Author's POV
"Aku aja."
"Iya, kenapa?"
"Aku aja yang maju ke depan," Rakel mengangkat lengan nya tinggi hingga perhatian sekelas menuju pada nya, Rakel yang dikenal sebagai manusia tanpa suara tiba-tiba menawarkan diri untuk maju ke depan kelas.
Hari ini hari rabu, dimana pelajar pertama adalah Biologi dan mereka sampai dimateri tentang anatomi tubuh manusia. Guru yang kini sedang mengajar meminta salah satu murid untuk maju kedepan guna memberikan contoh kepada siswa-siswi bagaimana cara tubuh bekerja.
Beberapa menit berlalu dan tak ada murid yang bersedia untuk maju ke depan, karena itu Sang Guru memutuskan untuk memanggil salah satu murid secara acak. Dan, nama Kai terucap dari bilah bibir Guru tersebut.
Rakel yang tahu bahwa Kai benci menjadi pusat perhatian pun melirik teman nya itu yang kini terlihat cemas, kaki nya bergetar ketika nama nya dipanggil untuk kedua kali nya. Rakel pun tanpa pikir panjang langsung menawarkan diri.
"Oh, boleh. Siapa nama mu?" Tanya si guru.
"Rakel Gallan."
"Oke silahkan maju ke depan..." Kai menatap punggung Rakel yang kini berjalan maju ke depan kelas, tangan nya bergerak ke atas untuk menyentuh dada nya dimana jantung nya berdetak tak karuan. Didalam hati ia berteriak mengucap terima kasih pada Rakel.
"Tapi saya nggak mau Rakel yang maju, Pak!"
Ketika Pak Guru ingin menjelaskan cara kerja otot tubuh dengan Rakel sebagai contoh, tiba-tiba ada suara menginterupsi dari bangku barisan tengah. Seorang anak perempuan mengangkat tangan nya, "Tadi udah dipilih secara acak kan, kalau misalnya Rakel memang mau harusnya dia bilang di awal."
Rakel mengernyitkan dahi nya dan menatap siswi itu dengan tatapan tak suka, apa maksud nya? Pikir Rakel.
Pak Guru meletakan penggaris panjang yang digunakan untuk menunjuk lengan atas Rakel itu ke meja, ia tersenyum kecil walau didalam hati bingung. "Mungkin tadi Rakel gerogi, mangkannya nggak mau." Ujar Pak Guru dengan lembut. "Nama mu siapa, Nak?"
"Nama saya Jenna Sophia," siswi itu menurunkan lengan nya dan kembali duduk, "Saya mau tetap Kak Kailin yang maju, kalau Bapak nerima Rakel kenapa pake sistem acak?" Anak perempuan dengan rambut hitam sebahu itu mengutarakan ketidak setujuan nya membuat Rakel sedikit kesal.
Kai yang diduga sebagai awal permasalahan nya hanya bisa diam membisu dengan tangan mengepal hingga jari-jari nya memutih.
"Maaf kalau sistem belajar Bapak kurang berkenan dihati kamu, Bapak pake sistem acak soalnya tadi nggak ada yang mau ke depan." Jelas Pak Guru, "Sekarang ada Rakel yang mau ya sudah Bapak terima, Jenna sendiri kenapa mau Kailin yang maju?"
Ada jeda sebentar sebelum Jenna kembali bersuara, "Saya jadi meragukan ketegasan Bapak sebagai Guru."
"Pa–Pak, saya...bersedia untuk maju."
.
.
.
.Hari ini Qian memutuskan untuk mengambil cuti, pagi tadi ia merasakan panas yang menjalar diseluruh tubuh nya dan kepala nya sedikit pusing entah kenapa, apa akhir-akhir ini ia kebanyakan begadang? Apa jam tidur nya seberantakan itu?
Ia tak pergi ke rumah sakit, ia hanya meminum beberapa tablet Paracetamol dan Painkiller, Qian tipe orang yang tak akan pergi ke rumah sakit jika tak terlalu terdesak dan ia lebih suka berbaring diatas ranjang seharian saat merasa tubuh nya tak dalam kondisi yang prima.
Mata nya melirik ke samping dimana meja kerja nya berada, diatas nya ada banyak sekali kertas-kertas berserakan. Qian menghela napas lelah, dalam pikiran nya mengapa ia bisa sakit? Padahal dalam tiga bulan ini harus ada rancangan gedung besar yang dibangun diatas tanah, client kali ini adalah yang terburuk—meminta Qian untuk menyelesaikan perancangan gedung besar dalam waktu sesingkat mungkin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Makan Malam Bersama Ayah
RandomIni bukan tentang makan malam, ini juga bukan tentang apa yang dimakan. Tapi, ini tentang rasa yang belum pernah terungkapkan dan tak bisa diungkapkan antara dua insan yang terhalang oleh ego mereka sendiri. Rasa gengsi, canggung, benci, sayang dan...