"Persetan, mau truth atau dare.." kata Alex menggebu.
Permainan truth or dare mereka baru masuk putaran ketiga, tapi aturan sudah tak lagi berlaku.
Sarah terlalu beringas di awal. Licik. Dia jadi mudah terbawa suasana. Apalagi, bercumbu di tangga ternyata memudahkannya. Tubuh mungil Sarah tidak lagi jadi masalah buat Alex yang jauh lebih tinggi.
Sarah melenguh saat lekuk lehernya dicumbui sambil meninggalkan gigitan-gigitan lembut. Meninggalkan tanda memar samar di balik rambutnya. Jari-jari Sarah berusaha keras berpegangan pada tepian tangga, menahan diri supaya tidak jatuh.
Sementara tangannya yang lain meremas-remas rambut Alex tak keruan. Satu kakinya terangkat. Membiarkan dirinya digauli dengan kasar. Sarah merasakan darah mengalir deras ke kepalanya. Sensasi yang biasa dirasakannya kini berlipat ganda nikmatnya. Benda keras yang menembus pangkal pahanya itu terasa berdenyut di dalam dan terus dihentakkan dengan beringas. Membuat gairahnya kian memuncak.
Di sela desahannya, Sarah merasakan tangan besar Alex menyelinap ke dalam kausnya. Buru-buru Sarah menepisnya.
"Tidak ada lepas baju atasan," katanya sambil meringis. Salah satu "dare" yang sudah mereka sepakati adalah tidak melepas atasan sampai permainan selesai.
Alex mendesah kecewa karena tak tahan. Tak lama, ia menggendong Sarah dan berpindah ke lemari dapur. Letaknya di bawah tangga. Saking buru-burunya, mereka hampir menjatuhkan piring-piring yang tersusun rapi.
"Hei! Hati-hati!" Sarah tertawa sambil memegangi lemari dan leher Alex. Tapi sebelum sempat lenguhannya terdengar lagi, bibirnya dilumat dengan lapar. Pinggul mereka mulai bergerak lagi seirama. Sarah merasa dirinya mulai kehilangan akal. Bokongnya yang sekal ditampar kasar berkali-kali sampai terasa menghangat, tapi dia suka itu. Cuaca terik membuat sesi bercinta terasa makin panas.
Samar-samar aroma parfum woody Alex menyelinap ke dalam penciumannya. Bercampur aroma peluh yang justru membuatnya ketagihan. Sambil menggerakkan pinggulnya lebih kencang dan seirama, Sarah mengangkat kausnya. Membiarkan Alex menikmati payudaranya yang ranum meski harus melanggar aturan yang dibuat mereka sendirim
Lemari dapur bukan titik terakhir. Sarah memeluk Alex erat-erat saat tubuhnya diangkat menuju cabana di tepi kolam renang. Tempat merebah yang lebih nyaman dibandingkan lemari yang keras.
Cabana. Sudah lama Sarah membayangkan bercinta di cabana itu. Diiringi gemericik air yang menenangkan. Tiba-tiba melintas di pikirannya untuk menceburkan diri tanpa busana ke kolam renang. Pikiran tentang bercinta di air membuatnya bergidik. Di kolam mungkin lebih enak daripada di bathub sempit seperti tempo hari.
Tapi kepalanya terasa semakin terbang. Sensasi dan getaran menuju puncak kenikmatan mulai terasa. Perasaan yang selalu membuatnya gila dan ketagihan. Ia yakin Alex juga begitu. Mereka lalu tak peduli lagi dengan aturan permainan truth or dare dan saling menanggalkan pakaian dengan frustrasi.
Hentakan pinggang mereka semakin cepat dan kian tak beraturan. Sarah merasa suaranya seperti mau serak karena terlalu banyak mendesah, memenuhi seisi vila yang saat itu hanya ditempati mereka berdua. Tak peduli jika desahannya terdengar menembus dinding.
Tubuh Alex mengejang. Sarah merasakan benda keras di vaginanya dihunjamkan semakin dalam, denyutnya makin terasa. Sebelum akhirnya cairan putih hangat tumpah di perutnya.
Bibir keduanya bertaut, sebelum kemudian sama-sama tergeletak lemas bermandi peluh di atas cabana yang diterpa angin sepoi-sepoi itu.
***
Alex berbaring dengan Sarah yang merebahkan kepala di dadanya, memberi rangkulan yang renggang tapi rapat. Jari-jarinya mengelus punggung telanjang Sarah yang lembut dan dihiasi bulu-bulu halus. Pelan-pelan mereka kembali mengatur napas yang sempat tak keruan.
Tiba-tiba, Sarah mendongak dan memandangi sebentar lelaki dengan mata coklat kehijauan itu. "15, ya?"
"Huh?" Alex membalas tatapannya dengan tatapan bingung dan dahi berkerut. Sesaat ia mengira Sarah sedang hilang akal.
"15, bukan? 15 Februari. Ulang tahunmu 15 Februari, kan?"
Air muka Alex berubah, sedikit kehilangan kata-kata. Tanpa berkata apapun mereka cuma bertukar pandang selama beberapa saat. Lalu tawa Alex pecah, meski napasnya masih tersengal-sengal
"Jadi dari tadi kau memikirkan itu?"
"Yaa. Penasaran! Jawab. Betul, kan?"
Alex mengangguk, sambil menepuk dahinya tak habis pikir. "Betul. Tapi kan hukuman sudah berlaku."
"Aah... Apa nggak bisa dihapus saja? Pelit sekali."
Alex menggeleng. "Maaf nggak bisa. "
TINGGG TONGG
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
"Eh? Mereka pulang!" Sarah spontan bangkit dari cabana. Dengan panik mengumpulkan baju dan pakaian dalamnya yang tercecer di samping cabana.
TINGGG TONGG
Bunyi bel semakin tak sabar. Terdengar sayup-sayup nada dering ponsel Alex dari kamar atas. Membuat mereka semakin panik.
"Duh, teleponku di atas. Di saku celana. Kayaknya mereka telepon," kata Alex.
"Ya sudah aku lari ke atas dulu. Jangan buka pintunya sebelum aku ambil celana!"
"Mana mungkin. Celanaku juga di atas. Aku nggak mungkin buka pintu tanpa celana."
"Oh iya juga." Di tengah kepanikan, Sarah malah tertawa dan sulit berhenti. "Duh. Ya sudah. Aku lari ke atas dan lempar celanamu supaya bisa buka pintu."
Buru-buru, Sarah menghambur ke kamar.
Tanpa disadarinya, Alex tak berhenti memandanginya. Masih tak habis pikir dengan Sarah yang masih berusaha menebak tanggal ulang tahunnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Unik... Benar-benar perempuan mungil yang penuh kejutan," pikirnya.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)