tujuh

156 34 2
                                        

Bandung, Januari 2015

Aryan melepaskan tangannya dari lengan Rahayu karena kilatan cahaya dari flash kamera mengganggu penglihatannya, wartawan yang hendak meninggalkan ballroom setelah selesai mewawancarai Mr. Ederick tiba-tiba saja berkumpul mengerubungi Aryan dan Rahayu yang berada di tengah ballroom.

Ckrek

Ckrek

Ckrek

Kamera tidak berhenti mengambil gambar mereka berdua.

"Aryan manggungnya ditemenin sama Rahayu?"

"Aryan ada hubungan apa sebenarnya dengan Rahayu?"

"Aryan kenapa terus ditutupi?"

"Aryan..."

"Aryan..."

Suara wartawan yang terus mengajukan pertanyaan kepada Aryan terdengar seperti dengungan di telinga Rahayu, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak ia tidak bisa bernafas dengan benar.

Melihat wajah Rahayu yang mulai pucat Aryan menarik Rahayu ke dalam pelukannya, ia menutup wajah Rahayu dengan tangannya lalu segera membawanya menuju belakang panggung.

Pak Bowo yang melihat serangan wartawan memberikan arahan kepada orang-orang yang sedang membereskan peralatan musik di atas panggung untuk menghalangi para wartawan agar tidak mengikuti Aryan ke belakang panggung.

Matanya mencari-cari pihak penyelenggara acara yang ia kenal, begitu Pak Bowo menemukan orang yang dimaksud ia segera menghampirinya meminta bantuan agar petugas keamanan hotel bisa dikerahkan untuk meminta wartawan keluar dari ballroom.

Pak Bowo merutuki kecerobohannya, kenapa ia tidak terpikirkan sama sekali mengenai kehadiran wartawan. Meskipun mereka adalah wartawan yang menggeluti bisnis dan ekonomi namun melihat Aryan dan seorang perempuan tentu saja itu adalah mangsa empuk yang sulit untuk tidak dikejar. Membayangkan masalah yang sudah terkubur akan kembali mencuat membuat kepalanya berdenyut.

Di belakang panggung terdapat ruangan yang cukup besar untuk berganti pakaian, Asta Hotel memang sengaja menyiapkan ruangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang menyewa ballroom mereka. Yang bagusnya lagi ada lorong lift khusus yang langsung menghubungkan lantai tersebut dengan basement, sehingga memudahkan pengisi acara untuk keluar dan masuk ke dalam ballroom tanpa perlu melewati lobi hotel.

Aryan terus membawa Rahayu hingga ke arah lift ia tidak perduli dengan panggilan teman-temannya yang baru saja keluar dari ruang ganti.

Rahayu menghentikan langkahnya, ia melepaskan dengan paksa tangan aryan yang menggenggam tangan kanannya matanya menatap Aryan penuh amarah.

"Kamu ngapain sih tadi pake nyamperin aku segala?" Rahayu berbicara dengan pelan mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.

"Seharusnya kamu langsung balik ke belakang panggung kalo perlu kamu langsung pergi dari hotel ini." Tambahnya seraya menunjuk dada Aryan.

"Kamu mungkin ngerasa biasa aja di kejar wartawan kayak gitu, tapi aku enggak. Kamu tahu gak betapa menderitanya aku waktu ada foto kita di The Pallas sama di Cirebon?" Rahayu menatap Aryan begitu tajam.

"Mereka itu sangat amat mengganggu hidup aku  juga keluarga aku. Berbulan-bulan aku susah keluar dari rumah, susah buat pergi ke kantor, pergerakan aku terbatas karena mereka!" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Rahayu membuat dadanya terasa sesak.

"Satu bulan terakhir ini hidup aku tenang karena berita konyol soal kita tenggelam, dan sekarang kamu bikin keadaan jadi kacau lagi Aryan!"

Aryan terpaku melihat air mata keluar dari sudut mata Rahayu.

KETIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang