry menggelinjang hebat, saat ujung kejantanan Draco menekan titik G-spot miliknya. "Ber-rikan, aku waktu... Untuk me-ngang...khat...nya."
"5 menit." Akhirnya Draco mengalah.
Melepaskan tautannya dan membiarkan Harry mengambil ponsel, dia melihat Harry yang meliriknya dan kemudian menjawab panggilannya.
"Hallo..."
Tanpa peduli jika Harry sudah mulai berbicara, Draco membalikkan tubuh itu agar terlentang memunggunginya. Harry sedikit terkejut, saat Draco meraba pantatnya dan mengelusnya.
PLAK...
"Shht..." Harry berusaha menahan teriakan, dia takut jika Ron mendengarnya di seberang sana.
"Siapa?"
"Ron." Jawab Harry pelan.
Tanpa memperdulikan Harry, Draco kembali memasukkan penisnya dari belakang dan menggerakkannya sampai kendalam
"Mmmnnhh..." Harry menahan desahannya dan menggigit bibir, sulit juga memiliki tunangan berlibido tinggi.
"Ada masalah di Trek-X, seseorang memukuli Charlie barusan."
"Apa?" Harry berteriak terkejut. "Bagaimana bisa?"
Draco diam-diam mendengarkan, tidak di sekolah atau dimanapun, Harry masih terus memiliki banyak masalah dan mencelakai dirinya sendiri.
"Kulihat dari stikernya, mereka adalah lawanmu dari Italia. Sama persis dengan yang aku lihat saat kita bertarung di Italia, musim panas lalu."
"Oh, Shit!" Harry mendesak sebal. "Aku akan segera kesana."
"Harry... Kita tidak bisa membiarkannya, kami takut jika mereka segera mengincarmu."
"Baik." Panggilan di tutup.
"Pembuat onar, huh?" Draco bersuara, nampak rendah namun ada rasa amarah disana.
"Mi-minggir." Nafasnya agak sesak, saat tubuh besar Draco menindih di atasnya.
"Tentu, setekah kita menyelesaikan ronde terakhir." Seringaian muncul di bibirnya.
Dan ya... Harry tidak bisa menolak, entah kenapa permainan Draco yang liar sangat di sukainya—
Beberapa waktu berlalu, saat mereka telah menyelesaikan permainannya. Draco menatap Harry yang sibuk membuka sebuah koper hitam yang telah di sembunyikan di balik ranjang tidurnya. Matanya membelalak, ketika dia melihat begitu banyaknya jenis Pistol dan beberapa set peluru.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil
CasualeKeduanya menyimpan rahasia masing-masing secara rapat dari dunia luar. Yang mereka tau hanyalah Harry dan Draco yang menjadi Rival abadi. Harry sibuk dengan balapan motornya, sementara Draco si King Driftyang selalu mengawasi Harry dari belakang. H...
