Stockholm, September 2014
Kafe klasik di sudut Stockholm itu selalu ramai pada sore hari di waktu pulang kerja, dengan suara mesin kopi yang berdengung, denting sendok bertemu cangkir, dan para pelanggan yang berbincang pelan di meja-meja. Meskipun, ada pula pelanggan yang datang sendirian ke kafe mungil itu. Bola-bola lampu temaram yang menggantung di atas meja barista menambah kesan kehangatan.
Dari balik kaca besar di sisi kafe, lalu lalang pejalan kaki Stockholm tampak seperti irama kehidupan yang tak pernah berhenti. Sebagian orang memeluk tubuhnya yang dibalut baju hangat, di tengah cuaca yang mulai dingin jelang Musim Gugur. Udara dingin sesekali menyusup ke dalam kafe ketika orang berlalu-lalang masuk.
Alex duduk di salah satu sudut, menatap keramaian dari balik kaca dengan kopi hitamnya yang sudah tak panas lagi. Lukas duduk di sampingnya, dengan kemeja putih pas badan yang menonjolkan lengan-lengan berotot dan dada bidangnya, sementara jas biru dongkernya tergantung di sandaran kursi. Keduanya memilih duduk di meja kayu panjang yang menghadap ke luar, posisi untuk mendapatkan pemandangan sempurna yang tak membosankan.
"Aku berpikir mencoba bidang baru," ujar Alex.
"Oh? Menarik," Lukas mengangguk, sambil menyeruput kopinya yang sudah agak dingin. "Kita masih muda. Memang saatnya kalau mau coba-coba karir. Aku juga berpikir untuk melamar kerja di ritel, tapi multinasional. Perusahaan multinasional itu menarik. Beberapa perusahaan memungkinkan karir kita cepat naik."
Alex mengangguk, sepakat. "Aku memang mau mencoba perusahaan multinasional. Kalau memungkinkan, perusahaan yang menembus pasar Asia. Pasar potensial. Sekarang semua orang bicara soal pertumbuhan Asia."
"Asia, ya? Menarik," sahut Lukas sambil menenggak kopi terakhirnya dan memanggil pelayan untuk menambah secangkir lagi. "Ah, ya. Perhotelan juga bagus. Orang selalu butuh liburan. Mereka tak mungkin liburan tanpa menginap. Dan pasar Asia terus naik. Orang-orang dari Eropa dan Amerika pergi untuk menghabiskan uang mereka di Asia."
"Ya, aku cukup tertarik dengan yang dua terakhir," sahut Alex.
Sepiring kladdkaka pesanan Lukas datang. Belum sempat mengambilnya, tiba-tiba ia tersentak, seolah teringat sesuatu.
"Hei, ngomong-ngomong soal Asia. Bagaimana Sarah? Apa kau berhasil mengontaknya? Maksudku, apa benar akun yang kita temukan itu Sarah? Ini sudah setahun, bahkan lebih?"
Alex tertawa kecil, tapi nadanya tidak bahagia. "Belum. Belum ada balasan."
Lukas tak langsung merespons, tapi kemudian menyemangati dengan nada ceria. "Oh? Kalau mau, nanti kukontak lagi temanku untuk coba cari alternatif akun lain. Mungkin yang kemarin keliru. Ada banyak akun bernama Sarah. Kita bahkan tidak tahu nama lengkapnya."
Keadaan hening sejenak. Suara mesin kopi dan tawa pelanggan lain seolah menelan mereka. Lukas menggamit sendok kecil untuk melahap kladdkaka miliknya dan makan dengan santai. Ia lalu menghela napas.
"Maaf tidak bisa bantu banyak," tuturnya, lalu jeda sejenak. "Kau baik-baik saja, kan?"
Alex mengernyit sambil membalas pandangan sahabatnya, seolah pertanyaan itu terasa tidak pada tempatnya. "Aku? Tentu saja," katanya sambil tertawa pelan.
Lukas mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada pemandangan lalu lalang orang di hadapan mereka, sesekali mengecek respons Alex. "Baguslah jika begitu. Kita sudah mencoba. Menurutku, tak perlu lebih jauh."
Mereka diam sejenak. Alex mencerna kalimat itu baik-baik dalam pikirannya, sementara Lukas memikirkan ulang apakah kalimatnya sudah tepat.
"Sarah itu...perempuan petualang," lanjut Lukas. "Sepengamatanku, ya. Dia tidak bisa dikekang atau diatur. Singkatnya...tampak tidak bisa berkomitmen. Belum, belum bisa berkomitmen."
"Ya..." Alex menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti pikirannya.
"Apa susahnya pergi berpamitan dengan kita, ya kan? Kita juga bisa mengantarnya ke bandara, bahkan bertukar barang kenang-kenangan, misalnya. Tapi..mungkin juga dia pergi karena merasa sudah terlalu dekat. Denganmu, atau mungkin juga dengan kita semua."
Alex tak menjawab, hanya meresapi kata-kata Lukas.
"Dia seperti banyak perempuan Swedia. Independen. Kau paham sekali dengan itu, kan? Kau punya dua kakak perempuan," Lukas terkekeh kecil sambil menyenggol lengan Alex.
"Ya."
"Tapi, Alex. Kalau boleh tanya jujur..." Lukas menghadapkan tubuhnya sedikit ke samping. "Apa...kau cinta dia?"
Alex bergeming. Pertanyaan itu seperti mengambang di udara. Gambaran-gambaran tentang Sarah muncul lagi di pikirannya. Senyumnya yang ceria, kebiasaan kecilnya yang seringkali ajaib, aroma rambutnya yang wangi buah-buahan, dan sentuhan kulit lembutnya. Semua masih begitu jelas, tapi juga terasa semakin jauh.
Sesaat, ia menatap kosong ke luar kaca, lalu menjawab pelan, "Mungkin?"
Lukas terdiam sejenak, seolah membiarkan jawaban ragu-ragu itu mengendap di pikirannya. Lalu ia terkekeh. Jawaban itu sudah diterkanya. Ia terlalu mengenal seorang Alex.
"Menghabiskan waktu dengan dia rasanya menyenangkan. Kadang aku juga berpikir, kenapa bisa bicara apa saja saat dengan dia... dia membuat hari-hari terasa seru. Rasanya berat ketika hari-hari itu hilang."
"Tapi kau tidak menahannya?" tanya Lukas.
Alex terdiam. Seolah tahu dirinya salah dan dia memang bisa menahannya.
"Sarah...punya banyak alasan valid untuk pergi. Dia benar bahwa kita semua tidak akan selamanya di Bali. Kita semua akan pulang ke tempat masing-masing."
Lukas terkekeh lagi. "Tetap bukan alasan untuk tidak pamitan sebelum pulang."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Alex menatap keluar kaca, ke arah hiruk pikuk jalanan Stockholm yang sibuk.
"Jangan terlalu lama menggantungkan dirimu pada orang yang bahkan tidak tahu kau masih menunggunya, Alex. Hidup terus berjalan," ucap Lukas lembut. "Seperti kubilang tadi, kita sudah mencoba. Tidak perlu lebih jauh."
Mereka terdiam sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap. Lukas mengangkat cangkir kopinya, menyeruputnya. Lalu tiba-tiba meletakkan cangkirnya dengan semangat.
"Hei, ngomong-ngomong, Beth dan aku, kami pacaran."
"Apa??"
"Ehm, ya. Kau orang pertama yang tahu, Alex," ucap Lukas memelankan suaranya, seolah seisi ruangan mengenal mereka. "Maksudku, orang pertama di lingkungan pertemanan kita."
"Kau gila...bagaimana Hans?"
"Ah, laki-laki kasar itu. Hans memang teman kita, tapi Beth sangat tersiksa selama bersamanya. Beruntung saja Hans tidak pernah dilaporkan ke polisi. Jika iya, ibunya yang pebisnis ternama dan ayahnya yang diplomat itu, bisa tercoreng karirnya."
Alex terdiam, mencerna. Ingatannya melayang pada momen ketika Sarah sempat bercerita tentang kecurigaannya. Hal itu ternyata benar. Ia menyesali karena tak sempat berbuat apapun saat itu.
"Jadi soal kekerasan itu benar?"
Lukas mengangguk. "Sarah juga mendengarnya waktu itu. Dan kami menemukan Beth setelahnya. Ternyata lebih buruk dari yang kami kira. Tapi saat itu kupikir tidak perlu cerita ke siapa-siapa, bahkan padamu supaya suasana vila tidak jadi makin rumit. Tapi sepertinya percuma melarang, ya? Dia cerita padamu, kan?"
Alex terdiam, perasaannya campur aduk.
Lukas tersenyum tipis. "Beth butuh seseorang yang peduli. Aku hanya...berusaha ada untuknya. Itu saja."
Tak lama, Lukas akhirnya berpamitan lebih dulu setelah menghabiskan kladdkaka dan cangkir kopi keduanya. Alex mengangguk, menyahuti sahabatnya yang pamit pergi, lalu menatap kopi yang sudah dingin. Ia menghela napas, lalu mengangkat tangan.
"Satu cangkir lagi, tolong," ucapnya pada pelayan. Memilih menghabiskan sore harinya dengan lebih banyak kafein.
Bersambung....
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)