Malam itu, di bangunan kos-kosan tiga lantai milik Paman Kumar—ayah Gopal—Taufan tumben-tumbenan memilih menghabiskan waktunya untuk mendekam di dalam kamar kosnya yang dingin dan gelap. Dia mengunci pintu—yang biasanya selalu bisa di dobrak masuk oleh Gopal tanpa permisi—sebab anak laki-laki itu lebih suka tidur di kamarnya daripada di rumahnya—menghindari suara cerewet ayahnya yang katanya bisalah beradu dengan Gempa saat dia sedang mengomel. Dia hanya mengenakan kaos polosan dengan celana training panjang—yang biasa dijual di shopee dengan menggaet embel-embel ala korea—duduk di balkon berukuran kecil yang berada di dekat jendela, mengangkat satu kaki ke kusennya sembari menatap langit yang lagi mendung-mendungnya.
Katanya, bumi ini sudah tua. Taufan yakin sekali itulah alasan mengapa cuaca dalam sehari bisa berubah-ubah seperti suasana hati perempuan yang sedang dalam fase menstruasi. Saat siang suhunya sangat panas dan menyengat, sampai-sampai dia mau tidak mau berkamuflase di bawah payung ibu-ibu tukang laundry langganan di sebelah kos-kosannya agar tidak terpapar sinar matahari. Sementara itu, saat malam suhunya sangat dingin, awan abu mengepul di udara menutupi bintang dan bahkan bulan yang sedang berada pada fase setengah sabit itu hampir lenyap ditutupi oleh mendung.
Kalau badai datang, semesta malah mendukung Taufan seperti orang yang sedang galau karena putus cinta, ditemani lagu Risalah Hati sambil nyanyi-nyanyi galau bak orang gila.
Tapi, Taufan tidak putus cinta kok.
Memangnya siapa, perempuan di dunia ini yang mau menolaknya????
Walau dia tidak sebegitunya narsis, Taufan sangat-sangat sadar kok bahwa gen ayahnya di keluarganya menurun dengan baik dan secara rata memberikan wajah rupawan yang bikin cewek-cewek melipir buat cuci mata.
Begini-begini, Taufan banyak menerima pernyataan cinta sejak dia duduk di sekolah menengah. Ya walaupun tidak sebanyak Halilintar—yang setiap hari loker mejanya bisa dipenuhi surat-surat warna merah muda dan coklat batangan atau sekedar hadiah kecil-kecilan.
Ya intinya, di dalam keluarga mereka, Halilintar itu populer dengan karismanya.
Ngomong-ngomong soal keluarga, Taufan terkadang merindukan mereka. Jadi anak rantau itu sebenarnya tidak mudah, ada waktu dimana Taufan juga terkadang home sick, dia rindu masakan rumah yang biasa dibuatkan Gempa, dia rindu suara Halilintar yang menggema dari lantai satu hanya untuk berlari mengejar Blaze yang membuat masalah, dia rindu adik-adik manisnya—Duri dan Solar, oh tidak ketinggalan Ais yang selalu pasrah-pasrah saja saat dia ganggu.
Mana mungkin Taufan berkilah bahwa dia lebih senang tinggal jauh dari rumah.
Apalagi dalam bertahun-tahun belakang, keluarga mereka terlalu banyak diberi luka. Dari mendiang ayahnya yang jatuh sakit dan kemudian merenggang nyawa dalam proses pengobatan melawan kanker, sampai Tok Aba—wali mereka satu-satunya—juga ikut berpulang di usia senja. Untuk mengingatnya saja, Taufan tidak merasa bahwa dunia itu ramah pada anak-anak yang kehilangan sosok orang tua seperti mereka.
Gugur dan bangkit, mengulangi siklus itu sampai-sampai hanya itu yang tertanam dalam otak. Sebab, hanya itu yang bisa dilakukan. Kalau tidak memangnya orang dewasa mana yang akan mengulurkan tangan untuk menolong mereka?
Anak-anak hanya korban dari kekejaman orang dewasa lainnya. Itu yang Taufan percayai.
Dulu, saat masih duduk di bangku sekolah menengah, Taufan ingat, saat guru bimbingan konseling membagikan lembar minat dan bakat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya, kebanyakan teman-temannya mengisi bahwa mereka ingin menjadi seorang dokter, mengambil sekolah kedinasan, masuk ke fakultas teknik bergengsi dan lulus untuk bekerja di perusahaan ternama sebagai seorang engineer, atau hanya keinginan mulia seperti mendidik anak-anak dengan menjadi guru. Saat pertama kali Taufan membacanya, hal pertama yang terbesit di dalam kepalanya adalah menjadi seorang seniman pianis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Ke Rumah (Boboiboy Elemental)
Fanfiction"Kata siapa beban jadi anak laki-laki cuma kerja dan cari uang? Lo juga harus tau kalo jadi anak sulung laki-laki dan menghidupi enam orang pemberontak adalah kiamat." Menjadi anak sulung yang dipaksa harus tegar dan dewasa, Halilintar sudah lebih d...
