Author's POV
Waktu berjalan begitu saja, tak terasa tahun pertama Kai bersekolah disini hampir selesai. Minggu depan ujian kenaikan akan segera dimulai, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih nilai tertinggi.
Jika tak ada bisa Kai lakukan, maka setidaknya ia tak membuat ayah nya kecewa. Tapi sebenarnya, Kai merasa tak peduli akan tanggapan sang ayah terhadap nilai akademik nya. Mau berapapun nilai yang Kai raih, Johan selalu berkata bahwa Kai sudah bekerja keras.
Ayah yang baik, tak menuntut apapun pada anak nya. Berberda dengan beberapa orang tua yang ada dinegeri ini dimana seorang anak harus memikul ekspektasi orang tua nya, menekan diri agar tak terlihat mengecewakan dan mengucilkan diri jika 'gagal'.
Namun Kai tak suka pada sikap ayah nya yang seperti itu, sulit untuk dibilang dengan kata-kata halus dan formal, Kai menganggap bahwa ayah nya 'bodoh' dan tak berpendidikan. Kai berpikir pula dengan ayah nya membebaskan nya dan tak memberikan sedikit tekanan, ayah nya secara tak langsung membiarkan Kai jatuh kedalam 'kebodohan' dan 'kegagalan'.
Prriitt!!!
Suara pluit yang ditiup memudarkan lamunan Kai, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali guna mengumpulkan kesadarannya yang beberapa waktu melalang buana.
Apa pelajaran olahraga nya sudah selesai? Jika begitu syukurlah, Kai sangat merasa tak nyaman dengan keringat yang membanjiri tubuhnya karena terika matahari.
"STOP!!! JANGAN BERKELAHI!!!"
Kai tersentak mendengar teriakan Pak Guru yang lantang, matanya kini tertuju pada lapangan dimana ada beberapa anak kelasnya yang berkerumun. Kai yang sedari tadi melamun tak sadar ada keributan yang terjadi.
Menghela napas malas, Kai memutarkan bola matanya bosan. Sebentar lagi ujian akan dilaksanakan, apa tak bisa menunda perkelahian barang sebentar? Mereka berkerumun seperti semut melihat perkelahian itu, itu hanya perkelahian anak SMP kan? Bukan nya pertunjukan sirkus, Kai menagatap pemandangan didepan nya tanpa minat.
Beberapa anak perempuan menyingkir ke pinggir lapangan, sisinya tetap dilapangan untuk merekam kerusuhan yang terjadi.
Kai berdecak kecil, dalam hati berkata 'Kalau ada orang sekarat juga kayaknya bakalan direkam dulu, baru ditolong kalau udah mati.'
"LEPASIN LEHER TEMEN KAMU, NOAH!!"
"Ah?" Kai tertawa kecil setelah mendengar teriakan nama orang yang sangat ia kenal, "Dia kenapa lagi sih?"
"Tolongin tuh, kamu kan inang nya."
Tiba-tiba suara wanita terdengar, Kai menoleh kesamping dan mendapatkan Jenna yang kini berdiri menatap nya rendah."Setelah lintah kamu sekarang ngatain dia parasit?" Kai bangun dari duduk nya dan balas menatap Jenna dengan tatapan bosan.
Jenna menutup mulutnya dengan satu telapak tangan nya, "Jadi kamu nyadar kalau Noah itu parasit? Ujar nya dengan nada meledek.
Kai lagi-lagi menghela napas nya, maaf saja tapi sepertinya Kai tak akan terprovokasi oleh kalimat-kalimat Jenna. "Dia bukan parasit, tapi manusia."
"Kai, aku sebenarnya kagum sama kamu." Jenna mendekatkan dirinya pada Kai dan berbisik ke telinga lelaki itu, "Kamu bisa memperbudak orang lain dengan gampang, dulu Rakel sekarang Noah."
Tubuh Noah seketika membeku mendengar bisikan Jenna, ia tak tahu masalah apa yang ia telah perbuat hingga gadis ini terlihat begitu membencinya. "Jenna, aku bukan pemeran utama novel yang selalu baik. Aku harap kamu nggak ngomong hal yang menyakitkan lagi."
.
.
.
."A lot of paper, eh?"
Tangan yang sedari tadi sibuk menggoreskan pensil ke atas permukaan kertas putih itu kini terhenti sejenak, "Hm." Jawab nya singkat membuat wanita yang kini berdiri disampingnya tertawa kecil.

KAMU SEDANG MEMBACA
Makan Malam Bersama Ayah
RandomIni bukan tentang makan malam, ini juga bukan tentang apa yang dimakan. Tapi, ini tentang rasa yang belum pernah terungkapkan dan tak bisa diungkapkan antara dua insan yang terhalang oleh ego mereka sendiri. Rasa gengsi, canggung, benci, sayang dan...