Bab 13

811 118 5
                                        

Masih di bawahnya guyuran hujan, mulut berisik orang orang memekakkan telinga Kevan.

Atau mungkin Hatinya merasa teremas?

Ingin menangis, tapi ia lelah.

Loka yang ia kenal entah kenapa seketika berubah. Tidak ia sangka di hari yang menurutnya baik ini ia malah hari buruknya.

Ia menunduk dalam menatap genangan air yang di hantam rintik hujan. Telinganya menangkap semua kata kata merusak hatinya dari mulut Loka. Tak hanya itu, mungkin pikirannya sekarang merekam segalanya? Ia memang tidak melihat raut wajah Loka, namun dapat ia bayangkan bagaimana, ia juga bisa membayangkan tatapan dua orang lainnya yang menuntut.

Apa saatnya untuk pergi?

"JANGAN MENGACAU DI SINI!"

"BRENGSEK! K-KEADAAN MEREKA—BAHKAN AKU BELUM MELIHATNYA TAPI ANDA MEMPERLAMBAT!"

Loka akhirnya selesai membentak, ia bergetar, hatinya semakin gundah walau emosinya terlepas. Apalagi yang salah?

Mengabaikan sosok di hadapannya yang hanya menunduk terdiam, tanpa kata kata dan balasan lagi, ia menunduk dalam.

Menarik lengan Kevan dan membawanya masuk ke dalam setelah meminta maaf kepada dua orang tadi.

Lagi lagi Kevan merasakan tak ada kelembutan atau kehangatan. Apa yang ia harapkan di kondisi ini?

Namun secepat mungkin ia tersadar, rumah sakit? Untuk apa—?

Ia melihat sekitar, pandangan redupnya menelisik. Bau obat obatan yang tak ia suka menguar memasuki Indra penciumannya.

Ia ingin bertanya kepada lelaki yang tengah menariknya namun hatinya bimbang, takut yang ia dapatkan malah bentakan dan bukannya jawaban.

Dengan penekanan ia akhirnya hanya memilih untuk diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Bahkan ketika Loka menanyakan tentang korban kecelakaan yang Kevan tidak tau kecelakaan apa namun pertanyaan selalu bersarang di pikiran.

Sampai ia di tarik dan berhenti di depan ruangan rumah sakit Kevan memberanikan diri, menarik tangannya dengan kasar dan menatap penuh tuntutan Loka yang menatapnya nyalang.

Lagi? Apa salahnya kali ini?

Tampak loka akan berbicara jika saja tidak ada seorang dokter yang keluar dari sana kemungkinan bentakan akan kembali Kevan dapatkan.

Lelaki itu langsung berbalik dengan cekatan berjalan menuju sang dokter dan bertanya akan kondisi seseorang di dalam. Lelaki itu juga memastikan jika pasien yang kondisinya ingin ia tanyai itu adalah Hazel.

"Papa?! Papa kenapa?!" Itulah pertanyaan yang lolos dari bibir Kevan ketika mendengar nama Hazel keluar dari mulut Loka juga beberapa pembicaraan dengan sang dokter.

------------------------

Guntur menggelegar, kilat menyambar meninggalkan jejak kilaunya di langit. Saat ini, Meva terdiam di depan televisi besar, tidak menyala yang berarti hanya menampilkan layar hitam kelamnya. Di sana terpantul samar dengan kegelapan sosok Meva.

Mata bengkak kentara sehabis bangun dari tidurnya. Meva tengah menggenggam ponsel dengan raut tak mengerti sekaligus khawatir.

Hari hujan dengan lebat, perasaannya tak enak. Bahkan antara Kevan maupun Lova tidak membalas pesan atau panggilannya barang sedikitpun. Ia di tinggal sendirian yang mana perasaan cemasnya semakin membuncah.

Ia tertidur, memang.. dan terbangun ketika suara guntur begitu keras bahkan terasa mengguncang bumi ini. Meva tidak takut, tapi hanya gelisah mendiami batinnya.

/Loka, Transmigrasi?\ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang