Matahari mulai beranjak turun, meninggalkan langit dengan gradasi warna yang menenangkan. Sarah merebahkan diri di tempat tidurnya sambil memutar film lewat proyektor. Khawatir itu jadi hari terakhirnya menikmati bioskop kamar karena Lukas mengetahuinya.
Alex keluar dari kamar mandi, handuk masih melilit pinggangnya. Rambut basahnya terurai bebas. Ia lalu mengambil pakaian baru dan buru-buru memakainya, kemudian duduk di samping Sarah.
"Kau masih juga menonton TJ Edgar?" tanya dia.
"Yang terakhir kita tonton kan masih menggantung. Lagian aku suka sama lagu-lagu soundtrack film-nya."
Sarah berterima kasih pada proyektor yang dia pinjam di bioskop mini, sehingga perhatian Alex banyak teralihkan ke aktivitas menonton, tidak penasaran dengan apa yang terjadi pada Beth.
Sayangnya, fokus Sarah buyar di sepanjang film. Hati kecilnya ingin sekali mengabaikan kata-kata Lukas untuk merahasiakan kejadian tadi pada Alex. Baru sekitar satu jam mereka menonton, Sarah mengambil keputusan dan menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
Sarah lalu memandangi Alex yang pandangannya fokus pada layar. Sekilas fokusnya sedikit teralihkan dengan ujung-ujung rambut Alex yang masih basah dan membuatnya tampak sedikit menawan.
"Alex, kau ingat kan, aku pernah cerita tentang Hans dan Beth yang waktu itu sepertinya bertengkar di dapur? Kau pernah janji bakal menanyakannya pada Hans," tanya Sarah pelan.
Alex mengernyit, berusaha mengingat. "Hmm...ya?"
Sarah mengangguk. "Tadi mereka bertengkar lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya."
Alex tak memberikan respons, masih fokus pada apa yang ditontonnya di layar, atau berpura-pura tidak tertarik.
"Kali ini aku yakin mereka bertengkar," sambung Sarah. "Lukas dan aku melihat langsung. Hans pergi setelah dia dan Beth bertengkar. Aku benar-benar khawatir pada Beth. Dia terlihat parah banget."
Ruangan hening sejenak. Sarah memerhatikan Alex yang terdiam, menanti respons.
"Beth sudah cerita semuanya," lanjut Sarah.
Alex masih diam. Sarah tahu, laki-laki ini memang tak banyak bicara dan lebih suka menyimpan opini di kepalanya. Tapi dia yakin, Alex sedang menimbang-nimbang sesuatu. Itu terlihat dari air mukanya.
Sempat kembali menatap layar, Sarah lalu terdiam, frustrasi mulai menggerogotinya. Dia ingin Alex menunjukkan kepeduliannya. Soalnya, suasana yang tidak nyaman di vila bakal memengaruhi semuanya. Keheningan di kamar ini terasa mencekik bagi Sarah yang memerlukan jawaban. Entah kenapa Sarah berpikir Alex masih mau membela Hans karena tidak melihat sendiri peristiwa itu.
"Alex," Sarah memulai dengan suara gemetar, "aku tahu kau mungkin bingung memilih kata-kata, tapi tolong, Beth butuh bantuan kita."
Alex akhirnya menatap balik Sarah, sorot matanya penuh dengan pertanyaan. Ia lalu membuang pandangannya, menerawang jauh ke depan.
"Aku paham," kata Alex akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. "Tapi kita bisa apa? Itu urusan pribadi mereka? Salah bergerak bisa membuat suasana jadi runyam. Jadwal pulang kami ke Swedia masih beberapa minggu lagi. Kau paham, kan?"
Sarah tertawa miris. Sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia juga kecewa. Jangan-jangan jika ada yang terjadi dengannya, Alex juga tak bakal peduli. Dia berharap Alex bisa lebih peka terhadap situasi ini.
"Jadi kau nggak percaya apa yang aku lihat?" tanya Sarah, suaranya sedikit meninggi karena emosi. Kepalanya mulai terasa berdenyut karena kesal dan ingin meledak.
Alex menatapnya, raut wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan. "Bukan begitu.. Aku mengenal Hans dan sepertinya dia tidak setega itu."
"Sepertinya? Padahal kau pernah bilang kalau Hans kadang menyebalkan karena punya uang?"
Alex menghela napas panjang dan terdiam, berusaha memahami situasi. Dia tahu Sarah tidak akan berbohong, tapi hati kecilnya tidak ingin langsung menyalahkan Hans.
"Oke, begini," kata Sarah. "Bagaimana kalau kau tanya sama Lukas? Dia temanmu juga, kan? Dia tadi ada bersamaku."
TOK TOK
Seseorang mengetuk pintu kamar dan menginterupsi obrolan mereka. Alex bangkit dari tempat tidur untuk membuka pintu. Sosok Viktor muncul dari baliknya.
"Ah, cepat juga dibuka pintunya. Untunglah kali ini aku nggak mengganggu kalian....AH BENAR KAN!" Viktor mengarahkan telunjuknya ke dinding tempat proyektor ditembakkan. Saking fokusnya berdebat, Sarah dan Alex lupa membereskan proyektor itu sebelum membuka pintu.
"Ternyata benar kata Lukas kalian nonton di kamar!" lanjut Viktor. "Kenapa tidak bilang-bilang kalian punya alat kayak begini? Lebih baik taruh di ruang makan saja buat bersama. Ayo, mumpung semua sedang kumpul di bawah."
Oh, semua? Apa Hans dan Beth sudah baikan lagi? Cepat sekali, pikir Sarah.
Sambil mempereteli proyektor itu untuk dibawa ke bawah, Sarah menghela napas kecewa. Ternyata hari ini benar-benar kali terakhirnya menikmati bioskop kamar hanya berdua saja dengan Alex.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)