Sore itu cukup mendung. Awan-awan kelabu menggumpal dan siap menumpahkan hujan. Udara lembap mulai meresap ke kulit dan gemuruh petir sedikit meninggalkan rasa tidak nyaman.
Kurang dari 24 jam dari jadwal kepulangan Sarah ke Jakarta, tapi dia masih belum menyampaikan itu pada Alex, atau siapapun di vila. Dia merasa pengecut karena keberaniannya bahkan tak sebesar biji jeruk. Sore itu, Sarah sengaja menetap di vila, tidak ikut teman-temannya pergi ke Sanur. Alex, tentu saja, juga tetap di vila. Sarah merasa tidak ada lagi waktu yang tepat untuk menyampaikan, karena besok pagi sekali dia sudah harus terbang.
"Ada apa?" tanya Alex, memecahkan lamunan Sarah.
"Eh, apa?"
"Kenapa mondar-mandir begitu?"
Langkah Sarah terhenti. Terlalu banyak berpikir membuatnya tidak sadar jika sedari tadi mondar-mandir di tepi kolam seperti orang bingung. Jarinya sedikit bergetar dan jantungnya berdegup kencang. Tak menyangka sekadar mengucapkan dia akan pulang ke Jakarta saja membuatnya gugup setengah mati.
"Aku...pulang besok," ucap Sarah, pelan. Kalimat itu melayang ringan di udara, tapi jatuh seperti batu di dada Alex. Gemuruh langit jelang hujan dan burung-burung yang tadi beterbangan mencari tempat berteduh seolah tak terdengar lagi.
Mencoba menghilangkan rasa gugupnya, Sarah duduk di sebelah Alex. Menyilangkan kaki sambil bersandar di dinding cabana kayu. Ia menatap laki-laki di hadapannya, seperti ingin menghafal tiap inci wajah itu, seolah belum siap di hari-hari mendatang, ingatannya akan perlahan-lahan menghapus detail itu satu per satu.
"Uhm, Alex, besok aku harus balik ke rumah. Aku sudah janji sama teman-temanku untuk segera pulang. Lalu...kakakku mau menikah. Kau tahu kan?" tuturnya. Sarah merasa denyut jantungnya kian terasa cepat. Tapi hatinya mulai terasa ringan karena bebannya akhirnya terlepas.
"Oh," Alex mengangguk pelan, seolah butuh waktu mencerna. Tangannya iseng memutar gelas teh yang sudah lama kosong, sebelum akhirnya bergumam, "Okay."
Raut wajah Sarah tertekuk. Tidak ada kata "jangan" atau kalimat protes seperti "kenapa buru-buru". Sarah sedikit kecewa, tapi di detik yang sama ia meyakini dirinya kenal betul seorang Alex. Tidak pandai menahan, apalagi memohon. Hal-hal seperti itu tidak akan dilakukannya. Ia lalu menyadari reaksi ini sudah diperkirakannya. Sedikit kecewa, tapi ini memudahkannya.
"Jam berapa?" tanya Alex lagi. Mata mereka lalu bertemu.
"Hmm..segera? Kakakku akan bantu pesankan tiket," jawab Sarah bohong. Tiket itu sudah dipegangnya sejak beberapa hari lalu.
"Apa kau bakal pergi mengendap-endap saat aku tidur?"
Sarah tertawa pelan, "mungkin?"
Alex hanya menanggapi dengan anggukan samar, lalu kembali menatap hujan di luar. Tidak tahu harus tertawa atau tidak.
Keadaan menjadi hening sesaat. Titik-titik hujan yang mulai turun perlahan datang berombongan. Menyedot perhatian mereka seolah menatap hujan kegiatan yang sangat menarik. Di momen-momen seperti ini, Sarah jadi menyadari hal-hal tidak penting yang ada di sekitarnya: seperti bagaimana jika hujan deras bikin vila yang beratap terbuka itu banjir, hingga ternyata selama ini mereka berenang di kolam campur air hujan yang kotor jika penjaga vila belum mengurasnya. Ia ingat pernah tersedak saat berenang dan tidak sengaja menelan air kolam.
Alex meneguk tehnya, tanpa memecah keheningan. Suara benturan gelas kaca dan tatakannya jadi terasa syahdu.
Tak lama, suara mesin mobil mendekati pintu depan vila. Hans dan yang lainnya pulang. Alex berpamitan seadanya untuk membuka kunci. Vila yang hening tiba-tiba ramai lagi dengan keributan kecil Viktor dan Isak si Tom & Jerry, dan Lukas yang tampak semangat menceritakan pada Alex tentang peselancar yang baru dikenalnya di Sanur tadi.
Lalu, tidak ada lagi percakapan berdua antara Sarah dan Alex sampai malam tiba.
***
09:35pm
Alex mematikan lampu, meninggalkan kamar dalam gelap yang dingin dengan sisa-sisa hujan.
Ia lalu berbaring membelakangi Sarah, yang juga membelakanginya, menatap layar ponsel di tangannya yang memancar di tengah gelap.
Tidak ada kalimat perpisahan yang keluar malam itu. Hanya bunyi tetes air hujan dari talang atap yang sesekali jatuh ke halaman dan suara jangkrik yang mulai ramai seusai hujan reda. Sayup-sayup suara ramai televisi dan teman-teman mereka yang mengobrol terdengar dari ruang bawah. Alex memang biasa tidur lebih cepat dari yang lain dan kebiasaan itu juga terbawa pada Sarah.
Menaruh ponselnya di meja setelah memasang alarm, Sarah menatap kosong dinding kamar yang gelap. Isi kepalanya berkelana. Besok malam, dia sudah berpindah tempat tidur. Tidur sendirian di kamar tidurnya yang penuh dengan bantal dan udara panas Jakarta yang pengap yang tersapu angin dingin pendingin ruangan. Kucing kesayangannya bakal menyambutnya dan kakaknya yang cerewet bakal jadi alarm alaminya lagi.
Tidak ada suasana liburan yang menyenangkan di Ubud. Tidak ada jangkrik yang berisik. Tidak ada Alex yang siap-siap lari pagi.
"Sudah tidur?" tanya Alex pelan, suaranya nyaris tenggelam.
Sarah diam sebentar. Ia mendengar jelas, tapi berpura-pura ragu.
"Belum. Kau?" jawabnya singkat. Lalu segera mengutuki diri sendiri karena pertanyaannya bodoh itu.
Hening sejenak, lalu suara berat Alex mengambang di keheningan malam. "Belum."
Tak ada yang melanjutkan percakapan. Keduanya memilih kembali diam. Dalam hening itu, Sarah sempat tersenyum tipis. Rasanya lucu. Dia tidak percaya perkenalan iseng dengan laki-laki di belakangnya itu bisa membuat mereka berbagi tempat tidur selama berminggu-minggu. Dan sekarang, perpisahan dengan orang yang awalnya mapas dia temui itu terasa berat. Canggung betul rasanya, seperti dua orang asing.
"Jadi..jam berapa kau pergi?" gumam Alex.
"Pagi.." jawaban Sarah menggantung. "Lebih pagi dari biasa kau bangun."
"Yakin nggak mau aku antar?"
Sarah menggeleng kecil, meskipun tahu Alex tak melihatnya. "Nggak usah. Nanti aku sedih."
Mereka saling tertawa getir. Sejenak, keheningan lagi-lagi menyelimuti kamar.
Alex menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, "besok, jangan lupa sarapan."
"Hm." Sarah mengangguk kecil di balik punggungnya. "Kau juga."
Setelah itu, tidak ada lagi kalimat lain. Hanya suara napas yang tertahan di antara jeda yang panjang. Mereka tetap membelakangi satu sama lain, sama-sama terjaga, sama-sama berpura-pura tidur, sampai akhirnya kantuk yang perlahan menenggelamkan kegelisahan itu.
Bersambung..
KAMU SEDANG MEMBACA
Roommates for 30 Days [COMPLETED]
Romance[21+] (PREKUEL "My Client is My Ex-FWB] Di sela jeda kuliahnya, Sarah menghabiskan waktu selama 30 hari tinggal bersama Alex, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya, serta lima orang teman Alex yang lain di sebuah vila di Bali. Tanpa ikatan apapun...
![Roommates for 30 Days [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/351781649-64-k80959.jpg)