Ubud, April 2013
Sarah memainkan gemericik air yang mengalir ke dalam bathtub dengan jari-jarinya yang mungil. Sedikit bergidik ketika embusan angin menerpa bagian atas tubuhnya yang terangkat dari air. Ubud pagi itu cukup dingin meski sudah hampir siang hari. Apalagi kamar mandi mereka punya atap terbuka.
Sambil menikmati berendam di air hangat, ia menggesekkan ujung-ujung jari kakinya, memunculkan buih-buih halus di permukaan air. Bathub lonjong nan mungil itu lalu penuh dengan lebih banyak busa karena sudah dilemparkan bath bomb sebelumnya, dengan warna air sedikit jingga.
Tangannya yang lain berpegangan pada sisi bathtub. Sedikit meremasnya, sampai jari-jarinya agak sakit. Tapi ia tak begitu peduli. Tak begitu terasa pula. Ia menggelinjang lemah keenakan dengan sentuhan jari-jari nakal di payudara dan klitorisnya.
Bukan jari-jarinya sendiri, tapi jari laki-laki yang berendam bersamanya dan menjadi alas bagi Sarah merebahkan diri. Ciuman-ciuman kecil yang menggoda mendarat di bahunya, membuatnya makin gila.
Musik britpop dari radio lokal Bali mengalun memenuhi ruangan kamar berukuran sedang di vila yang mereka tempati itu. Lagu-lagu yang diputar sangat acak karena sedang transisi program pukul 10 pagi.
Volume suara radio itu begitu keras sampai menembus keluar dinding. Membuat lenguhan lembut Sarah tertelan di baliknya. Sekalipun terdengar, dia dan lelaki yang sedang berbagi peluh itu tak peduli itu karena sedang hanyut dalam kenikmatan.
Lelaki itu adalah Alex, orang yang dikenalnya lewat aplikasi pesan beberapa bulan lalu. Satu dari sekian banyak rekan chat dewasa yang dikenalnya di dunia maya. Semua rekan chat Sarah adalah laki-laki dari belahan dunia lain, bukan dari Indonesia. Begitu juga Alex, si lelaki Skandinavia yang pendiam tapi galak di tempat tidur itu. Sarah tak pernah menyangka akan seklik itu dengan Alex yang relatif introvert.
Kini dia dan Alex tidak hanya berbincang di dunia maya, tapi bersenang-senang secara langsung. Bahkan, mereka tinggal bersama dan berbagi tempat tidur. Kini, sudah nyaris satu minggu ia bersama Alex. Meskipun mereka tidak hanya berdua, tapi tinggal di satu vila bersama teman-teman Alex yang lain.
"Alex...cukup," Sarah meracau. Jari-jari itu makin liar.
Sarah mulai merasakan darah mengalir naik ke kepala. Kakinya tak bisa diam, memicu lebih banyak buih di permukaan air. Dadanya naik-turun di tengah nafasnya yang tersengal.
Bukannya berhenti, Alex malah semakin menjadi-jadi. Ditenggelamkan wajahnya ke ceruk leher gadis itu dan menciumi sejadi-jadinya, juga menggigiti lembut kulitnya. Sarah makin dibuat gila dengan rangsangan yang bertubi-tubi itu. Jari-jari Alex yang besar dengan jahil memilin puting payudaranya yang menegang.
"C-cukup!" ucap Sarah lagi. Tangannya yang semula memainkan air mengalir refleks memegangi pergelangan tangan Alex, yang jari-jarinya kian menggeliat tanpa ampun. Kasar sekali.
Air bathtub mulai bergolak dan tumpah ke lantai. Membasahi permukaan yang semula dingin dan kering.
Tak lama, air yang tumpah semakin banyak. Sarah menepis tangan Alex dan mengangkat badannya, lalu berbalik.
"Kan, ku bilang cukup," kata Sarah sambil merengut. Pura-pura sebal tapi bagi Alex ekspresi itu malah terlihat menggemaskan. Mereka saling bertukar pandang tanpa bicara apapun, lalu sekian detik kemudian menertawakan diri mereka sendiri. Untuk sesaat menikmati musik britpop mengisi keheningan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)