Jam menunjukkan pukul 03.07am. Sarah membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang samar-samar terlihat dalam gelap. Udara dingin sisa hujan semalam masih mengendap di sudut-sudut ruangan. Bau tanah basah, kayu lembap, dan aroma samar bantal yang bercampur dengan wangi tubuh Alex masih menempel kuat.
Tidur malam ini, seperti yang ia duga, hanya berakhir jadi tidur ayam. Setiap kali matanya terpejam, pikirannya berkelana kembali pada kalimat-kalimat yang tidak sempat diucapkannya pada Alex. Rasanya lidahnya kelu dan hatinya tak karuan. Dia tidak suka perasaan aneh itu.
Sarah melirik ke sebelah. Alex tidur memunggunginya. Napas laki-laki itu tenang dan stabil, sama seperti malam-malam sebelumnya. Sarah tahu, Alex biasanya bangun sekitar pukul lima untuk berlari. Dan sebelum itu terjadi, ia harus pergi.
Pelan-pelan, Sarah bangkit dari tempat tidur. Sesekali menengok ke arah punggung yang tertidur itu. Memastikan Alex tidak terbangun karena gerakannya meski cuma sedikit. Tangannya lebih dulu mengambil ponsel yang sejak semalam tidak benar-benar ia matikan, hanya dalam mode sunyi. Sebuah pesan dari nomor lokal yang tak tersimpan terpampang di layar.
“Saya standby di depan vila, mbak. Kalau sudah siap, kabari," tulis pesan itu. Pesan dari supir yang sudah dipesannya sejak kemarin siang. Supir mobil sewaan langganan Ayu yang ia juga kenal baik. Sejak tahu akan pulang, ia sudah merencanakan bakal memesan supir itu karena mencegat taksi dini hari di Ubud hampir tak memungkinkan.
Buru-buru ia mencuci muka dan bersiap seringkas mungkin. Ia bahkan sudah memakai baju yang akan dikenakannya untuk pulang. Dengan gerakan hati-hati, Sarah menarik ransel berisi pakaiannya dan tas selempang merah muda yang juga sudah rapi.
Sambil melangkah ke arah pintu, ia sekali lagi menengok ke sekitar. Memeriksa barang-barangnya yang mungkin masih tertinggal. Tapi pikirannya malah berkelana. Memori-memori tentang satu bulan tinggal di vila itu muncul lagi saat Sarah memandangi setiap sudut.
Ia menunduk sejenak, menahan napas, lalu melangkah menuju pintu.
Sambil sebisa mungmin melangkah tanpa suara, ia memandangi kamar-kamar lain yang dilewatinya: kamar Viktor, Lukas, dan Isak, juga kamar Hans dan Beth. Sarah ingat lagi bagaimana ia kemarin sempat mengkhawatirkan Beth yang mungkin dapat kekerasan dari Hans. Dalam hati dia berharap Beth baik-baik saja.
Udara pagi yang dingin langsung menyapa wajahnya saat perlahan mendorong pintu vila. Cahaya remang lampu teras menyinari mobil MPV hitam yang menjemputnya di depan vila. Wajah supir yang dikenalnya itu --seorang laki-laki muda berusia 30 tahunan, muncul di balik jendela pengemudi.
Sarah menarik napas sekali lagi, sambil menguatkan diri untuk melangkah masuk ke dalam mobil. Terus-menerus meyakinkan dirinya, perpisahan adalah hal biasa. Hidupnya, hidup Alex, dan hidup teman-temannya yang lain bakal berjalan seperti biasa saja.
Ia pun masuk ke dalam mobil, yang kemudian melaju menjauh, meninggalkan sudut Ubud yang masih sunyi.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)