Bel pulang berbunyi nyaring, terdengar dengan jelas di seluruh penjuru sekolah.
Para murid berbondong bondong keluar dari kelas. Beberapa dari mereka ad ayang nongkrong terlebih dahulu sebelum pulang, ad ayang langsung pulang ke rumah, ada juga yang masih menetap di sekolah.
Loka saat ini sudah berada di parkiran. Di sebelah motor besar Meva yang sempat ia naiki tadi pagi. Ternyata tidak semenyeramkan itu, malah terkesan menyenangkan ketika angin pagi menerpa wajah Loka. Benar, mereka tidak terlalu terjebak macet.
Dan sekarang Loka sedang menunggu Meva keluar dari kelasnya. Loka ingin beristirahat dan ingin cek kembali laporan yang ia bawa sekarang. Jujur, ia belum sempat membacanya secara keseluruhan.
Loka memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Angin dingin berhembus sehingga menimbulkan kesan remang di kulit Lova. Loka mencari kehangatan.
Ekspresi triplek masih menempel apik di wajah Loka bahkan Ketika ia melihat kedatang Meva bersama teman temannya dari jauh.
Meva itu selalu peka, bahkan seperti saat ini. Sebelum benar benar tiba di hadapan Loka, remaja itu merogoh tasnya dan mengeluarkan jaket hitam yang sepertinya itu milik Remaja itu sendiri. Tiba di hadapan Loka, meva langsung menyampirkan jaket itu di atas pundak adiknya.
"Sedingin itu?" Tanya Meva. Loka mengangguk, ia mendongak melihat langit yang di tutupi awan gelap.
"Padahal tadi tidak ada pertanda hujan." Gumam Loka.
"Cuaca dengan cepat berubah." Lanjut Meva. Ia sudah menaiki motornya dan juga telah menaiki Loka ke atas motornya. Hampir melupakan kehadiran teman temannya yang hanya diam layaknya pajangan.
Jaket milik Meva sudah terpasang dengan baik di tubuh Lova, bukan hanya sebuah sampiran di bahu lagi.
Loka melirik salah satu teman Meva. Pemuda yang memiliki tatapan yang familiar. Sikap yang juga familiar.
"Duluan." Pamit Meva dengan kepala yang telah di tutupi oleh helm full face. Begitupun dengan loka.
"Oke."
"Hm."
"Siap, jangan lupa nanti malam."
Meva hanya mengangguk dan melajukan motor besarnya. Ia melihat darimana asalnya awan gelap. Ia bersyukur ketika arah ke rumahnya tidak terlalu gelap. Kemungkinan di sana belum hujan. Meva menaikkan kecepatannya sedikit, dia menarik tangan Loka agar memeluknya dengan erat. Menahan tangan itu di perutnya.
Loka hanya diam, dia tau Meva akan menaikkan kecepatan. Melihat cuaca, pasti meva takut mereka kehujanan.
—————————
Dua remaja dengan tinggi tubuh yang jauh berbeda berdiri di depan pintu rumah dengan tubuh basah kuyup. Mereka berdua saling melirik dan kemudian kembali melirik pintu.
"Pfft—"
Meva menoleh mendengar tawa tertahan Loka.
"Kenapa?" Ia sedikit meninggikan suara takut Loka tidak mendengarnya di derasnya suara hujan yang menghantam genteng rumah orang orang.
Namun gelengan kepala Loka membuat Meva bingung.
Tak lama pintu terbuka, menampilkan ekspresi Gela yang terkejut. Wanita itu langsung menyuruh kedua putranya masuk dan menyuruh mereka untuk berganti pakaian. Mereka berdua menuju kamar masing masing.
Ckelk
Kaki jenjang berwarna putih susu melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan Kaos lengan pendek dan celana selutut melekat di tubuhnya. Handuk juga masih bertengger di atas rambut Loka yang masih basah.
KAMU SEDANG MEMBACA
/Loka, Transmigrasi?\
Teen FictionBUKAN BL 🚫 BUKAN BL ↑ BUKAN BL ↑ BUKAAANNNNNN!!!!!!!!! "brengsek!" desis Loka. tubuhnya yang berada di ranjang rumah sakit juga adanya infus di tangan kanannya membuatnya sakit kepala memikirkan nasibnya. Loka Glaniard Vuble, pria duda dengan iden...
