Aroma Bergamot

427 9 0
                                        

Bioskop mini itu berdiri di sudut ruko. Nyaris tidak terlihat dari luar karena eksterior tempatnya yang biasa-biasa saja, menggunakan cat dinding putih pudar yang mengelupas di beberapa sudutnya. Sisi kanannya juga tertutup daun-daun tanaman merambat yang jika dibiarkan tak dipotong seminggu saja, mungkin bisa semakin menutupi tempat ini.

Satu-satunya hal yang agak mencolok dari tempat itu adalah plang kayu yang dipasang di area parkir dan bertuliskan "Gede's Theater". Tulisan inilah yang dilihat Sarah di perjalanan menuju toko merchandise Ayu tempo hari.

Plang kayu itu menggunakan warna dasar merah tua yang begitu menonjol, dengan ikon rol film di sudut kiri atas. Menandakan itu adalah tempat nonton film, atau toko yang menjual perlengkapan menonton.

Meski terlihat kecil dari luar, bioskop mini itu ternyata tak terlalu mungil jika pengunjung sudah masuk. Ada tiga ruang studio yang tersedia untuk kapasitas berbeda. Dua ruangan berkapasitas empat orang dan satu lagi berkapasitas paling besar, yakni 10 orang. Jumlahnya sebenarnya bisa saja lebih dari itu, tapi pengunjung tambahan tak bakal kedapatan kursi.

"Wah, keren sekali. Aku nggak sangka bakal nemu film-film indie Swedia di tempat begini. Keren juga," gumam Viktor sambil membolak-balikkan deretan koleksi CD film yang dijajar di sebuah lemari kayu coklat. Isak yang berdiri di sebelahnya hanya menangguk-angguk ikut kagum.

Siang itu, Alex dan Sarah tak jadi pergi berdua. Gara-garanya saat mereka pamit, Isak penasaran ingin ikut. Viktor dan Hans turut mengiyakan. Pergilah mereka semua ke bioskop mini itu bersama, naik mobil sewaan.

Di sepanjang perjalanan sampai tiba di sana, Alex -yang pada dasarnya memang tak banyak bicara- menunjukkan wajah kusut seperti ditekuk, sedikit jengkel karena lagi-lagi mereka pergi beramai-ramai. Sebaliknya, Sarah tampak senang-senang saja. Selain karena pergi berbanyakan baginya lebih seru, adanya Hans berarti dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk nonton.

"Ada film yang ingin kau tonton?" tanya Sarah pada Alex dengan muka berseri-seri. Tampilan bioskop mini itu sesuai ekspektasinya, klasik dan warna-warna interiornya redup dan estetis.

"Hm, apa saja. Aku tak punya banyak referensi," jawab Alex singkat.

Belum sempat menyahuti Alex, si penjaga toko, yang ternyata tidak terlalu lancar berbahasa Inggris, menjelaskan panjang lebar pada Sarah bahwa banyak film indie di sana sudah masuk festival internasional. Beberapa sutradaranya datang sendiri dan menitipkan filmnya.

"Apa katanya?" Viktor sedikit mencondongkan kepalanya pada Sarah.

"Banyak film-film festival di sini. Ada yang masuk Sundance, Toronto, Venice," jawab Sarah.

"Wow keren sekali!"

Tak butuh waktu lama untuk mereka bertujuh masuk ke dalam ruang menonton.

Ruangannya kecil, lebih seperti kamar-kamar yang dialihfungsikan dan dinding-dindingnya diganti panel akustik kedap suara. Ruangannya cukup gelap untuk menonton.

Di satu sudut dinding dipasang layar yang ditembak proyektor kecil, tempat film diputar. Di hadapannya ada beberapa sofa kulit sintetis yang dijajarkan berbaris dan rapi layaknya bioskop.

Si penjaga bioskop memilihkan film omnibus bergenre psikologi thriller asal Amerika karena Hans dan Viktor enggan menonton film romansa.

Roommates for 30 Days [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang