Sarah membuka matanya perlahan, mengerjapkannya beberapa kali sebelum benar-benar terjaga. Sinar matahari belum menembus tirai kamarnya dan ruangan masih gelap. Ia menduga pagi belum tiba. Mungkin sekitar pukul 5 pagi, pikirnya, jam biasa ia terbangun. Belum ada suara-suara burung di luar, juga belum ada suara siapapun dari luar kamarnya. Hening sekali.
Ia lalu membalikkan badan dengan kesadarannya yang mulai utuh. Gesekan kulit telanjangnya dan kain selimut yang sejuk seperti menahannya di tempat tidur, enggan meninggalkan kenyamanan itu.
Di tengah gelap, tampak Alex terduduk di tepi tempat tidur sedang meregangkan pelan kepala dan bahunya. Lalu terdiam, seperti sedang mengumpulkan kesadarannya.
Bahu yang lebar dan lengan yang kuat itu...
Ingatan tentang semalam tiba-tiba melintasi pikiran Sarah. Ia masih ingat betul setiap detailnya. Semuanya terasa begitu cepat dan intens. Ciuman penuh candu yang membuat sekujur tubuhnya terasa hangat itu.
Perlahan kedua matanya terpejam kembali, seolah mengumpulkan lebih banyak memori tentang semalam. Mengingat bagaimana punggungnya membentur dinding dan ia berpegangan erat pada lengan kuat yang menggendong tubuhnya itu. Sambil meraba-raba sekitar, bersusah payah mencari tempat berpegangan agar tidak jatuh.
Bercumbu dengan posisi seperti itu ternyata tidak semudah seperti di film-film. Seingatnya posisi itu hanya bertahan sebentar saja, tapi rasanya lama sekali. Seingatnya lagi, Alex tampak tak kesusahan menggotongnya. Sarah bertanya-tanya, apakah dirinya seringan itu? Dia tak peduli. Yang jelas, semalam luar biasa nikmat.
Ia juga ingat adrenalinnya seperti terpacu, khawatir ada orang yang naik ke lantai dua. Tapi Sarah sempat berharap benar-benar ada yang naik dan memergoki mereka.
Apa memang pikiran-pikiran kotor dan masuk akal begitu suka melintasi otak orang dewasa?
Semalam bukan pertama kalinya mereka bercumbu di luar kamar, tapi pertama kalinya dengan orang-orang lain di dalam vila. Setiap hentakan penuh nafsu yang dirasakan Sarah semalam rasanya masih membekas. Juga hentakan di tempat tidur yang mengantarkannya hingga terlelap.
Sial, mengingatnya saja bikin merinding dan terangsang lagi, pikir Sarah.
Di sela ingatannya itu, laki-laki yang duduk di hadapannya menengok ke belakangnya dan menyadari Sarah sudah terbangun.
"Oh, hai? Morning," sapa Alex, menyadari jari-jari mungil Sarah menyentuh punggung telanjangnya. Refleks Sarah membuka matanya, membuyarkan lamunannya untuk kembali ke kenyataan.
"Morning..." jawab Sarah lemah.
"Kau mau lari pagi ini? Aku tidak enak membangunkanmu."
"Jam berapa ini?"
"4.50."
"Mau...aku siap-siap sebentar lagi."
"Oke," jawab Alex singkat. Lalu hening sejenak. "Hmm...bisa lepaskan tanganmu dari celanaku?"
Sarah terkesiap. Baru menyadari tangannya menarik bagian karet celana pendek Alex. Buru-buru dia menarik tangannya. "Maaf!"
"Tidak apa," Alex terkekeh.
Jeda beberapa saat, ia lalu meringkuk ke sisi kosong di samping Sarah. Melingkarkan lengan panjangnya di pinggang perempuan mungil itu dan mendekapnya erat-erat.
"Ngomong-ngomong..sepertinya bukan masalah jika kita lari lima menit lebih siang dari biasanya..." katanya, sambil membenamkan wajahnya di leher perempuan itu. Sarah mendesah pelan, merasakan embusan napas hangat di titik sensitifnya. Jari-jari lembutnya mencengkrami tengkuk dan lengan Alex, yang meninggalkan kecupan-kecupan lembut di sekitar telinganya.
Seolah tak diberi kesempatan bernapas, Sarah merasakan lenguhannya tertahan saat Alex mulai melumat bibirnya. Menenggelamkan mereka dalam napsu yang memabukkan. Sensasi yang familiar mengalir di tubuh Sarah. Kali ini baginya terasa lebih intim, di tengah kegelapan dan semburat fajar, juga keheningan.
Ciuman itu semakin dalam, tapi tidak terburu-buru. Ketika kecupan itu mulai semakin panas, Alex menarik diri perlahan sambil tertawa canggung. "Oke..aku harus siap-siap," katanya.
Sarah membalasnya dengan tawa yang tak kalah canggung. Meskipun mereka sama-sama bingung dengan kecanggungan itu.
"Hmm, ya. Nanti matahari keburu naik. Pergilah," Sarah menepuk lengan Alex, lalu bangkit untuk mengambil minum.
Sambil menyiapkan pakaian larinya, Sarah merogoh ke dalam tas ranselnya, mengeluarkan pil kecil yang masih tersegel rapi dari kantong obatnya. Ia lalu memandanginya. Pil yang kata sumber-sumber di internet bilang bisa mencegah kehamilan jika berhubungan tanpa pakai pengaman. Alex tidak pakai kondom semalam, batinnya. Tepatnya, tidak sempat.
Hatinya berdegup kencang. Sarah belum pernah meminum pil itu sebelumnya dan hanya membaca di internet. Tidak mungkin dia menanyakannya pada kak Dina, atau teman-teman perempuannya, karena bakal ditanya aneh-aneh.
Apa aku memang harus meminum ini? Aku bakal baik-baik saja setelah meminum ini, kan?
***
Pukul 06.35. Mereka sudah menempuh jarak hampir 7 kilometer, sedikit lebih banyak dari jarak yang biasa ditempuh Sarah.
"Lumayan. Hari ini sudah 7 kilometer, lho," kata Alex sambil mengintip jam tangan pintarnya. "Kau bersemangat banget hari ini."
"Oh, ya? Entah kenapa aku lagi segar banget pagi ini. Tidurku nyenyak," jawab Sarah. Kedua kakinya sedikit mempercepat langkah mengejar langkah Alex yang besar-besar. "Kayaknya aku perlu jam tangan seperti punyamu, deh. Supaya lebih gampang kalau olahraga."
"Oh, wow. Motivasimu lumayan juga. Aku masih ingat hari pertama lari kau sulit sekali bangun pagi dan kita terpaksa lari jam 6 lebih."
"Ya..ya..waktu itu lariku masih payah. Dan lambat," sahut Sarah dengan nada tak antusias.
"Eh? Aku tidak bilang begitu," Alex tertawa. Mereka berjalan beriringan sambil mengatur napas. "Yah, wajar staminamu masih kurang saat itu karena baru mulai lari, kan."
Mereka lalu menepi dan bersandar di sebuah batu tinggi. Di sampingnya terhampar pemandangan lereng sawah yang begitu hijau. Keduanya terdiam sejenak sambil meneguk air dari botol minum yang mereka bawa. Sepoi angin menerpa kulit berkeringat mereka, meninggalkan rasa sejuk yang menenangkan.
"Akan kuberi kau kado jam tangan pintar seperti ini untuk ulang tahunmu nanti," kata Alex.
"Ulang tahunku masih lama!"
"Desember, kan? Yah, hanya beberapa bulan lagi."
"Memangnya kau masih di Indonesia?" tanya Sarah, dengan nada sedikit menantang.
"Belum tentu. Tapi ada teknologi namanya internet. Aku bisa kirim jam itu dari jauh, kau bisa berikan aku alamat rumahmu."
Sarah terkekeh. "Sial. Aku juga tahu teknologi itu. Baiklah, nanti kubuktikan apa kau benar-benar kirim kado jam tangan atau tidak," jawab Sarah. Alex hanya meresponsnya dengan anggukan penuh keyakinan.
Mereka lalu hening sejenak. Di sela itu, ponsel yang dikantongi Sarah di jaketnya bergetar. Ada beberapa getaran tanda ada lebih dari satu pesan masuk. Ia buru-buru meraih ponsel itu dari kantongnya.
Tiga pesan dari kakaknya, Dina. Ada apa? Pagi-pagi begini sudah mengirimi pesan, batin Sarah.
"Hai, sar. Kakak sudah pesankan tiket pesawat untuk minggu depan ya! Hari Kamis jam 7 pagi, semoga bandara tidak jauh dari tempat kamu menginap."
"Detail tiketnya sudah kakak kirim ke email. Kalau nggak muncul kabarin ya."
"Kabarin kalo kamu pengen disiapin sesuatu atau makanan apa gitu di rumah. Nggak sabar ketemu kamu sar, bisa kangen juga ternyata kakak. See you, sar!"
Sarah mematikan ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia menengok ke sampingnya, Alex masih sibuk melakukan pendinginan sambil sesekali menikmati pemandangan. Sarah yakin Alex tidak melihat air mukanya yang berubah drastis.
Kamis depan aku pulang. Artinya..tinggal lima hari lagi di sini??
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)