Siang Bersama Ayu

280 7 0
                                        

Ayu menjadi orang pertama yang tahu Sarah akan pulang ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Siang itu Sarah berencana berpamitan dengan bosnya sekaligus berhenti kerja paruh waktu.

Selama bercerita, pandangan Sarah menjelajahi semua sudut tempat itu. Hiasan-hiasan bergaya bohemian yang membuatnya seperti rumah bernuansa etnik, terkesan etnik, dinding kaca satu arah yang seringkali dipandanginya untuk menonton orang yang berlalu-lalang, hingga aromaterapi kayu yang menjadi favoritnya. Semua bakal dirindukannya.

"Jadi, yang kamu bingungin apa?" tanya Ayu dengan nada ramah dan bijak. Sarah diam sejenak. Ia pun bingung menjawabnya.

"Hmm..apa ya. Aku bingung, apa bilang aja sama mereka semua kalau aku pulang lima hari lagi, atau..."

"Bingung atau nggak mau bilang? Berat hati bilang?"

"Uhm, itu juga."

"Bingung menghadapi perpisahan ya?"

Sarah terdiam, hanya sedikit mengangguk. Pertanyaan Ayu baginya terdengar begitu sederhana, tapi membuat dirinya menyadari banyak hal.

"Jadi dewasa ya begitu. Kamu harus terbiasa. Termasuk terbiasa dengan segala pertemuan dan perpisahan. Itu sepaket, cuma masalah waktu, dan kita nggak bisa nawar ke Tuhan," kata Ayu. Sarah menyimak dengan serius sambil memainkan gumpalan bola kertas kecil di tangannya.

"Perpisahan itu nggak hanya kamu yang alami, tapi semua orang. Awal dan akhir. Teman-temanmu itu juga menghadapi perpisahan saat nanti kamu pulang, atau mereka pulang. Hal yang biasa saja, kan? Kamu kan sudah ngalamin. Kayak...ada hari pertama masuk sekolah, ada hari terakhir. Itu terjadi terus. Jadi nggak usah dianggap berat."

Sarah hanya merengut. Menyadari apa yang Ayu katakan benar, tetapi merasa kegalauan yang dihadapinya belum mendapatkan solusi.

Ayu yang sedari tadi sibuk menyortir aksesori dan memisahkannya ke kardus-kardus berbeda itu lalu menoleh ke arah Sarah. Dengan muka semringah dia menunjuk Sarah dengan ujung pulpen di tangannya.

"Daripada itu yang kamu pikirin, nih, ada yang kamu pasti ndak kepikiran. Hal-hal yang kamu lakukan sendirian di Bali ini bisa kasih buanyakk pelajaran hidup buat kamu. Itu karena kamu mau mencoba. Jauh dari keluarga, nggak punya banyak uang, mencoba bekerja. Orang bilang, keluar dari zona nyaman," ucap Ayu. "Bagus itu. Masih muda saatnya banyakin pengalaman. Masih 19 tahun kan kamu."

"20 mbok..." Sarah menyela.

"Iya, 20. Beda sedikit. Nah itu, temen-temen kamu di Jakarta mungkin belum ada yang senekad kamu, segila kamu, sengawur kamu, kabur ke Bali, meninggalkan segala kenyamanan."

Sarah menggerutu. "Kok bilangnya ngawur sih..kedengarannya jadi jelek banget. Mbok lagi muji aku atau jelekin sih."

Ayu tergelak. "Muji dong. Nekad dan gila itu nggak selalu jelek, lhoo. Yang ini konteksnya bagus."

Ruangan hening sejenak. Ayu melanjutkan aktivitasnya memindahkan aksesori-aksesori ke dalam kardus yang kosong, sembari mengecek jika ada kemasan yang rusak. Sementara Sarah kembali sibuk melamunkan beragam hal yang menjejali pikirannya. Seskali mengintip layar ponselnya yang bergetar. Hanya pesan dari temannya, Elsa, yang membicarakan tentang seragam mereka untuk foto "geng" nanti. Pesan itu tak langsung Sarah balas.

"Kok bisa kebetulan banget ya," kata Ayu tiba-tiba sambil menggelengkan kepalanya, tangannya yang masih sibuk dengan kardus-kardus aksesori kini mengemasnya dan menutupnya rapi dengan lakban.

"Kebetulan apa?"

Ayu menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menggeser kursi kayunya untuk menghadap Sarah.

Roommates for 30 Days [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang