Sosok itu samar, sedang berjongkok di depan penglihatannya yang rabun-baru beberapa detik membuka mata membuat retinanya tak bekerja sempurna.
Usapan lembut mendarat di sisi wajah, disusul ucapan "selamat pagi".
Dalam hitung detik berikutnya, dia melihat jelas sosok itu tersenyum kepadanya.
"Pagi." Tawa lembut lolos dari mulutnya. Tenggorokannya kering, tapi senyuman meruntuh dinding dahaga.
"Kenapa?" Tangan di sisi wajahnya dia raih kemudian dibawa ke atas dada.
"Bangun."
"Jam?"
"Setengah sembilan."
"Masih libur, kan? Gue mau tidur lebih lama."
Cahaya di sekitarnya menggelap. Punggung di depannya membungkuk menghalangi cahaya pagi dari jendela membias indranya, lalu sebuah sentuhan basah mendarat di pipi kiri.
Itu hal baru dalam hidupnya.
"Kapan lo balik ke Indonesia."
"Besok."
"Ga bareng yang lain? Gue dengar mereka balik sore nanti."
Ewil mendorong tubuh ringkihnya bangun menggunakan tangan. Bersila di depan Renu. Menatap cowok itu dengan senyuman dalam beberapa detik. Kepalanya masih mencerna ucapan selamat pagi yang lembut dan kecupan di pipinya.
Dia juga disuguhi senyuman.
Apakah punya pacar seindah ini? Benaknya bergumam.
Kalau benar kenapa tidak dari dulu dia pertegas perasaannya di depan cowok itu. Dia menyesal. Menyesal terlambat mendapatkan apa yang sekarang dia dapatkan.
Senyumnya semakin lebar, seperti orang gila di persimpangan jalan.
Dulu saat dia bersikap konyol seperti sekarang, mungkin dia akan dilempari cercaan atau umpatan kasar dari kebun binatang, namun sekarang orang yang dulu berkata sumpah serapah itu membalasnya dengan senyuman malu diikuti rona merah merambat pada kedua telinganya.
"Gue sengaja beli tiket pulang beda dari jadwal mereka."
"Kenapa?"
"Gue mau sehari lebih lama main sama lo."
"Gimana kalo kemarin gue nolak lo?"
"Artinya gue punya lebih satu hari buat membujuk lo."
Renu menarik tangannya dari genggaman Ewil. "Setelah pacaran, lalu apa?" tanyanya hati-hati.
"Gue bakal pindah ke sini, ke Singapur. Tinggal di rumah nenek."
Mata Renu membulat.
"Gue balik dulu ke Indonesia buat ngurus kepindahan gue. Jadi, kita terpaksa LDR buat sementara, ga apa-apa, kan?"
"Kenapa lo selalu mudah ngambil keputusan? Pindah sekolah. pindah negara."
"Gue udah ngomongin ini ke ortu gue."
"Demi gue?"
"Salah satunya."
"Kalo gue tolak, lo tetap pindah ke sini?"
"Iya. Kalo kemarin gue ditolak, gue masih punya hari ini sebelum balik ke Indonesia. Kalo hari ini pun ditolak lagi, gue masih punya banyak hari buat ngebujuk lo saat gue pindah ke sini."
"Oke," gumam Renu. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia kagum dengan susunan rencana itu.
"Sekarang, stop blok nomor gue, oke."
Tanpa suara Renu mengambil handphonenya dan berselancar di sana. "Udah," ujarnya. "Coba liat!" Layar handphonenya disodorkan ke depan mata Ewil. Nama kontak 'LembaranDuaRibu' tertera di sana bersama emoji love berwarna hitam.
Ewil tersenyum puas. Dia meraih handphone dan dompetnya di nakas. Mengeluarkan dua lembar uang berbeda dari dompet, lembaran seratus ribu dia selipkan di balik case handphonenya dan lembaran dua ribu dia selipkan di balik case handphone Renu.
"Lucu banget." Renu tertawa, menatap berbinar uang itu.
"Balik kayak dulu, Ren. Lo selalu jadi lembaran seratus ribu buat gue dan gue harap gue tetap lembaran dua ribu buat lo."
"Kurang setuju," tepis Renu. "Buat gue, sekarang lo berharga dalam keadaan apa pun."
"Ya ya ya," gumam Ewil, menahan senyum
+ +
KAMU SEDANG MEMBACA
What We are Worried About
Roman pour AdolescentsRenu dan Ewil sudah saling mengaku saling suka, setelah permainan gila yang menyiksa, mereka sepakat untuk bersama Lalu, setelah pacaran, harus apa? ©️ Desember 2023
