Love and problem

8 0 0
                                        

.
.
.
____________

Foto sampul oleh:
IG: indahlwr

Foto ilustrasi oleh:
Canva: Pribadi

Sumber cerita:
Inspirasi dari kawan dan google

----------
.
.


.
.
.

Senin siang, sepulang sekolah. Anak itu langsung masuk mencari ibunya. Ketemu di ruang theater keluarga. Langsung memeluk ibunya. Kecupan di pipi Ibunya. Sementara Bapaknya lansung ke ruang makan untuk sarapan siang.

"Umm, anakku sayang. Gimana hari ini?"

"Mah. Tadi teman Nara yang pacaran itu berantem sama pacarnya."

"Ha? Di sekolah?"

"Gak ma, di chat FB."

"Ohhh chat FB."

"Trus dia nangis mahhh."

"Nah, itu salah satu yang gak baik kalau pacaran."

"Kenapa mah? Mereka sering berantem kok. Nanti baikan lagi."

"Bukan begitu Nak. Kan masih kecil. Harusnya fokus buat nilai saja. Nah, pas pacaran. Malah berantem. Karna apa? Karna masih kecil. Belum mengerti. Kerjaannya cuman berantem mulu. Bisa jadi malah nilai jatuh."

"Ihh iya mahhhhh. Nilai ulangannya jelek semua!"

"Bahaya lain. Bisa hamil. Bisa juga kena penyakit. Ada banyak penyakit menyebar lewat kontak lendir."

"Ludah Mah?"

"Iya. Jika sembarang pacaran lalu ciuman. Sama peluk-pelukan kayak suami istri. Itu bisa menyebarkan penyakit."

"Peluk-pelukan mah?"

"Nanti kamu boleh tahu ini pas kamu sudah dewasa."

Anak itu ulangi, "Nanti kalu sudah dewasa."

"Benar sayang. Coba ulangi. Tidak semua perlu Nara tahu sekarang."

"Tidak semua perlu Nara ketahui sekarang."

"Karna Nara masih kecil."

"Karna Nara masih kecil."

"Pinter! Jangan sembarangan pacaran ya sayang."

"Sip mamah."

"Nah, Nara boleh pacaran itu kalau sudah selesai kuliah."

"Kuliah? Itu pas selesai sd, smp, sma?"

"Iya, pas Nara sudah besar."

Dia menatap Ibunya lalu bilang, "Oke mah!"

"Ada gak teman-teman Nara yang pacaran beda agama?"

"IIIHH ada mahhh. Di funfiction juga ada."

"Nah, itu salah ya."

"Kenapa Mah?"

"Ini mama jelaskan buat Nara. Menikah dengan beda agama itu dilarang oleh Allah. Harus seagama. Karna menikah itu artinya membangun keluarga di dalam agama. Kalau ada dua agama, bagaimana? Artinya menyembah Allah lain. Nara sudah hafal sepuluh hukum taurat kan?"

"Iya Mah."

"Hukum pertama apa?"

"Jangan ada padamu ilah lain. Jangan sebut nama Tuhan sembarangan."

"Nah, nah. Yang pertama. Jangan ada padamu allah lain."

"Ohhh."

"Nah, di perjanjian baru. Ada juga tertulis. Pasangan haruslah sama-sama orang beriman. Artinya seagama. Ada istilahnya, pasangan seimbang. Tapi ingat. Selesai kuliah dulu."

"Okeh Mahhh."

"Nah, skarang Nara mandi dulu ya sayang. Makan dulu lalu kita lanjut."

Anak itu langsung masuk ke kamar. Sementara Ibu itu ke dapur. Melihat suaminya yang sudah makan ronde ke tiga.

"Jangan banyak makan sayang. Nanti gemuk."

"Haha," tawa Bapak itu.

Ibu itu ikut duduk untuk sarapan. Selesai bapak dan ibu itu makan, anaknya datang. Sudah bersih dan wangi. Menggukan parfum tadi.

"Wii, cantiknya anak papa."

"Hihi," anak itu tersipu malu.

Dia lalu duduk makan. Lima belas menit. Sarapannya selesai. Tapi ada yang berbeda kali ini. Kedua orang tuanya memperhatikan dia.

"Kenapa Ma? Pa?"

Ibunya menjawab, "Papamu mau jelasin soal tanggungjawab."

"Ehem," bapaknya mulai menjelaskan. "Cinta itu bukan hanya soal senang-senang tapi juga susah-susah. Pacaran itu artinya persiapan untuk menikah. Ini berarti Nara sudah boleh pacaran blum?"

"Blum Pa," jawab Nara pasti.

"Bagus. Dewasa dulu. Nah. Kira-kira kenapa teman-teman Nara udah pada pacaran? Padahal masih SD?"

"Kata teman-teman. Mereka butuh penyemangat."

"Salah tuh Nara," tanggap Ayahnya dengan wajah tidak suka.

"Iya Papa. Skarang Nara udah tahu kok. Pacaran itu ternyata bukan soal penyemangat. Bisa kok dapat dari teman-teman. Dari guru les. Dari papa-mama."

Ibunya pun memberikan jempol. Papanya mengangguk mengakui.

"Papa, mama. Nara akan pacaran ketika sudah dewasa."

"Nah, begitu sayang. Bagaimana kalau ada yang ajak pacaran?"

"Tolak," jawab Nara pasti pada ibunya.

"Caranya sayang?"

"Nara mau fokus belajar. Nara masih kecil. Nara nanti lapor guru dan orang tua. Kalau masih dipaksa online, Nara langsung blokir. Kalau di sekolah, Nara langsung menjauh. Nara juga akan jaga batasan dengan anak-anak cowok."

"Pinter sayang."

"Hihi," Nara tersenyum senang.

Bapaknya kembali menambahkan, "Pacaran itu ada tanggungjawabnya."

Nara langsung memperhatikan Bapaknya dengan serius,

Lanjut Bapaknya menjelaskan, "Benar Nara bilang tadi. Pacaran itu bukan hanya untuk penyemangat. Pacaran itu kayak yang papa bilang tadi. Ada tanggungjawab. Kedua orang tua harus tahu. Termasuk Papamu ini harus tahu. Tanda bahwa anak-anak menghargai orang tua. Nara mengerti?"

Anak itu menunjukkan wajah tidak mengerti.

"Kalau Nara sayang sama papa. Maka Nara akan ijin dulu. Terutama yang mau pacaran sama Nara itu wajib ketemu Papa dulu."

"Oke papa."

"Ada lagi. Pacaran itu artinya mau segera menikah. Maka pekerjaan laki-laki harus jelas. Sama Nara sudah selesaikan pendidikan dahulu. Bangun keluarga itu tidak semudah membalikan telapak tangan."

Nara tersenyum lalu mengangguk tanda mengerti.

Ibunya langsung menyanggah, "Begitu dulu Pah ya. Nara punya waktu belajar. Sebentar lagi Papa antar Nara ke tempat les."

Nara langsung masuk ke kamar untuk belajar. Sementara kedua orangtuanya sementara mengevaluasi pengajaran mereka selama tiga hari ini. Setelah itu mereka mencuci piring bersama-sama. Kelihatannya, semua baik-baik saja.

Shine Like SkyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang