Pillow Talk

1K 18 0
                                        

Waktu sudah hampir pukul 12 malam. Lampu kamar tidur sudah dimatikan.

Sambil berbaring di tempat tidur dan membelakangi Alex, pandangan Sarah tak lepas dari layar ponselnya. Jempolnya menggulirkan layar naik-turun, sambil hanya menatap layar yang sama, kontak kakaknya, Dina.

Sejak pulang dari toko Ayu tadi, ia tak pernah berhenti memikirkan kata-kata bosnya. Sarah memang sudah lama tidak mengontak kakaknya untuk sekadar memberi kabar. Juga mama dan papanya.

Tapi ia masih ragu untuk melakukannya, apakah lebih baik menelepon kakaknya atau mengirimi pesan saja? Kalau pesan, apakah harus dilakukan sekarang atau besok saja? Sarah tak kunjung dapat memutuskannya.

"Tidak bisa tidur..?" tanya Alex di belakangnya dengan suara serak dan terdengar sedikit diseret.

Sarah tak menjawab. Menganggap Alex sedang mengigau. Soalnya dia sudah tertidur sejak satu setengah jam lalu, pikir Sarah. Gara-gara ini dia baru sadar kalau malam sudah selarut itu. Ia pun mengurungkan niat untuk menghubungi kakaknya malam itu.

"Kau sudah seperti itu setengah jam. Nanti matamu sakit," lanjutnya.

Kali ini, Sarah menyadari kata-kata barusan tidak datang dari seseorang yang sedang mengigau. Dia langsung membalikkan badannya.

Alex yang semula dilihatnya tengah berbaring terlentang dengan mata terpejam, kemudian menoleh dan menatap balik Sarah. Tatapannya tampak mengantuk dengan kelopak mata yang tak terbuka sepenuhnya. Berkedip beberapa kali.

"Kukira kau sudah tidur?" tanya Sarah.

"Sudah. Lalu terbangun...tertidur lagi, terbangun lagi."

"Aku ganggu, ya?"

"Lumayan. Layarmu..bikin ada cahaya-cahaya," jawabnya sambil tersenyum.

"Ya ampun. Maaf, deh. Aku nggak main HP lagi."

Sarah buru-buru mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di meja.

"Aku bingung," ucapnya, setelah sempat terdiam sesaat. "Kayaknya hampir seminggu lebih belum mengabari kakakku bahwa aku di sini. Dan tadi siang bosku mengingatkan itu. Aku jadi kepikiran lagi."

"Kakakmu...yang bajunya suka kau ambil itu?"

"Ingatanmu kuat juga sama hal nggak penting kayak gitu," Sarah melirik Alex sambil mengernyitkan dahi. Ia lalu bergumam, "Ngapain ya aku cerita hal kayak begitu segala...eh tapi aku nggak ngambil, ya. Pinjam. Kayak yang kau nggak pernah begitu saja."

Alex cuma tertawa, "nggak pernah. Kan kakakku perempuan dua-duanya."

"Oh iya juga," Sarah mengangguk. "Nah, iya, kakakku yang itu."

"Terus, sudah kau kabari?"

"Belum."

"Ya sudah. Tinggal kabari saja kan besok?"

Sarah menghela nafas, "nggak semudah itu. Aku sama kakakku sebetulnya nggak terlalu dekat. Lagian dia sering ngomel, lebih berisik dari mamaku. Aku malas diomeli. Terus aku bingung kalau nanti saat aku telepon dia banyak tanya soal aku di sini ngapain, sama siapa, kapan aku pulang, atau mengingatkan kuliahku gimana....Aku sampai mikir kayaknya kirim dia pesan saja, bukan telepon. Supaya dia nggak banyak tanya. Tapi nggak enak juga kalau aku cuma mengabari lewat pesan."

Keadaan hening sejenak. Di tengah gelap, sedari tadi Alex cuma memandangi Sarah yang asyik bercerita. Sekilas, ia tak begitu mendengarkan apa yang diceritakan Sarah. Karena matanya juga memang sudah terasa berat.

"Selintas aku malah jadi kepikiran juga. Kenapa ya selama ini aku susah dekat sama kakakku. Banyak nggak cocoknya, cuma ngobrol seperlunya. Padahal sama-sama perempuan, sekarang kami di rumah juga cuma berdua karena papa dan mamaku pindah ke luar kota, ke tempat nenekku..."

Sarah berhenti bicara. Keadaan hening lagi. Barulah ia menyadari Alex sempat menyebut kedua kakaknya.

"Apa kau suka mengabari kakak-kakakmu, atau orangtua saat jauh?" tanya Sarah penasaran.

" Tidak juga," jawabnya. "Mengabari kalau ada perlu saja. Atau, yah, sesekali menanyakan kabar. Tapi jarang."

Sarah mendesah. "Ah..aku jadi tambah bingung."

"Hmm..kalau gitu, tidur saja dulu. Besok lagi berpikirnya," ucap Alex santai.

Saking terkejutnya dan mengira itu respons bercanda, Sarah sampai menoleh lagi. Tapi air muka Alex tampak serius. Meskipun raut itu dilihatnya samar di tengah kegelapan.

"Kita cenderung overthinking saat tengah malam. Jadi, lebih baik sekarang istirahat dulu, kan? Besok lanjut berpikir lagi," lanjut Alex.

Sambil mencerna kata-kata itu, pandangan Sarah terkunci pada Alex selama beberapa detik. "Kau benar juga. Ya sudah, ayo tidur, deh."

Keduanya mulai memejamkan mata. Suasana di luar vila sedang benar-benar hening. Hanya ada suara serangga yang datang sesekali. Sambil mencoba terpejam, Sarah langsung menyadari kalau suaranya saat bercerita tadi sepertinya agak terlalu keras untuk malam sehening itu. Tapi ia merasa lega karena sepertinya tidak ada yang terbangun di kamar lain.

Sayangnya, semakin dia berusaha memejamkan mata, semakin sulit ia tertidur.

"Alex..."

"..hm?"

"Aku masih takjub lho, kau tetap bisa bangun jam 5 pagi meski jam segini belum tidur...aku nggak tau kalau jam segini belum tidur, besok bakal bangun jam berapa."

Alex tersenyum dengan matanya yang masih dipejamkan. "Kan tadi aku sudah tidur sedikit."

"Yahh, tapi kan tidurnya terpotong."

"Yang penting tidur cukup," Alex lalu membuka mata. Memerhatikan lekuk wajah perempuan yang berbaring di sampingnya. "Lagian itu sudah kebiasaan bertahun-tahun. Sulit dihilangkan.."

Alex sangat suka mengamati detail wajah Sarah dari dekat, apalagi ketika sedang bercerita atau sekadar mengeluh. Bibir mungil dan hidungnya yang kecil tapi mancung itu baginya terlihat menggemaskan sekali.

Rambut Sarah yang wangi aroma buah beri itu juga mengingatkannya pada kebun buah-buahan di halaman rumahnya. Sederhana, tapi selalu membuatnya betah berdekatan karena merasa seperti berada di rumahnya yang dikelilingi kebun buah.

"Hmm..tapi kebiasaan yang bagus," kata Sarah. "Mungkin nanti menular padaku, ya? Baru semingguan saja aku sudah mulai bangun agak pagi, lho.."

"Ya...mungkin. Bisa saja."

"Ehm, Alex," Sarah lalu menatap Alex. Sepasang matanya yang mengantuk tampak mulai layu.

"Ya?"

"Boleh minta peluk?"

"Tentu," ucap Alex mengalungkan lengannya melewati bahu dan pinggang Sarah. Memeluknya dari belakang.

Sarah sedikit bergidik saat merasakan nafas hangat menerpa tengkuknya. Tapi pelukan nyaman itu bikin matanya lebih cepat berat dan terpejam.

"Tahu nggak. Aneh banget...tapi kalau dipeluk rasanya aku jadi lebih cepat mengantuk," kata Sarah dengan kalimat yang sedikit diseret karena mengantuk.

Alex menganggukkan kepalanya sambil merapatkan dekapannya. Ia tersenyum tipis. "Tapi besok pagi aku bangun dengan tangan pegal-pegal karena kepalamu menindih bahuku sepanjang malam," selorohnya.

Mereka lalu tertawa dan itu jadi obrolan terakhir malam itu sebelum akhirnya sama-sama terlelap.

Bersambung.....

Roommates for 30 Days [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang