"Selamat pagi!!" suara Viktor menggelegar, terasa kontras dengan suasana pagi yang masih senyap.
Sarah membuka mata pelan, menyipitkan mata karena cahaya yang menampar dari samping. Matahari sudah terbit. Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar sadar dan ingat bahwa semalam -dini hari tadi- dia tidur di cabana. Meski sinar matahari sudah terlihat, ia sedikit menggigil karena udara sejuk dan lembap Ubud pagi itu. Tidur di ruang terbuka memang ide yang sangat buruk, pikirnya.
Sarah lalu menyadari tubuhnya diselimut handuk pantai sehingga udara dingin dini hari tak terasa terlalu menggigit.
Sebelum terpikir untuk mencari tahu siapa yang menyelimutinya, ia menoleh ke samping. Alex -yang juga terbangun karena teriakan ceria Viktor- mengedip, lalu duduk sambil menggaruk tengkuknya dan mengumpulkan kesadaran seolah terbangun di tempat asing. Matanya menelusuri sekeliling. Ada Lukas duduk di meja makan, entah sejak kapan. Selain Lukas dan Viktor, yang lain sepertinya masih di kamar masing-masing.
"Kalian ngapain tidur di sini?" Viktor menyeringai. "Kupikir Isak yang mabuk berat itu sudah paling gila."
Sarah membalas tatapannya sambil mengernyitkan dahi, mencoba mencerna apa yang dimaksud Viktor.
"Kalian tahu, Isak ambruk semalam. Kebanyakan minum. Kami terpaksa seret-seret dia ke mobil, lalu saat sampai di sini, masih harus menyeretnya lagi ke kamar di lantai dua," Viktor nyerocos tanpa ditanya.
"Tadinya mau kutidurin saja di cabana satu lagi, tapi ada Sarah di sini. Aku takut Sarah diapa-apain," sambungnya.
"Jam berapa ini?" gumam Alex sambil mengucek matanya. Tampak kurang peduli dengan cerita Viktor.
"Jam sembilan lewat sedikit," sahut Viktor. Dagunya menunjuk ke arah jam dinding. "Sepertinya ini rekor seorang Alex bangun tersiang"
Sarah menggeliat seperti kucing yang malas bangun. Kelopak matanya masih terlalu berat untuk membuka. Ia ingin rindu sekali dengan tempat tidurnya yang empuk dan nyaman, tapi bahkan terlalu malas untuk beranjak.
Seolah baru memproses kata-kata Viktor, Sarah terlonjak.
"Ya ampun!" ucapnya sambil menepuk dahi. "Aku harus ke toko! Ayu mau pindahan."
Alex menoleh cepat. "Ayu?"
Sarah mengangguk. "Iya. Dia mau pindah ke Australia, ikut suaminya. Hari ini toko bakal ditutup. Aku janji datang hari ini sekaligus perpisahan. Mesti siap-siap sekarang supaya terkejar," tuturnya, lalu melompat dari cabana untuk bersiap.
Viktor memandanginya dengan bingung, lalu bertatapan dengan Alex yang tak kalah bingung. Namun tanpa membuang waktu, Alex ikut beranjak dan bersiap menemani Sarah.
***
Mereka tiba di toko Ayu satu jam kemudian dengan pakaian seadanya, hanya mandi secepat kilat. Alex, seperti biasa, hanya menggunakan celana training dan kaus hitam polosnya. Kulit pucat lagi-lagi menyelamatkan penampilannya sehingga hampir selalu tampak segar meski kurang tidur atau hanya mandi kilat.
Toko kecil itu sudah setengah kosong. Rak-rak suvenir sudah banyak yang dibongkar, hanya tersisa beberapa patung kayu dan kain-kain batik yang digulung rapi. Tidak ada lagi hiasan-hiasan gantung bergaya bohemian yang biasa dilihatnya. Aromaterapi kayu yang biasa dihirupnya juga hanya sedikit tersisa. Terlihat Ayu duduk bersila di lantai, tengah melipat pakaian ke dalam koper besar. Di sekitarnya koper-koper lain bertebaran.
"Eh, Sarah!" Ayu tersenyum hangat saat menyadari kehadiran Sara. "Kirain nggak jadi datang."
"Maaf ya, mbok. Aku kesiangan bangunnya," jawab Sarah sambil ikut duduk di sebelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)