Chapter 20

13 0 0
                                    

Author's POV

"Ah!?....eumhh..."

Jenna menutup wajah nya dengan bantal ketika rona merah menjalar dikedua pipi hingga telinga, napas nya tersedendat. Matanya melirik ke arah koran 90an yang tergeletak didepan nya yang menjadi alasan kondisinya sekarang.

"Jadi warna asli rambutnya blonde, ya..."  perlahan seringai diwajah nya muncul, ia melempar bantal itu ke arah tembok dan tertawa terkikik, "Ahh! Jadi makin suka..." jika Jenna sekarang ada didalam siaran anime Jepang, mungkin tanda hati akan muncul dikedua mata nya.

"I love you...i love you, Johan my baby...hihihi..."

"Dari mana kamu dapet ini?" Jenna menoleh ke arah seseorang yang kini sedang bersimpuh pada nya dilantai.

"Toko antik, Nona. Itu koran cetakan pertama dan terakhir yang berisi berita tentang Gladiator termuda pada masa itu."

Kalimat diatas diutarakan oleh seorang pria yang sudah puluhan tahun bekerja dengan keluarga Jenna, sederhana nya adalah dia itu 'kepala pelayan' yang bisa mengerjakan hampir semua urusan keluarga politik itu.

"Oke, kamu boleh keluar." Titah Jenna yang langsung dilaksanakan oleh si pelayan.

Kini hanya menyisakan Jenna sendiri didalam kamar besar itu, meraih koran usang yang baru didapatkan nya dengan pandangan puas. Mata nya terpaku pada foto yang ditangkap seorang Jurnalis yang tertera disana.

Foto seorang pemuda dengan warna rambut pirang serta senyum kemenangan sembari tangan nya menjulang ke udara menggenggam sebuah anak panah — dibelakang nya terdapat banyak sekali manusia-manusia yang bisa ditebak adalah penonton dalam 'aksi' tersebut.

KEMENANGAN GLADIATOR TERMUDA

Diatas adalah headline dari sebuah berita yang disuguhkan pada lembar koran tersebut, membuat antusiasme Jenna meningkat, mata nya bergulir untuk membaca isi dari berita itu.

Johan, seorang pemuda berusia 14 tahun berhasil menjadi Gladiator termuda yang meraih kemenangan melawan Narapidana hukuman mati. Ia membawa pulang sejumlah uang dari para Gambler yang kalah bertaruh, "Hm? Narapidana? Saya kira bayi baru lahir."

Jenna mengambil sebuah bingkai foto yang tergeletak diatas nakas, memasang satu lembar koran tersebut kedalam bingkai itu dan memajangnya didinding.

"Pokoknya, kamu nggak bisa lepas dari aku, Johan." Ia berjalan ke arah lemari besar yang terletak disamping ranjang nya, membuka tempat penyimpanan itu dan menunjukan banyak baju yang kemarin ia beli.

Meraih sebuah wig yang tergantung disela-sela pakaian dan memakainya, Jenna tersenyum puas ketika melihat pantulan diri nya dengan wig yang terpasang dikepala. "Oke, udah mirip Kak Leah..."

Whatever your type
Baby if thats what you like
I'll do it~~~~

.
.
.
.
.

"Pulang nya, kapan? Kamu nggak berniat kabur, kan? Disana nggak lama, kan?"

Noah menghela napas kecil dan mentap lelaki dihadapan nya yang barusan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada nya, didalam hati ia berkata 'Pantes aja Rakel kudu pamit waktu itu.'

Tangan nya melempar kulit kacang ke kepala Kai yang sedang menunduk, "Hari pertama masuk sekolah juga gua udah disini lagi." Ujar nya menjawab semua pertanyaan diatas.

Hari masuk sekolah setelah libur panjang adalah sepuluh hari dari sekarang, Kai mengangguk kecil dan membalas tatapan dead eyes dari Noah. "Oke."

Makan Malam Bersama AyahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang