Chapter 8

22 3 0
                                    

Author's POV

Dihari minggu pagi yang cerah ini, ada Rakel yang sejak dua jam lalu berdiri didepan sebuah makan dengan kepala tertunduk. Ia memanfaatkan hari libur nya untuk berkunjung ke makam saudarinya seorang diri tanpa ditemani siapapun. Terkadang ia kemari bersama Kai atau Ibu dan Ayah nya, namun saat ini ia pikir seorang diri akan lebih baik.

Ia tak mau bergantung pada orang lain dan membiarkan mereka melihatnya menangis, setelah Johan mengatakan bahwa ia sangat lemah, Rakel terus merenung. Ia sadar bahwa Johan benar ada nya, semua orang pasti pernah merasa kehilangan.

Setelah ia merasakan kebas dikedua kaki nya, Rakel pun duduk bersila dihadapan batu nisan bertuliskan 'Rest In Peace' diatas nama saudarinya bertengger. Melirik jam tangan nya yang menunjukan pukul 9, sedari tadi Rakel tak membuka mulutnya, bahkan untuk mengucapkan doa pun tidak.

Ia hanya menatap batu nisan itu dengan tatapan sendu, memasukan kedua tangan nya kedalam saku jaket—Rakel memejamkan matanya beberapa detik ketika angin berhembus menyapu surai hitam nya.

Rakel berdehem kecil, "Gua udah nggak suka salmon goreng. Kalau lu mau, lu bisa makan semua nya."

Kalimat itu keluar begitu saja dan dibalas dengan keheningan. Rakel menenggakkan kepalanya dan menatap langit yang entah mengapa hari ini sangat cerah, suara burung kini terdengar dari beberapa penjuru. Air mata yang semula ingin keluar kini masuk kembali, Rakel tak akan membiarkan air mata nya mengotori makam Fara.

Fahara Gallan, nama yang tertulis diatas batu nisan tersebut.

"Kalau gua minta maaf, apa maaf gua berguna buat lu?" Tanpa mengalihkan pandangan nya dari langit, Rakel berbicara seakan-akan sedang menatap lawan bicara nya, "Ah, gua kebanyakan ngomong ya..."

Lime menit setelahnya Rakel sudah berada diluar area pemakaman, ia tak mau lebih lama duduk disana karena berpotensi membuatnya berbicara hal-hal diluar kendali. Maaf? Bodoh saja, Rakel menggelengkan kepala nya karena berpikir mana mungkin bisa memaafkan seseorang yang telah menghilangkan nyawa nya?

Ia duduk dihalte bus dan mengeluarkan gawai nya dari saku, menyalakan benda persegi itu dan menekan satu bait nomor yang tertera dilayar. Rakel berniat untuk menelpon seseorang, didering ke tiga terdengar suara laki-laki memanggil nama nya.

Rakel buru-buru menempelkan ponsel tersebut ke telinga, "Dimana?"

"Airport, lu nggak mau jemput gua?"

"Tunggu bentar." Rakel langsung memutuskan panggilan nya sepihak ketika melihat bus yang berhenti dihadapan nya.

.
.
.
.

Olivia adalah sahabat Qian dari sejak SMA, mereka bertemu karena kedua orang tua mereka bersahabat, namun karena sebelumnya Olivia tinggal diluar kota menjadikan pertemuan pertama mereka disaat mereka berdua remaja. Qian sendiri senang memiliki sahabat seperti Olivia, perempuan dengan sifat yang ceria dan mempu membangun suasana.

Selain itu, Olivia juga sangat baik hati dan mau membantu Qian disaat laki-laki itu kesusahan, walau dibarengi dengan gerutu. Kedekatan mereka membuat banyak orang salah paham, hampir semua orang yang mereka temui menganggap bahwa Qian dan Olivia adalah sepasang kekasih.

"Chase Atlantic atau Arctic Monkeys?"

"The Weeknd."

Plak!

Qian tertawa kecil ketika Olivia memukul punggungnya. "Gua nawarin nya apa, lu jawab apa," siang ini mereka sedang duduk berdua menikmati minuman yang mereka pesan disalah satu cafe. Qian dengan segelas kopi dan Olivia yang kini memesan banyak sekali makanan manis.

Makan Malam Bersama AyahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang