Author's POV
Waktu berjalan cepat sampai dimana Kai menyelesaikan ujian nya dan libur sekolah telah ditentukan. Ia masih tak percaya apa yang telah terjadi dalam satu minggu ini, ia merasa hidup nya sedikit lebih baik.
Tidak ada lagi pria menyeramkan yang menunggu nya pulang sekolah.
Ia kerap memerhatikan Johan akhir-akhir ini yang bersikap biasa saja, hal itu sudah menunjukan bahwa Johan bukan lah pelaku semua ini, atau bisa dibilang ayah nya tak tahu apa-apa — hal itu membuatnya sedikit lega.
Namun pertanyaan besar masih ada dibenak nya, siapa yang telah melakukan ini?
Qian? Ia hanya bercerita hal itu pada Qian, namun ia tak yakin bahwa pria terhormat seperti itu mau melakukan hal menjijikan dan tak bermoral.
Ia terus bertanya-tanya.
"Gukk gukk!"
Lamunan nya pudar ketika anjing peliharaan nya mendekat, "Kelly? Mau makan?" Tanya Kai sembari mengelus kepala anjing itu.
"Guk!"
"Oke, hari ini jam makan kamu aku majuin." Kai berjalan ke dapur untuk mengisi mangkuk makanan Kelly hingga penuh.
Kai mendengar bahwa polisi mengamankan pria itu setelah Qian melapor lewat panggilan, ia tak menyangka polisi yang meringkus pria itu adalah polisi yang sama saat ia melapor.
Apa polisi itu bergerak karena Qian adalah orang dewasa?
Ah, Kai rasanya tak ingin memikirkan pria itu lagi.
Tok...tok...tok...
Kai menoleh ke arah pintu utama ketika mendengar ketukan dari sana, bangun dari duduk nya untuk segera membuka pintu.
Ceklek...
"Halo!"
"Hai....?" Kai sedikit terbata ketika melihat orang yang mendatangi nya pada siang hari yang panas ini.
Noah.
Mengangkat kresek yang ada ditangan nya ke hadapan Kai dan tersenyum kecil, Noah berkata. "Mau minum kola bareng?"
.
.
.
.
."Ditemukan 2 buah pensil, 3 buah paku dan 1 potong kue kering yang ada didalam anus tersangka."
"Tersangka mengakui telah melakukan pelecehan seksual pada remaja berusia 17 tahun."
"Rambut kemaluan tersangka pun hangus terbakar."
"Tersangka tak ingin mengatakan siapa yang melakukan penyiksaan ini semua pada nya."
Qian mengusap wajah nya kasar ketika ingatan itu terbesit kembali, satu minggu yang sangat gila. Polisi bodoh yang sebelumnya menolak laporan nya telah mengintrogasi pria itu dan memberikan nya hasil dari introgasi dan pemeriksaan tersebut.
"Hah..." Qian menghela napas berat, dia membenarkan letak kaca mata diwajah nya yang bergeser turun. Ia merasa isi perut nya akan muntah ketika terbayang-bayang keadaan pria itu saat ditemukan didepan rumah Johan.
"Kapan terakhir kali kamu tidur?"
"Nggak tau."
Olivia menatap kertas-kertas yang berserakan diatas meja dan dikotak sampah, sudah beberapa minggu ia tak menjenguk Qian dan kini sahabat kecil nya itu terlihat sangat buruk.
Mata nya melirik ruas jari Qian yang membengkak yang ia yakini adalah karena pria itu terlalu lama memegang alat tulis.
"Aku liat gedung yang baru selesai diselatan kota, itu rancangan kamu kan?" Olivia berjalan mendekat ke arah Qian yang duduk terfokus pada pekerjaan nya, "Bagus, sepadan sama kerja keras kamu selama ini."

KAMU SEDANG MEMBACA
Makan Malam Bersama Ayah
RandomIni bukan tentang makan malam, ini juga bukan tentang apa yang dimakan. Tapi, ini tentang rasa yang belum pernah terungkapkan dan tak bisa diungkapkan antara dua insan yang terhalang oleh ego mereka sendiri. Rasa gengsi, canggung, benci, sayang dan...