Matahari yang Pergi

86 1 0
                                        

Alex membuka matanya kala Ubud masih gelap. Tidak ada suara alarm yang membangunkan, karena memang tubuhnya selalu terprogram bangun tepat pukul lima. Seperti biasa. Tapi ada yang berbeda pagi ini.

Refleks, yang pertama ia lihat adalah sisi ranjang yang kosong. Selimut yang rapi tanpa lipatan dan bantal-bantal yang tertumpuk. Tak ada jejak tubuh di sana. Sesaat, otaknya seperti menolak mengerti. Lalu ingatannya menampar balik. Sarah benar-benar pergi saat ia masih tertidur.

Alex mendesah pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. Gerakannya mekanis, seperti rutinitas pagi biasanya. Tapi pikirannya masih terjebak di sisa bayangan Sarah. Suasana pagi itu terasa aneh, asing, dan kosong baginya, seperti dunia yang kehilangan matahari.

Ia melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan mata menelusuri sekitar. Tidak ada lagi barang milik Sarah. Semuanya rapi. Sambil menyalakan kran wastafel,, tangannya meraih sikat gigi terburu-buru dan tak sengaja memencet tabung pasta gigi terlalu kuat sampai isinya muncrat kebanyakan. Alex hanya menatap kekacauan itu sejenak, lalu tanpa banyak berpikir membersihkan wastafel dan menggosok giginya.

"Fokus…" bisik kecil dalam hatinya.

Ia melanjutkan rutinitas. Diraihnya handuk untuk mengeringkan wajah dan tangannya yang basah, lalu mengganti baju lari. Udara sejuk menepuk wajahnya saat membuka pintu kamar. Langit masih gelap. Ia lalu duduk di kursi beranda sambil mengenakan sepatu, tapi baru menyadari ia lupa mengambil kaus kaki. Sekali lagi, Alex mendesah, lalu berbalik ke kamar untuk mengambil kaus kaki bersih di lemari. Semua terasa aneh. Seolah tubuhnya ingat rutinitas, tapi otaknya tidak benar-benar ada di tempat yang sama.

Langkahnya terhenti sejenak sebelum pergi lari. Untuk pertama kalinya, 

“Aku bisa lari lebih kencang dan lebih jauh hari ini,” pikirnya dalam hati, mencoba mengalihkan pikiran dengan sesuatu yang membuatnya bersemangat. Meskipun –lagi-lagi, sedikit merasa kosong karena beberapa pekan terakhir Sarah selalu menemaninya lari pagi. 

Sarah yang langkahnya kecil-kecil dan tak bisa lari jauh….” pikirnya. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan fokus lagi pada momen saat itu sambil berlari meninggalkan vila.

***


Pagi itu Ubud terasa lebih dingin dari biasanya, kabut tipis masih menggantung di udara. Alex berlari menyusuri Bukit Campuhan, jalur favoritnya sejak pindah ke vila ini. Jalur yang sunyi dan ditemani cahaya matahari yang masih malu-malu.

Kecepatan larinya sedikit melambat saat tiba di puncak jalur, menatap bentangan lembah dan garis-garis sawah yang menghampar, seperti kanvas yang terlalu tenang untuk suasana hatinya pagi ini. Tapi lagi-lagi pikirannya berkelana jauh ke hari pertama Sarah mengikutinya lari ke sana. Sarah yang begitu terpesona dengan pemandangan cantik itu dan berhenti untuk mengambil foto.

Menyadari langkahnya kian melambat, Alex berbalik arah untuk mencari rute lain sebelum kembali ke vila. Mengurungkan niat untuk lari lebih jauh sebab menit ke menit terasa begitu lambat baginya saat itu.

***

"Pulang? Maksudmu balik ke Jakarta?" tanya Viktor, setibanya Alex di vila dan hanya sendirian. Keributan khas pagi di sana tiba-tiba terbuyarkan. Isak –dengan wajah merah sisa mabuk semalam terhuyung turun dari tangga dan langsung bergabung dengan teman-temannya di meja makan.

Kapan? Tadi malam dia masih ada, kan??” sahut Isak. Alex tak langsung membalas, tapi lalu kepalanya menggeleng.

Sebentar,” sela Viktor. “Kok bisa, kau satu tempat tidur, satu kamar dengan dia tapi tidak tahu kapan dia pergi??”

Roommates for 30 Days [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang