CKLEKK
"Ah, Alex. Kukira kau masih di luar soalnya teleponku nggak diangkat."
Sosok Hans muncul di balik pintu saat Alex membukanya. Hanya ada Beth di sebelahnya.
"Kami pulang duluan," kata Hans lagi. Menyadari gerak mata Alex yang sempat bercelingak-celinguk ke balik punggungnya, mencari tiga temannya yang lain. "Kunci vila Lukas yang bawa. Aku lupa bawa kunciku."
"Oh, oke."
Tanpa basa-basi Hans mengekori Alex masuk ke dalam vila. Beth di belakangnya, sedikit menunduk dan langkahnya agak canggung. Alex sempat melirik sekejap, tapi lalu memalingkan wajah. Tak terlalu menganggapnya hal penting. Mungkin capek atau kesal. Suasana hati perempuan sering naik-turun.
Sarah lalu tergopoh-gopoh turun dari tangga, sudah berpakaian lengkap lagi dan sempat membersihkan tubuhnya secara kilat. Rambut lurusnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang saat ia turun dari tangga. Ia lalu saling menyapa seadanya dengan Hans dan Beth.
Hans lalu meletakkan kantong kertas berwarna putih di atas meja dan duduk di meja makan.
"Kalian sudah makan? Kami bawa roti. Lumayan buat ganjal perut kalau lapar. Roti gandum, enak sekali. Tidak sengaja kami menemukan tokonya dekat sini. Waktu coba segigit, aku langsung suka. Mirip roti enak yang pernah kumakan di Turki. Tapi maaf ya cuma sedikit. Kalau suka, nanti kita beli lagi."
"Uhm, aku mandi dulu, ya," sela Alex.
"Lho, kalian baru pulang, ya? Siang juga."
"Tadi lari pagi pertamaku di sini. Jadi kami kebanyakan jalan-jalan dan.. ehm, keasyikan lihat pemandangan," sahut Sarah, lalu dengan sumringah menghampiri meja makan dan membuka kantong kertas tadi. Wajahnya berseri-seri saat menemukan potongan roti gandum hangat, persis anak-anak bertemu mainan.
Sarah sangat menyukai roti. Tanpa basa-basi, ia mencubit sedikit untuk dilahap.
Sambil menyalakan televisi di ruang makan, ia asyik mengunyah roti dan hanya ngobrol sekenanya dengan Hans. Sementara Beth sibuk bolak-balik ke dapur, membereskan belanjaan mereka dan memasukkan beberapa barang ke kulkas.
Sesekali Sarah melirik ke arah dapur, memastikan tidak ada barang yang berpindah tempat setelah sesi bercintanya dengan Alex di situ tadi. Sambil coba mengingat-ingat, tadi mereka hanya menyentuh lemari dapur, tidak yang lain. Seingatnya juga tidak ada barang jatuh atau tumpah.
Ekspresi wajah Beth biasa saja. Sarah sedikit lega.
Tak lama, Hans menyusul ke dapur dan cukup lama di sana. Sarah pun fokus pada televisi sambil mengunyah rotinya. Meski tontonannya video musik membosankan dari televisi kabel, rasanya tetap seru-seru saja ditonton.
Selama menonton, di kepalanya terlintas beberapa hal, seperti pekerjaan paruh waktunya yang masih menumpuk, skripsi, dan kapan perlu menelepon kakaknya lagi untuk memberi kabar. Banyak sekali yang dipikirkannya.
Sejurus kemudian, sayup-sayup ia mendengar suara berbincang dari arah dapur. Ia tak peduli isinya dan memang tak suka menguping pembicaraan. Tapi, obrolan itu lama-lama terdengar menegang, dan semakin menegang.
BRAKKKKK
Sarah nyaris melompat dari kursinya. Refleks, ia langsung menengok ke sumber suara dan tangan kirinya memelankan volume televisi. Apa tadi? Seperti ada sesuatu menghantam lemari kayu yang ada di dapur. Tapi ia sulit melihatnya karena terhalang pinggiran dinding. Hans? Beth? Atau ada barang jatuh?
Sarah baru saja mau bangkit dari kursinya dan mengecek jika mereka baik-baik saja. Tapi saat baru beranjak, Sayup-sayup ia mendengarkan suara Hans. Ada sedikit nada bentakan. Beth lalu membalas, tapi suaranya pelan sekali. Suaranya tidak biasa, tapi seperti terisak. Lho? Apa dia menangis?
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)