Pesan yang Menggantung

147 2 2
                                        

Sarah nyaris melonjak dari kursinya, tapi ruangan begitu hening. Suara bosnya yang sedang membahas storyline untuk shooting bulan depan seolah jadi dengung samar di telinganya. Pandangannya terkunci pada layar ponsel di tangannya yang agak bergetar dan keringat dingin, menunjukkan sebuah pesan langsung di aplikasi Facebook yang baru saja membuatnya limbung.

Nama "Alexander Larsson" tertera di layar ponselnya yang mungil. Meski nama itu asing, entah kenapa Sarah merasa begitu kenal dengan pengirim pesan ini.

"Halo, ini Alex. Maaf jika kau terganggu dengan pesan ini, aku sedang mencari temanku, Sarah, dan menemukan akun Facebook ini. Tolong balas pesan ini jika kau mengenaliku. Hanya mau memastikan, apakah kau baik-baik saja?

Jika tidak kenal, maaf, abaikan saja pesan ini."

Pikiran Sarah kacau. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia berulang kali berusaha mencerna kalimat-kalimat dalam pesan itu dan bertanya-tanya dalam kepalanya: benarkah ini Alex yang kukenal? Alex yang...

Tiba-tiba terlintas bayangan kehidupan vila di Ubud setahun silam dan wajah Alex yang hampir selalu ada di sisinya, tubuhnya yang tinggi besar, kulit pucatnya, sampai aroma parfum bergamotnya yang melekat di memori. Sarah juga ingat bagaimana ia pergi begitu saja dini hari itu setelah berpamitan seadanya pada Alex. Setelah itu, kehidupan di vila hampir tak pernah muncul di pikirannya dan ia putus kontak total dengan teman-temannya di sana, tetapi semua itu muncul kembali hari ini. Gara-gara pesan seseorang bernama Alex di Facebook.

"Tapi...bagaimana Alex bisa menemukan Facebook-ku?? Alex tidak tahu namaku?!" pikirnya.

Kegelisahan semakin menggempur pikiran Sarah. Kepalanya mulai memikirkan hal-hal terburuk: "bagaimana jika Alex masih menyimpan foto-foto vulgar yang dulu pernah kukirimkan dan teman-temannya tahu itu? Bagaimana jika foto-foto itu tersebar? Atau lebih buruk lagi... tersebar sampai keluarga dan teman-temanku??"

"Sarah?" Suara bosnya tiba-tiba terdengar lebih keras. Dia memanggil dua kali hingga Sarah -yang masih merasakan jantungnya berdegup kencang dan berkeringat dingin, mendongak ke arahnya. Wajah laki-laki berusia 50-an itu menatapnya dengan senyum penuh tanya, seolah memastikan dirinya tidak tertinggal satu informasi sedikitpun.

"Ada pertanyaan? Daritadi kamu lihat HP terus. Kamu bakal latihan jadi co-producer buat program ini. Jadi harus paham ya," tanya sang bos.

"Ah...iya. Paham pak, paham," jawabnya sambil mengangguk cepat. Beberapa pasang mata teman-temannya menoleh. Sarah berusaha memasang senyum kaku, berharap wajahnya tak tampak gugup seperti yang ia rasakan saat ini. Jarinya spontan bergerak untuk menghapus aplikasi tersebut, khawatir bosnya meminta untuk melihat.

"Sarah laper kali, pak. Udah nabrak makan siang ini," sahut salah seorang kru, yang disambut tawa. Bos juga ikut tertawa.

"Iya, ya. Laper juga saya," sambung Bos. "Kita finishing storyline ini sedikit lagi ya, terus pindah ke kantin."

"Wih asik makan-makan ditraktir bos," sahut kru yang lain.

"Saya traktir, tapi uangnya uang kalian," seloroh Bos, lalu disambut sorak dan tawa seisi ruangan. Cukup riuh untuk meluruhkan rasa gugup yang dirasakan Sarah saat itu.

***

Begitu rapat selesai, Sarah menepi ke meja bersama yang biasa ditempati anak magang. Sebelum masa internship enam bulannya selesai di stasiun televisi itu, ia terpaksa menempati meja itu.

Dengan layar ponsel masih gelap, ia memutar-mutar ponselnya. Hatinya berkecamuk antara rasa penasaran, rindu, dan ketakutan yang membuncah. Lalu ia ingat tadi spontan menghapus aplikasi Facebook tersebut, kemudian buru-buru mengunduh kembali.

Sarah kesal karena jaringan internet di kantor saat itu sangat buruk, sehingga proses install jadi sangat lambat. Namun tak lama, kegelisahannya berubah jadi dorongan semangat karena Facebook sudah berhasil dibukanya kembali.

"Hai, Sar!" temannya, Karin, menepuk bahunya sambil mengisi bangku kosong di sebelah Sarah. Karin adalah sahabatnya sejak SMA yang juga sedang internship di kantor yang sama seusai lulus kuliah. Namun, mereka berbeda divisi.

"Ihiiihi selamat yaa bulan depan udah ikut proyek shooting jadi co-pro. Kalau udah gitu, biasanya lanjut sih direkrut karyawan setelah internship beres. Traktir dongg traktir pake gaji pertama," lanjut Karin. Rambut bobnya yang halus bergoyang-goyang saat ia bergerak.

"Ahh nanti. Lagi sibuk," jawab Sarah, dengan mata masih terkunci ke layar ponselnya.

"Sibuk apa sih? Kerjaan? Anak magang sibuk amat," Karin mendekatkan wajahnya dan mengintip layar ponsel Sarah.

"Diem. Gue lagi inget-inget password Facebook," ucap Sarah singkat sambil mencoba-coba kombinasi password dan tetap gagal.

"Dih? Kalo lupa password tinggal pilih aja sih "lupa password". Nanti buka email, bikin password baru."

"Masalahnya gue nggak inget pakai email yang mana."

Karin mengernyit. "Ihhh. Makanya bikin email jangan banyak-banyak. Mau ngapain lo, jualan? Atau mau nge-DM gebetan pakai akun palsu?"

"Ah nggak usah berisik dehh kalo nggak bantu," sahut Sarah ketus.

Karin tertawa dan membiarkan Sarah asyik dengan ponselnya. "Lagian masih aja buka Facebook. Sekarang udah jamannya Instagram kali. Seru tau, banyak foto," tuturnya penuh semangat, tapi Sarah tak menyambut. Masih fokus pada layar ponselnya.

Sarah lalu frustrasi dan meletakkan ponsel di atas meja. Layar menunjukkan ia sudah memenuhi batas percobaan password sehingga tidak bisa mencoba lagi untuk sementara. Ia jadi melankolis dan berpikir mungkin memang dia tidak ditakdirkan membaca ulang dan membalas pesan itu. Aku akan mencobanya lagi nanti...

"Dih kesel sendiri. Ya udah yuk, beli jus aja. Kalo kesorean habis loh buah naganya," kata Karin sambil merangkul bahu Sarah. "Udah sihh nggak usah main Facebook lagi, emangnya masih ada temen di sana? Gue ajarin main Instagram aja yuk, seru. Bisa buat cari-cari cowok ganteng. Sama dating apps. Seru banget tau, Facebook mah lewat."

Sarah menghela napas dan berdiri untuk mengikuti langkah Karin menuju pintu kaca ruangan itu. Setelah galau berulang kali, ia pun memilih menghapus kembali Facebook di ponselnya, merasa langkahnya saat ini sudah benar dengan meninggalkan kenangan tentang Alex dan teman-temannya. Bayangan foto-foto vulgarnya tersebar di internet masih membayangi, sehingga ia memilih menutup komunikasi sepenuhnya. Toh, paling juga pesan itu lama-lama bakalan dihapus, pikirnya.

Sarah pun meninggalkan pesan itu tanpa pernah dibalas.

Selesai.

Roommates for 30 Days [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang